
Dalia berdiri di depan kamar Carlos sambil membawa semangkuk sup panas yang akan dia berikan untuk Ayana, karena sejak kemarin gadis itu sama sekali belum makan apapun dan Carlos pun tidak mengizinkan siapapun masuk ke dalam kamar tanpa ada izin darinya.
Suasana di apartment ini begitu menegangkan selepas pertengkaran Carlos dan Juan.
Carlos pun terlihat lebih mudah marah dari biasanya setelah kejadian tersebut. Seolah, satu kata salah yang dia dengar, dirinya dapat meledak seperti sebuah bom waktu.
"Kau tidak bisa masuk ke sana Dalia," tegur Sam ketika dia mendapati wanita paruh baya itu tengah menatap pintu kamar Carlos yang tertutup dengan ekspresi wajah yang khawatir.
"Tapi, Carlos sedang tidak berada di rumah," Dalia membantah.
"Tapi, kau tahu aturannya," Sam berkata lagi, mengingatkan. "Carlos sedang dalam suasana hati yang tidak baik, kalau dia sampai tahu kau melakukan ini, maka aku tidak yakin kalau dia akan cukup berbaik hati untuk memaafkanmu," ucap Sam. Dia menatap pintu kamar tersebut dengan dahi berkerut.
Sebenarnya, dia tidak ingin sampai ikut campur dalam masalah ini, hanya saja Sam pun masih memiliki sedikit rasa kasihan pada gadis di dalam sana.
Kalau mau jujur, sebenarnya Ayana sama sekali tidak tahu menahu mengenai masalah ini, tapi justru dirinya yang mendapat imbas paling buruk dari kemurkaan Carlos.
"Carlos sedang pergi untuk mengurus sesuatu dan besok mereka berdua akan pergi untuk menghadiri meeting di sebuah kapal pesiaar," ucap Dalia dengan terburu- buru. "Kita tidak tahu apa yang akan Carlos lakukan pada Ayana di sana, bisa saja dia tidak memberikannya makan dan menelantarkannya di sana."
"Atau mungkin Carlos akan membuangnya di tengah lautan," ucap Sam dengan nada ringan dan hal ini mendapat sebuah pukulan keras dari Dalia, seraya wanita paruh baya itu menatapnya dengan galak. "Apa? Mengenal Carlos, sangat mungkin dia melakukan hal tersebut pada gadis itu," protes Sam.
"Tidak, tidak." Dalia menggelengkan kepalanya. "Gadis satu ini berbeda."
"Aku tidak melihat ada yang berbeda," jawab Sam acuh tak acuh.
"Ayana pasti sudah mati kalau Carlos tidak menginginkannya," ucap Dalia, berusaha membuat Sam mengerti akan jalan pikirannya, tapi pria itu sepertinya sama sekali tidak menyukai hal- hal sensitif seperti ini.
"Dia tidak akan menyakitinya kalau dia menginginkannya," jawab Sam sambil mengangkat bahunya.
__ADS_1
Dalia benar- benar kehabisan kata- kata dalam membuat Sam mengerti akan point dari situasi ini. "Carlos memperlakukan Ayana dengan berbeda. Carlos itu terlalu rumit untuk dapat dimengerti semudah itu, Sam."
"Kalau begitu, tidak perlu mengerti dirinya, cukup patuhi kata- katanya saja," jawab Sam tanpa banyak berpikir.
Namun, sebelum dia dapat beranjak pergi, Dalia menyodorkan mangkuk sup hangat yang dia pegang dan memaksa Sam untuk mengambilnya.
"Kau memiliki kunci kamar ini, jadi kau yang masuk ke sana dan berikan makanan ini pada Ayana, atau kalau tidak, jangankan pergi dengan Sam besok, aku takut gadis itu bahkan terlalu sakit untuk keluar dari apartment ini," Dalia berkata dengan suara tegas dan berhasil membuat Sam mengambil sup dari tangannya. "Aku akan berjaga di depan dan mengawasi kalau- kalau Carlos datang. Sekarang pergi ke dalam."
Setelah mengatakan hal tersebut, Dalia bergegas pergi, tidak ingin mendengar protes dari Sam, dan menghilang di koridor menuju ruang depan.
