
“Aku menunggumu,” jawab Ayana dengan suara pelan dan kepala tertunduk. Dia sedikit memalingkan wajahnya karena tidak mau orang- orang di sana melihat memar yang masih membekas di sana.
“Menungguku?” Carlos mengerutkan dahinya dengan bingung, tapi kemudian dia kembali melihat makanan di atas meja yang sama sekali tidak tersentuh. Ayana benar- benar menunggunya untuk makan.
“Hei! Kau masih berurusan dengan kami!” teriak salah satu pemuda yang membuat rusuh itu dengan marah. Dia berusaha merangsek maju, tapi sayang sekali usahanya dipatahkan saat salah seorang polisi menariknya keluar.
“Ayo kita bicarakan masalah ini diluar saja,” ucapnya dengan suara yang kaku dan tegas.
“Tidak! Aku tidak mau!” bentak pemuda itu dengan berang dan berusaha untuk memukul Carlos. Dia terlihat begitu emosi karena Carlos telah mempermalukannya dengan membuat dirinya tersungkur di depan orang banyak tadi.
Namun, Carlos bergeming. Matanya yang tajam menatap ketiga pemuda tersebut. “Bawa dia keluar atau kalian yang akan menanggung resikonya,” ucapnya dengan nada datar.
Di kota T dengan segala macam kebisingan dan kegaduhan serta kehidupan glamornya, di balik semua itu, tersimpan berjuta misteri dan organisasi yang tidak diketahui banyak orang dan bagaimana mereka bekerja dalam diam dan gelap.
Dunia seperti itulah yang saat ini dihadapi oleh Ayana. Hanya segelintir orang yang tahu mengenai organisasi yang di pimpin oleh Juan dan dikelola oleh Carlos dan lebih sedikit lagi yang berani untuk mengatakannya, sementara yang lainnya akan mengatakan kehidupan di organisasi seperti ini hanyalah rumor yang tidak pasti.
Apalagi hal ini menyangkut bankir terkenal seperti Juan dan Carlos.
Mereka berdua cukup diketahui oleh kalangan tertentu saja. Maka dari itu, Carlos mampu menghubungi orang yang tepat untuk membuat kedua polisi tersebut gemetar ketakutan ketika mengetahui siapa yang menghubungi mereka.
Bahkan kedua polisi tersebut tidak ingin menatap Carlos lama- lama dan membuat pria ini tesinggung.
“Keluar sekarang!” teriak polisi tersebut dengan keras. Dia mendorong ketiga pemuda tersebut dengan kasar dan dengan dibantu rekannya membawa mereka menjauh dari Carlos.
“Apa- apaan ini!” seru pemuda tersebut tidak terima, tapi mereka bertiga tidak mampu melawan kedua polisi tersebut.
“Lalu apa yang kau tunggu?” tanya Carlos pada manager restaurant tersebut ketika keributan yang dibuat oleh kelima orang tadi perlahan mulai mereda.
“Maaf, atas…” manager tersebut baru akan mengutarakan rasa menyesalnya, tapi Carlos telah melambaikan tangannya, tidak ingin mendengar apa yang dia akan katakan.
__ADS_1
“Keluar,” ucapnya dengan singkat, setelah itu Carlos kembali menatap Ayana. “Dan kau duduk.”
Ayana segera menuruti kata- kata Carlos dan duduk di meja makan.
Sang manager yang melihat kalau keadaannya tidak memungkinkan untuk dirinya bicara panjang lebar dan juga suasana hati Carlos yang buruk, walaupun dirinya masih mengira- ngira siapa pria ini hingga memiliki pengaruh begitu besar, dirinya kemudian memutuskan untuk meninggalkan ruangan.
“Kalau begitu saya permisi,” ucapnya dengan sopan dan menutup pintu tersebut setelah dia keluar.
Barulah setelah hanya ada Carlos dan Ayana di ruangan tersebut, pria itu menghempaskan dirinya di kursi, di sebelah Ayana dan menatap gadis itu dengan kesal.
