
"Apa benar yang dia katakan?" tanya Carlos dengan suara dingin dan ekspresi wajah yang mengerikan. "Kau pernah mencoba untuk membunuhku?" Dia memalingkan wajahnya untuk melihat Ayana yang gemetar ketakutan.
"Carlos… tidak seperti itu…" ucap Ayana dengan suara yang pelan dan seperti merintih. Dia dapat merasakan tatapan mata pria di hadapannya ini seolah menghujam dadanya dan membuatnya sulit untuk bernafas. "Dengarkan dulu penjelasanku…"
Namun,Carlos tidak mau mendengar apapun lagi dari Ayana, dia segera mencengkeram pergelangan tangan gadis itu dan menariknya pergi dari selasar.
Langkah Carlos begitu cepat dan tergesa- gesa, hingga Ayana nyaris tampak seperti terseret olehnya.
Pria ini benar- benar murka. Dan akan sulit bagi Ayana untuk membebaskan diri dari kemarahannya kali ini.
Sebenarnya apa yang Juan inginkan dengan mengatakan semua itu pada Carlos? Tidakkah dia memikirkan konsekuensi yang akan Ayana terima setelah apa yang dia katakan?
Tapi, kalau Ayana memikirkan hal itu lagi, mana mungkin Juan peduli pada apa yang akan terjadi pada dirinya?
Apapun yang Carlos akan lakukan pada dirinya nanti, atau apa yang akan Ayana alami sesaat lagi, tidak akan memiliki pengaruh apapun pada Juan.
Jadi bagaimana mungkin Ayana berpikir kalau pria itu peduli.
Pikiran Ayana melantur seperti ini karena cara Juan merangkai kata- katanya yang mengatakan kalau Ayana dapat mencari perlindungan pada Juan, walau kenyataannya dia lah yang telah menjerumuskan Ayana dalam masalah baru terhadap Carlos.
Sepanjang jalan menuju kamar mereka, Ayana berusaha menahan tangisnya. Tangannya terasa begitu sakit dan nafasnya tersengal, tapi Ayana mencoba untuk tidak menangis.
Ayana yakin, Carlos akan membuatnya menangis lebih keras lagi nanti saat mereka hanya berdua saja.
Maka dari itu, waktu- waktu yang dia miliki kini, Ayana gunakan untuk memikirkan cara agar dirinya dapat terlepas dari masalah yang Juan timbulkan.
Tepat pada saat itu, sebuah ide melintas di benaknya. Sebuah ide yang cukup gila untuk Ayana lakukan. Tapi… dirinya tidak memiliki pilihan lain atau memikirkan ide yang lain dalam jangka waktu yang begitu pendek ini.
Cassandra berjalan mendekati Juan yang tengah duduk berdiri di anjungan kapal sambil menyalakan sebatang rokok. Menghembuskan asap putih dari tembakau tersebut secara perlahan ke langit malam yang cerah dengan cahaya bulan yang memantul di atas permukaan laut.
Cassandra lalu berdiri sangat dekat dengan Juan, hingga membuat tubuh mereka saling bergesekkan.
__ADS_1
Namun, melihat tidak ada reaksi apapun dari pria ini, membuat wanita itu tidak puas dan mulai merangkulkan lengannya ke sekitar pinggang Juan sambil mengistirahatkan dagunya di punggung Juan dengan sikap manja.
"Aku tidak ingat kalau aku mengajakmu ke sini," ucap Juan dengan dingin. Sama sekali tidak bereaksi terhadap sentuhan Cassandra. Wajahnya tidak menunjukkan reaksi apapun ketika wanita itu dengan sengaja menjalankan tangannya di sekitar dada Juan.
"Kalau aku tidak datang, lalu siapa yang akan menemanimu?" tanya Cassandra, masih belum menyadari apa yang tengah dia hadapi.
Juan bahkan sama sekali tidak ingin diganggu dengan masalah sepele, apalagi kalau dia harus menanggapi bualan wanita ini.
"Pergi sekarang selama aku masih berbaik hati," ucap Juan. Pikirannya masih melayang ke ekspresi ketakutan yang dia lihat dari wajah Ayana.