Sam menatap kepergian Dalia dan lalu mangkok sup di tangannya, sambil menghembuskan nafas dengan berat dan menggerutu. "Kenapa juga aku harus melakukan ini…"
Sam berniat mengabaikan permintaan Dalia, karena dia tidak ingin mencari gara- gara dengan Carlos, tapi kemudian dia teringat bagaimana Ayana berteriak meminta tolong dari dalam sana.
Suara Ayana berdengung kembali di telinga Sam dan berdasarkan dari apa yang dia dengar, apapun yang terjadi pada gadis itu, bukanlah hal yang baik.
Mungkin apa yang Dalia katakan ada benarnya; apabila Carlos tidak menyukai Ayana, dia akan langsung membunuhnya, tapi menyiksanya seperti ini sama sekali bukan gaya Carlos.
Setelah mempertimbangkan cukup lama, akhirnya Sam menyerah dan dia kemudian mengeluarkan kunci kamar Carlos dan masuk ke dalam sambil memanggil nama gadis itu.
Tanpa Sam ketahui, Abby tengah mengamati gerak- geriknya dari tempat yang tidak disadari oleh pria tersebut.
Dahi Abby sedikit berkerut ketika dia melihat pria yang telah bersamanya selama bertahun- tahun itu melanggar perintah Carlos dengan memberi Ayana makan.
Tidak berapa lama kemudian, Abby mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu.
***
__ADS_1
"Kau akan membawa Ayana besok?" tanya Juan pada Carlos saat mereka berjalan ke sebuah gudang kosong yang sangat mereka berdua kenali.
Carlos tahu apa yang akan menunggunya di sana, tapi dia mengikuti Juan. Sama sekali tidak ada rasa takut di wajahnya ketika dia menghadapi pria ini, seolah dia tidak memiliki apapun yang harus di takuti.
"Ya, tentu saja," jawab Carlos dengan ringan. "Kau pasti tidak sabar untuk bertemu dengannya lagi, bukan?"
Bagi orang lain, obrolan mereka terlihat begitu akrab, seolah pertengkaran sengit kemarin sama sekali tidak pernah terjadi. Dan satu- satunya bukti kalau mereka sempat baku hantam adalah luka- luka goresan dan memar di bagian wajah mereka yang kini mulai samar.
"Baguslah," jawab Juan, dia dan Carlos melangkah masuk ke dalam salah satu ruangan, yang dibukakan oleh salah satu orang Juan. "Aku hanya ingin menunjukkanmu ini."
Juan berhenti berjalan dan memberi gesture pada anak buahnya untuk membawa seseorang pada mereka.
Kemudian, dari salah satu pintu, tiga orang keluar dengan membawa satu orang pria yang telah terseok dengan darah bercucuran dari luka- lukanya.
Dengan darah yang cukup banyak dan memar yang dia derita, cukup sulit untuk mengenali siapa pria itu.
Namun, Carlos dapat mengenalinya tanpa masalah. "Nick," ucap Carlos tanpa ekspresi, bahkan ketika dua orang pria tadi mendorong Nick hingga tersungkur dan dia menggeram kesakitan, Carlos tidak menunjukkan simpati sama sekali.
"Dengar Carlos," ucap Juan dengan dingin. "Katakan padaku bahwa gadis itu adalah gadis yang selama ini kucari, maka kau akan kubiarkan bebas tanpa perlu menjadi seperti itu…" lalu Juan menambahkan, "atau bahkan lebih buruk lagi."
Juan tidak berhasil mendapatkan informasi apapun dari Nick, karena dia tertangkap sebelum mendapatkan informasi tambahan dari pencariannya di kota R.
Dan sejauh yang Juan dapatkan dari pria sekarat, yang tadinya merupakan tangan kanannya tersebut, adalah; kalau Carlos mengetahui lebih banyak informasi mengenai Ayana.
Di sisi lain, alih- alih menjawab pertanyaan Juan, Carlos justru tertawa seperti seorang psycho. "Sayang sekali, kondisi Ayana tidak jauh berbeda dengannya."
***
__ADS_1
Cek ig story ku untuk visualisasi dan inner thought dari masing-masing karakter.
@jikan_yo_tomare