Dark Desires Mr. Possessive

Dark Desires Mr. Possessive
Malam Pesta


__ADS_3

Carlos menyudahi ciuman itu dan menjauh dari Ayana sambil menatap wajah gadis dihadapannya yang bersemu kemerahan. Dia terlihat malu, tapi juga ada sorot penasaran di kedua matanya yang indah.


 


Namun, Carlos tidak menjelaskan apa- apa akan aksinya tadi dan merapihkan pakaian Ayana yang sedikit berantakan, dia memulas bibir Ayana dengan ibu jarinya dan menelusuri tanda yang telah dia buat di leher Ayana. Sebuah senyum merekah di bibirnya.


 


“Kalau kau terus bersikap malu- malu seperti ini, aku tidak janji kita akan keluar dari ruangan ini dengan segera dan kalau kita sampai terlambat, maka itu adalah salahmu.” Carlos berkata dengan nada biasa, tapi ada makna tersenyum di balik kata- katanya.


 


*** 


 


Mereka berdua tiba di sebuah hotel. Bukan restaurant seperti yang Ayana bayangkan, karena dia pikir Carlos akan mengajaknya makan malam.


 


Tapi, makanan adalah hal terakhir yang ada di benak Ayana saat ini, karena dia tengah menatap sebuah bangunan super mewah dengan deretan lampu yang berpendar terang dan sangat memukau.


 


Ukiran- ukiran rumit menghiasi pilar- pilar bangunan yang tinggi ini dan memberikan kesan mengintimidasi, terutama pada seorang gadis yang tidak memiliki apa- apa dan bukanlah siapa- siapa seperti Ayana. Apa yang dia lihat saat ini benar- benar merupakan sesuatu yang baru dan mencengangkan baginya.


 


“Mau sampai kapan kau ada di dalam?” tanya Carlos yang telah membukakan pintu untuknya. “Cepatlah. Aku lapar.”


 


Ayana segera kembali ke kesadarannya dan bergegas turun dari dalam mobil dengan dibantu oleh Carlos, karena dia masih tidak terbiasa dengan sepatu hak tinggi yang dia kenakan saat ini.


 


Dan Carlos, seolah dia telah melakukannya jutaan kali, dengan luwes membantu Ayana turun dari mobil dan menggamit tangannya di lengannya lalu berjalan dengan sangat arogan menuju pintu masuk lobi hotel tersebut.


 


Ayana tidak mengatakan apa- apa, tapi dia menggenggam erat lengan Carlos, takut dia akan tersesat di tempat asing ini.


 


Dengan mata yang penuh rasa penasaran dan terkesima, Ayana melihat dua orang pria yang mengenakan jas hitam, menghampiri Carlos dan tersenyum ramah pada mereka berdua.


 


Pria itu bertanya keperluan Carlos dan menanyakan mengenai undangan yang dia miliki. Saat itu, Carlos mengeluarkan sebuah kartu kecil berwarna hitam dari sakunya dan menyerahkan benda tersebut.


 

__ADS_1


Setelah mengamati beberapa saat, senyum kedua pria itu semakin melebar dan mempersilahkan Carlos dan Ayana untuk mengikutinya dengan gesture yang sangat sopan.


 


Ini merupakan pertama kalinya ada orang yang memperlakukan Ayana dengan santun, maka dari itu, suasana gadis tersebut sedikit lebih baik dan rasa canggungnya sedikit memudar.


 


Sebagai seorang Anomic, Ayana terbiasa untuk di pandang sebelah mata. Rasanya sungguh menyenangkan dapat diperlakukan selayaknya mereka setara seperti ini.


 


Mereka berjalan menyusuri lorong hotel yang dihiasi dengan nuansa putih dan abu- abu, memberikan kesan dingin, tapi juga elegant, perpaduan warna yang sesuai untuk mewakili kaum kelas atas seperti Carlos dan siapapun orang yang mengirimkan undangan padanya.


 


Tapi, keterkejutan Ayana tidak berakhir sampai di situ saja, karena ketika pria yang mengantarkan mereka membuka sebuah pintu berwarna tembaga dengan ukiran simbol- simbol unik di permukaannya dan gagang pintu yang menyerupai kepala singa, Ayana tidak dapat menyembunyikan rasa kagumnya.


