Dark Desires Mr. Possessive

Dark Desires Mr. Possessive
Menemani Makan Malam


__ADS_3

Saat Ayana keluar dari kamarnya dan akan membuat makanan untuk Carlos, suasana di dalam apartment tersebut telah sangat sepi, Dalia telah tidur dan Sam juga Abby sedang tidak ada di sana.


 


Sebenarnya, ini adalah kesempatan yang bagus untuk Ayana apabila dia mau melarikan diri, tapi seperti apa yang Juan katakan, kalau dirinya tidak memiliki rencana yang matang, maka hidup Ayana hanya akan menjadi lebih sengsara daripada ini.


 


Memang mudah untuk melarikan diri sekarang, tapi apa yang akan Ayana lakukan nantinya? Kemana dia akan pergi? Ayana bahkan tidak memiliki uang sepeserpun untuk menyokong hidupnya nanti.


 


Seandainya dia nekat dan pergi dari tempat ini sekarang juga, Ayana hanya akan berakhir di jalan. Dan kehidupan di jalan di kota T ini, bukanlah pilihan yang tepat untuk seseorang seperti Ayana. Setidaknya di sini dia hanya harus menghadapi Carlos yang terkadang sulit dimengerti, tapi di luar sana… Ayana tidak tahu apa yang akan dia hadapi.


 


Dengan pemikiran seperti itu, Ayana mulai memeriksa persediaan makanan dan mendapati kalau Dalia sepertinya belum berbelanja, sehingga tidak banyak bahan makanan di sana.


 


Maka dari itu, berbekal bahan seadanya, Ayana mencoba memasak sepiring bihun goreng lengkap dengan beberapa potong daging yang bisa dia temukan.


 


Ayana sedikit banyak mempelajari kalau Carlos tidak begitu suka makanan pedas.


 


Selama kurang lebih dua puluh menit, Ayana habiskan di dapur dan setelah semuanya telah selesai dibuat, Ayana meletakkan bihun goreng tersebut ke atas piring dan menuangkan orange juice ke dalam gelas.


 


Ayana lalu mengambil nampan dan menggunakannya untuk membawa makanan- makanan tersebut menuju kamar Carlos.


 


Tapi, sepanjang perjalanan ke sana, hati Ayana berdegup sangat kencang dan berbagai pikiran buruk menyeruak di kepalanya.


 


Bagaimana kalau Carlos tidak menyukai apa yang Ayana buat? Bagaimana kalau Carlos justru marah karena Ayana telah mengganggunya? Dan dia mulai bersikap kasar lagi padanya? Apa tidak sebaiknya Ayana kembali saja ke dalam kamarnya dan melupakan ide bodoh ini?


 


Maka dari itu, Ayana menghabiskan waktu kurang lebih lima menit, hanya berdiri di depan pintu kamar Carlos, tanpa berani mengetuknya ataupun memanggilnya.


 


Bagaimana kalau dia sudah tidur?


 


Segela pikiran dan pertanyaan serta rasa takut, berkecamuk di benak Ayana. Ayana tidak mau hari yang berakhir cukup baik ini, justru berubah menjadi hari yang berakhir buruk baginya.


 


Karena gadis itu terlalu tenggelam dalam pikirannya sendiri, Ayana tidak menyadari kalau Dalia tengah memperhatikannya.


 

__ADS_1


Dalia terbangun karena suara yang Ayana timbulkan saat dia memasak di dapur, maka dari itu dia memeriksa ke sana dan menemukan gadis itu tengah fokus memasak sesuatu.


 


Pada awalnya, Dalia bertanya- tanya; untuk apa Ayana memasak makanan, kalau dia baru saja pulang dari makan malam dengan Carlos.


 


Namun, sekarang Dalia menyadarinya kalau Ayana tengah memasak untuk pria tersebut. Sepertinya, gadis muda ini telah belajar sesuatu…


 


“Lakukan saja,” ucap Dalia, yang kemudian berjalan mendekati Ayana.


 


Ayana sedikit terkejut ketika dia mendengar suara Dalia dan segera membalik badannya, beruntungnya makanan di atas nampan yang tengah dia pegang tidak jatuh.


 


“Ibu Dalia,” ucap Ayana terkesiap.


 


“Dalia saja,” tegurnya, lalu dia menatap makanan di atas nampan. “Kenapa kau tidak segera mengetuk pintunya? Makanan ini akan menjadi tidak enak kalau dingin.”