Hal ini membuat Juan ingin segera berlari dan mendobrak kamar Carlos, lalu membawa gadis itu pergi untuk memastikan kalau memang dia lah gadis yang selama ini dirinya cari.
"Kenapa? Aku ingin di sini, bersamamu." Cassandra menjalankan tangannya dengan nakal di tubuh Juan.
Namun, sebelum dia dapat bergerak lebih jauh, Juan telah menangkap tangannya dan mememilintir pergelangan tangan wanita itu hingga dia menjerit kesakitan dan mendorongnya menjauh hingga tubuhnya menghantam lantai dengan cukup keras.
"Juan!" pekik Cassandra tidak terima karena diperlakukan seperti itu.
Karena mana mungkin Juan akan memakai wanita yang sama, yang telah mereka cicipi.
mendengar kata- kata Juan, mata Cassandra terbelalak dan dia menatap Juan dengan tidak percaya. Bagaimana mungkin pria ini memperlakukannya seperti itu?!
Bukankah, hubungan mereka sudah sangat jauh? Atau itu hanya pikiran semu Cassandra saja?
Carlos membuka pintu kamarnya dengan keras, menguncinya dan baru melepaskan tangan Ayana begitu mereka ada di dalam kamar.
Tanpa menunggu lama, Carlos segera menghimpit Ayana ke tembok dan berteriak tepat di depan wajahnya.
"KAU INGIN MEMBUNUHKU?!" seru Carlos dengan marah. Dia mengguncang tubuh Ayana dengan keras hingga kepalanya terbentur dinding di belakangnya.
Tapi, itu tidak menghentikannya untuk memperlakukan Ayana dengan kasar. Dia mencekik Ayana saat kemarahan telah menguasai dirinya.
__ADS_1
Namun, satu hal yang membuat Carlos tidak melanjutkan aksinya tersebut adalah karena Ayana sama sekali tidak memberikannya perlawanan seperti yang biasa dia lakukan ketika Carlos mulai menunjukkan sisi dirinya yang brutal.
Alih- alih melawannya, Ayana justru menatap Carlos dengan ekspresi wajah tanpa emosi. Dia memandang pria yang tengah mengamuk dan hampir membunuhnya ini dengan tatapan yang kosong dan mengusik.
Hingga pada akhirnya, ketika Carlos melihat Ayana hampir kehabisan nafas dan menutup matanya, rasa amarahnya terkalahkan oleh rasa takut.
Seketika itu juga, dia melepaskan cengkeramannya di sekitar leher Ayana dan mundur satu langkah, menyaksikan tubuh Ayana jatuh ke lantai dan dia mulai batuk- batuk. Nafasnya menderu ketika dirinya susah payah mengisi oksigen kembali ke paru- parunya.
Butuh waktu beberapa menit bagi Ayana untuk dapat kembali bernafas dengan lega. Dan ketika ritme detak jantungnya telah kembali normal, barulah Ayana mengangkat kepalanya dan menatap Carlos dengan sorot mata yang sama.
Cara Ayana menatapnya ini sungguh membuat Carlos merasa terusik.
"Kenapa kau tidak melanjutkannya saja?" tanya Ayana dengan berani, yang lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan mendapatkan apa yang dia cari.
Ayana melihat sebilah pisau yang tergeletak begitu saja di atas meja, yang di peruntukkan untuk mengupas buah- buahan yang telah dipersiapkan.
Langkah Ayana begitu pasti ketika dia berjalan menuju pisau tersebut.
Pada awalnya Carlos tidak mengerti apa yang Ayana akan lakukan, hingga dia hanya berdiri mematung di tempatnya, sampai dia menyadari kalau Ayana berniat untuk meraih pisau tersebut.
"Apa yang akan kau lakukan?!" seru Carlos dengan panik. Dia segera berlari menghampiri Ayana.
Carlos berhenti saat Ayana menodongkan pisau di tangannya ke arah Carlos, tapi kemudian dia membaliknya dan menghadapkan gagang pisau tersebut ke arah Carlos.
"Kalau kau ingin membunuhku, lakukan saja." Bukan hanya Juan yang dapat memainkan permainan ini, Ayana pun dapat memanipulasi situasinya.
***
Cek ig story ku untuk visualisasi dan inner thought dari masing-masing karakter.
@jikan_yo_tomare
__ADS_1