 


“Tempat ini sangat indah…” bisik Ayana pada dirinya sendiri dengan suara rendah, dia bahkan tidak menyadari kalau Carlos dapat mendengar gumamannya.


 


Pria itu tersenyum, tapi sayangnya bukan sebuah senyum yang tulus.


 


 


Ayana tidak menyadari apa yang akan dia hadapi nanti, yang dia ketahui sekarang adalah; dirinya begitu terpukau dengan hal- hal yang baru saja dia lihat untuk pertama kalinya ini.


 


Semua orang di dalam ruangan mengenakan pakaian yang begitu indah dan seketika itu juga Ayana bersyukur Carlos memberikan pakaian ini padanya, setidaknya dia tidak akan mempermalukan Carlos.


 


Tapi, kalau dipikirkan kembali, sudah pasti Carlos tidak akan membiarkan Ayana mempermalukan dirinya di acara semewah ini.


 


Ada sekitar ratusan orang di aula besar ini, wanita dan pria, dan hampir dari mereka semua mengenal Carlos, lalu mulai menyapanya.


 


Di sisi lain, hal satu- satunya yang bisa Ayana lakukan adalah dengan tersenyum dan mengangguk kecil, malu- malu setiap kali Carlos memperkenalkan dirinya sebagai kekasih barunya.


 


Namun, tatapan orang- orang di sana dan bagaimana mereka menanggapi komentar Carlos mengenai sebutan ‘kekasih’, membuat Ayana mengerti kalau dirinya bukanlah wanita pertama yang Carlos bawa ke sebuah pesta.

__ADS_1


 


Ayana tampaknya hanyalah mainan baru bagi Carlos saja dan tidak begitu penting bahkan bagi mereka untuk mengingat namanya.


 


“Kita akan ke atas,” Carlos berbisik ke telinga Ayana saat alunan music mengisi aula dan membuat kata- kata orang- orang di sekitar mereka menjadi gumaman tidak jelas.


 


Ayana mengangguk. Apalagi yang bisa dia lakukan kecuali mengikuti Carlos?


 


Carlos lalu menggenggam tangan Ayana yang dingin dan membawanya berjalan ke lantai dua, melewati tangga spiral yang di penuhi beberapa orang yang bersandar di pegangan tangganya sambil mengobrol dengan partner mereka masing- masing.


 


Di lantai dua, lagi- lagi Carlos membawa Ayana memasuki pintu yang di jaga ketat oleh dua orang penjaga berwajah sangar, tapi begitu melihat sosok Carlos mereka berdua mundur dan membukakan pintu ruangan yang mereka jaga dengan sopan.


 


Tampaknya sangat menyenangkan memiliki kekuasaan dan kekayaan seperti yang Carlos miliki. Semua orang akan tunduk dan patuh.


 


Ayana lalu menyingkirkan pemikiran tersebut dan berjalan masuk ke dalam ruangan yang tercium aroma tembakau yang sangat tajam.


 


Di dalam ruangan tersebut ada lima orang pria yang masing- masing memiliki dua orang wanita di sisi kiri dan kanan mereka. Wanita- wanita cantik dengan pakaian minim.


 


Namun, ada satu pria yang sepertinya begitu asyik dengan kesendiriannya dan Ayana mengenali pria itu. Dia adalah Juan.


 


Kalau dengan status Carlos saat ini, Ayana yang seorang Anomic dapat diperlakukan dengan begitu hormat, maka Juan dan membuat segalanya jauh lebih intense berkali- kali lipat dari apa yang Carlos tawarkan. Itu adalah hal yang Dalia katakan pada Ayana.


 


Carlos adalah sahabat Juan, tapi dalam hubungan bisnis, Juan adalah boss dari Carlos.


 


Melihat Juan, Ayana kembali teringat peristiwa pembantaian yang Juan perintahkan pada gadis- gadis itu, di malam pertama kalinya Ayana di jual pada mereka.


 


“Kau masih bersama gadis ini?” Juan menatap Ayana dengan matanya yang begitu tajam. “Sepertinya dia gadis yang menarik…”

__ADS_1


 


__ADS_2