
Ayana terbangun ketika sinar matahari bersinar menembus jendela dan jatuh ke wajahnya, kepalanya terasa pusing dan matanya sedikit berkunang- kunang.
Tapi, bukan itu yang membuat Ayana langsung terduduk dan menatap sekelilingnya, mengabaikan dentuman konsisten di dalam kepalanya yang membuat dirinya meringis menahan sakit.
Ayana sadar kalau dirinya tidak berada di dalam kamarnya sendiri. Ini bukan kamarnya dan dia tidak tahu dimana dia sekarang.
Saat semua inderanya kembali bekerja dan Ayana menjadi lebih waspada, dia dapat mendengar suara gemericik air dari dalam bathroom, sepertinya ada seseorang yang sedang mandi.
Ayana memutuskan dia tidak ingin mencari tahu siapa dia dan segera turun dari kasur, tapi kakinya terasa berat dan dirinya berakhir terduduk di samping ranjang.
Tepat pada saat itu, suara air tidak lagi dapat di dengar dan tidak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka.
Ayana tidak sempat melarikan diri, karena pandangannya berkunang- kunang. Dia hanya berharap siapapun itu, tidak akan menyadari keberadaan dirinya.
Tapi, tentu saja itu hanyalah harapan yang sia- sia. Suara pria yang Ayana telah kenali dengan baik, terdengar, memanggil dirinya.
“Apa yang kau lakukan duduk di bawah sana?” tanya Carlos sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk di tangannya, sementara handuk lain melilit di sekitar pinggulnya.
Setelah mendengar suara itu, Ayana segera mengangkat kepalanya dan menatap Carlos, tapi melihat pria itu yang separuh telanjang, membuat Ayana dengan segera memalingkan wajahnya.
Carlos tertawa melihat reaksi Ayana. “Bukankah kita sudah saling melihat diri kita satu sama lain? Kenapa kau masih malu?” ucap Carlos dengan nada menggoda.
Dan melihat Ayana yang terduduk di samping ranjang sambil memejamkan matanya, justru membuat Carlos ingin menghampirinya dan mengganggunya.
Jadi, itulah yang dilakukan sang predator. Menghampiri buruannya.
Carlos berjongkok tepat di hadapan Ayana, sengaja menyentuhkan lututnya ke lutut Ayana yang tertekuk dan membuat gadis itu semakin meringkuk menjauh.
“Jadi? Kau hanya pura- pura bersikap seperti ini agar aku menghampirimu atau kau memang butuh untuk diajari lagi agar terbiasa denganku?” tanya Carlos dengan suaranya yang terdengar seperti sebuah bisikan.
__ADS_1
Ayana lalu mengangkat tangannya dan menutup telinganya, memejamkan matanya dan berharap Carlos menjauh darinya.
Tapi, Carlos tidak melakukan itu, dia justru mulai mengusapkan jarinya ke kulit paha Ayana yang mulus dan membuat gadis itu bergidik dan berusaha menjauh, tapi Carlos justru bergerak mendekatinya dan tersenyum senang melihat reaksi Ayana.
“Akan kuajari kau kembali agar terbiasa denganku,” bisik Carlos ke telinga Ayana. Dia lalu mencium daun telinga Ayana yang membuat gadis itu memiliki keberanian untuk melawan.
Ayana mendorong Carlos menjauh darinya dan segera berdiri, hendak berlari keluar dari kamar, tapi karena dia melakukan gerakan yang terlalu cepat, pandangan Ayana menjadi gelap dan dia terhuyung.
Beruntungnya, sebelum dahi Ayana dapat membentur pinggiran meja, Carlos menangkap tubuhnya terlebih dahulu dan memeluknya dengan erat.
“Siapa yang bilang kau bisa pergi dariku?” tanya Carlos sebelum dia mencium gadis di dalam dekapannya dengan kasar.
Ayana meronta, berusaha melepaskan diri dari Carlos, tapi tidak bisa. Dia mencoba menendang pria ini, tapi Carlos lebih dari mengerti untuk menepis serangan seperti itu, dia tersenyum menyeringai dan memperdalam ciumannya pada Ayana, membuat gadis itu sulit bernafas.