 


“Ah… ini,” Ayana berkata dengan ragu. “Aku tidak yakin kalau Carlos akan makan… mungkin dia sudah tidur, nanti aku justru mengganggu…”


 


Ayana bergidik ngeri membayangkan kalau Carlos sampai merasa terganggu dan memperlakukannya dengan buruk lagi.


 


 


Dalia mengetahui betul seperti apa sifat Carlos. Dia akan lebih memilih untuk makan, makanan rumahan daripada makan di luar sana.


 


Sam selalu berkata kalau Carlos terlalu paranoid ada seseorang yang akan memasukkan sesuatu ke makanan atau minumannya maka dari itu dia sebisa mungkin tidak memasukkan sesuatu ke mulutnya kalau orang lain, yang tidak dia kenal, telah menyentuhnya lebih dulu.


 


“Iya,” jawab Ayana pelan.


 


“Kalau begitu masuklah, kau sudah membuatnya, kan?” Dalia membujuk Ayana, tapi gadis itu masih ragu, dia kembali memalingkan wajahnya ke arah pintu kamar Carlos yang tertutup dan menggigit bibirnya dengan cemas.


 


“Tidak apa- apa,” Dalia kembali mendorongnya. “Ketuk pintunya.”


 


Dan ketika Ayana tidak kunjung bergerak dan terlihat semakin ragu, Dalia hilang kesabaran dan mengetuk pintu Carlos.

__ADS_1


 


Ayana tidak menyangka Dalia akan melakukan hal itu dan dirinya menjadi semakin terkejut ketika dia mendengar suara dari dalam. Carlos sedang berjalan ke arah pintu.


 


“Dalia,” Ayana meringis. Ingin rasanya dia berteriak histeris, tapi tidak berani.


 


“Sudah, sekarang berikan makanan itu,” Dalia berkata pada Ayana dan segera pergi dari sana sebelum Carlos membuka pintu kamarnya.


 


Ayana berdiri kaku dan bingung harus melakukan apa. Dia ingin kabur, tapi kakinya tidak mau diajak berkompromi dan justru terpaku di sana, tidak bergerak.


 


Suara pintu yang terbuka membuat jantungnya hampir berhenti, terutama ketika dia melihat wajah Carlos yang berkerut dan suaranya yang serak. Sepertinya dia tengah mencoba untuk tidur.


 


“Mau apa?” tanya Carlos dengan nada yang kasar, kemudian matanya menatap makanan di atas nampan yang Ayana bawa.


 


“Aku… aku…” Ayana tergagap, dia berdehem untuk menghilangkan rasa gugupnya sebelum dia kembali bicara. “Aku membawakan makanan ini untukmu,” ucap Ayana, lalu dia buru- buru menambahkan. “Aku lihat kau sama sekali tidak makan semalam, jadi aku membuatkan ini untukmu… karena tidak ada bahan makanan yang cukup, jadi…”


 


Penjelasan panjang lebar Ayana, yang membuat Carlos sakit kepala, segera dipotong saat pria itu membuka pintu kamarnya lebih lebar lagi.


 


“Masuk,” ucapnya, kemudian dia melangkah masuk ke dalam kamar.


 


“Ah, tidak… aku hanya akan mengantarkan ini,” Ayana segera menolak. Tapi, Carlos justru menatapnya dengan tatapan mata yang tajam.


 


“Aku menemanimu makan, maka kau juga harus menemaniku makan,” ucap Carlos dengan nada yang tegas.


 


Ayana tahu ekspresi itu. Itu adalah ekspresi dimana Carlos sama sekali tidak mau dibantah.


 


Tidak punya pilihan lain, Ayana kemudian melangkah masuk ke dalam kamar. Ini merupakan kali ketiga Ayana berada di sini. Maka dari itu dia cukup mengenal tata letak kamar mewah milik pria itu.


 


Ayana segera berjalan ke arah meja bundar dengan single sofa di dekat jendela dan meletakkan makanan Carlos di atasnya.


 


Setelah Ayana meletakkan makanan tersebut, dia kembali terkesiap ketika dirinya merasakan tangan Carlos yang memeluknya dari belakang.

__ADS_1


 


“Carlos,” ucap Ayana. Tubuhnya langsung menegang ketika pria itu merambati setiap inci tubuhnya dengan perlahan. “Jangan…”


__ADS_2