“Lalu apa yang kau tunggu?! Kau menunggu kepiting itu berjalan sendiri ke mulutmu?” bentak Carlos karena Ayana tidak kunjung memakan makanan yang telah dipesan. “Cepat makan! Aku tidak ingin berada di restaurant menyebalkan ini lagi!”
Ini lagi…
Carlos kembali ke sifatnya yang pemarah. Setiap kali mood pria ini berubah seperti ini, Ayana kembali memikirkan tawaran yang Juan berikan padanya.
Ayana lalu buru- buru mengambil bagian kecil kepiting tersebut dan meletakkannya di atas piring. Dia memberikan piring pertama itu pada Carlos dengan meletakkannya di depannya, baru setelah itu dia mengambil satu potong lagi untuk dirinya.
Di sisi lain, karena Ayana selalu menunduk ketika melakukan itu, dia tidak melihat bagaimana ekspresi Carlos ketika dia meletakkan piring tersebut dihadapannya.
Ada segurat emosi yang tidak bisa dijelaskan melintas di kedua matanya dan itu dengan cepat menghilang ketika dia melihat Ayana kesulitan mengambil daging kepiting dari cangkangnya.
Gadis itu sama sekali tidak tahu bagaimana cara memakan makanan ini dan lagi- lagi membuat Carlos kesal.
Carlos lalu mengambil tang food cracker yang tersaji di sana dan mulai membuka cangkang kepiting di dalam piringnya, sementara Ayana menatapnya dan mencoba cara yang sama, tapi karena ini adalah pertama kalinya dia menggunakan alat tersebut, dia tampak masih belum menguasainya.
Dalam kesulitannya untuk makan, Ayana mulai menyesali keinginan dia untuk makan makanan laut ini. Seharusnya dia meminta makanan yang lebih mudah dan wajar.
__ADS_1
Maka dari itu, ketika Carlos tiba- tiba mengambil piringnya, Ayana pikir pria itu menjadi tidak sabar dan akan mengajaknya pulang. Tapi, ternyata Carlos justru menukar piringnya yang telah berisi daging kepiting yang telah dipisahkan dari cangkangnya, dengan piring Ayana yang mana kepitingnya masih utuh.
“Makan,” ucap Carlos dengan nada memerintah.
Kali ini, Ayana dengan senang hati memakan daging lembut kepiting tersebut sambil bergumam. “Terimakasih,” ucapnya pelan dan hampir tidak terdengar.
Carlos hanya tersenyum masam. Mengingat- ingat kapan terakhir kali ada orang yang berterimakasih padanya dengan nada yang polos dan tulus seperti itu.
Karena kata ‘terimakasih’ di dalam dunianya bisa diartikan dengan berjuta makna.
***
Ketika mereka akhirnya kembali ke apartment, Ayana telah dalam kondisi kenyang dan sedikit mengantuk, rasa sakit yang dia derita dan stress yang berkepanjangan, sedikit terlupakan.
Tapi, begitu Ayana kembali ke kamarnya, semua itu kembali. Dia menyadari, rasa nyaman yang dia rasakan saat ini tidak akan berlangsung lama.
Mungkin untuk beberapa hari kedepan Carlos akan cukup berbaik hati untuk tidak menyentuhnya karena apa yang Dokter katakan, tapi bagaimana dengan setelahnya? Apa Ayana akan berakhir di dalam kamar ini? Bertanya- tanya setiap harinya dan was- was kalau Carlos kembali berubah sikap?
Tidak. Ayana tidak mau hidup seperti itu.
Kalau memang Carlos memiliki sedikit perasaan padanya, bukankah seharusnya Ayana memanfaatkan itu dan membuat keadaannya jadi jauh lebih baik?
Dengan pemikiran baru, Ayana kemudian turun dari ranjangnya dan berjalan keluar kamar.
Dia mengingat kalau Carlos sama sekali tidak makan ketika mereka berada di restaurant.
Ayana pun mengingat kata- kata Dalia kalau Carlos lebih memilih makanan rumahan. Maka itulah yang Ayana akan lakukan. Mungkin dengan menunjukkan sedikit kebaikan, pria itu akan membalasnya dengan cara yang sama.
__ADS_1