Dan saat tangan Carlos mulai menjelajahi tubuh gadis itu yang mulus, seseorang memutuskan untuk mengusik kesenangannya kali ini.
Carlos menggerutu dalam ciumannya dan menggigit bibir Ayana sebelum dia melepaskan gadis itu, tapi tetap menahan tubuhnya dalam dekapannya.
“Aku akan siap dalam sepuluh menit,” ucap Carlos dengan kesal pada Sam, tapi pria itu hanya tertawa melihat ekspresi Carlos dan berjalan menjauh, dengan sengaja tidak menutup pintu kamarnya. “Hei! Tutup pintunya!” teriak Carlos.
Namun, yang datang kembali untuk menutup pintu, bukanlah Carlos, melainkan Abby. Gadis itu menatap tajam pada Ayana, yang masih dalam dekapan Carlos.
Tatapan Abby menyiratkan permusuhan dan rasa iri. Dia masih tidak habis pikir mengapa Carlos lebih memilih Ayana yang terlihat biasa saja dibandingkan dirinya.
“Tutup pintunya.”
Gerutuan batin Abby terusik ketika dia mendengar suara Carlos yang dingin dan ketika Abby mengangkat wajahnya untuk melihat Carlos, pria itu tengah menatapnya dengan tajam, seolah dia akan melemparnya keluar dari tempat ini kalau Abby tidak segera melakukan apa yang dia perintahkan.
Dengan enggan dan kesal, Abby menutup pintunya dan berjalan dengan menghentakkan kakinya untuk mencari Sam.
__ADS_1
Setelah hanya ada mereka berdua di dalam kamar, Carlos kembali memberikan perhatiannya pada Ayana. “Sepertinya acara senang- senang kita harus berakhir, cotton candy.” Carlos mengecup bibir Ayana. “Tapi, tidak perlu merasa kecewa, aku berencana untuk membawamu ikut denganku dalam perjalanan bisnis kali ini, jadi bersiaplah. Kita akan berjalan- jalan dalam tiga hari lagi.”
Ayana tidak menjawab dan ini membuat Carlos kembali bertanya dengan nada yang lebih tegas.
“Kau tidak suka dengan rencana yang aku buat?” suaranya terkesan seperti seseorang yang harga dirinya tengah terluka.
Melihat kemarahan dalam mata Carlos, Ayana lalu mengangguk dengan ketakutan.
“Katakan, apa kau tidak menyukai rencana yang aku buat?” tanya Carlos lagi.
“Suka…” suara Ayana bergetar ketika menjawabnya. “Aku suka…”
Barulah setelah mendengar jawaban Ayana, sebuah senyuman mengembang di bibir Carlo. “Bagus. Aku senang kalau kau suka. Tapi, sebelum itu aku akan mengajakmu untuk ikut makan malam denganku. Aku akan menjemputmu pukul tujuh nanti malam, jadi sebaiknya kau bersiap- siap.”
Ayana menggigit bibirnya, dia sangat ingin menolak permintaan Carlos, tapi sayangnya itu bukanlah sebuah permintaan melainkan perintah. “Iya,” jawab Ayana setengah hati.
Carlos lalu mencium lehernya sebelum melepaskan Ayana dan berjalan menuju lemarinya dimana dia mengambil pakaian yang akan dia pakai untuk bekerja hari ini.
Ayana tidak perlu untuk disuruh agar keluar dari kamar ini, karena dia sudah segera berlari keluar di detik Carlos melepaskan dirinya.
Di dalam kamar, Carlos hanya tertawa kecil melihat ketakutan gadis itu. Sepertinya makan malam nanti akan menjadi menarik dengan kehadiran Ayana.
***
“Kau harus memanfaatkan momen ini,” Dalia berkata sambil menyiapkan makan siang untuk mereka berdua.
Setelah kepergian Carlos dan Sam, Abby juga pergi entah kemana, setelah kejadian saat itu, Abby tidak terlalu menanggapi Ayana lagi. Sepertinya hubungan mereka berdua tidak sebersahabat seperti dulu.
“Memanfaatkan bagaimana?” Ayana bertanya dengan pelan, dia baru saja memeberitahu Dalia akan rencana Carlos.
__ADS_1