Dark Desires Mr. Possessive

Dark Desires Mr. Possessive
Makian dan Keributan


__ADS_3

Carlos kemudian mengajak Ayana ke salah satu restoran di sana, yang dia anggap layak untuk dirinya dan menghentikan mobil di bahu jalan. Tentu saja, tidak perlu ditanyakan lagi kalau mobil sport miliknya tersebut akan mengundang perhatian dari banyak orang yang berlalu lalang, bahkan penjaga parkir di sana sampai tercengang begitu melihat mobil tersebut.


 


Ayana kemudian keluar dari dalam mobil, masih mengenakan jaket yang Carlos berikan padanya siang ini dan juga topi yang menutupi wajahnya.


 


 Di sisi lain, Carlos segera menghampiri Ayana dan menarik tangannya agar dia tidak melarikan diri di bahu jalan yang lumayan ramai ini.


 


Carlos sudah memiliki cukup banyak masalah yang harus dia pikirkan, maka dari itu, dia tidak berharap Ayana untuk menambahkan beban pikirannya lagi.


 


Setelah Carlos memastikan kalau tidak ada seorangpun yang mengenalinya di sana bersama Ayana, dia memasuki restaurant tersebut.


 


Di hari biasa, tidak seharusnya Carlos berada di tempat umum seperti ini, apalagi terlihat bersama dengan seorang wanita. Tapi, hari ini bukanlah hari yang biasa dan Carlos pun merasa hari- harinya tidak lagi sama setelah bersama Ayana.


 


Dia mendapatkan motivasi baru dan itulah yang menggerakkannya, membangunkannya setiap pagi dengan rencana baru yang bergejolak di kepalanya.


 


Ya, balas dendam. Atau apapun orang lain menyebutnya. Tapi, memikirkan kalau Juan akan merasakan apa yang dirinya rasakan dan menganggap remeh perasaannya terhadap Bianca.


 


Memang Carlos tidak pernah menunjukkan keterpurukannya pada Juan mengenai masalah tersebut, tapi bukan berarti dia akan menerima hal ini begitu saja.


 


Carlos akan mengakui kalau dia adalah seorang pendendam dan Juan mengetahui nya dengan baik, maka dari itu, ketika dia merasakan ada sesuatu yang tidak beres dan tidak biasa dari Carlos, Juan mengutus orang- orangnya untuk mengawasi dirinya.


 


Tanpa Juan ketahui, Carlos telah memperhitungkan semua itu.


 


“Untuk dua orang?” tanya seorang pelayan wanita yang menghampiri Carlos dan Ayana.


 


Wanita muda itu mengingatkan Ayana pada Abby, senyumnya yang ceria dan matanya yang bersinar ketika menatap Carlos. Menatap pria tampan dengan kepribadian rumit di sisi Ayana ini dengan terpesona. Seperti itulah Abby menatap Carlos.


 

__ADS_1


Mungkinkah Abby pun tertarik pada Carlos sementara dia bersama Sam?


 


Ayana menggelengkan kepalanya pelan. Ini bukan saatnya untuk memikirkan hal- hal seperti itu.


 


“Ya, untuk dua orang,” ucap Carlos dengan suara yang dalam, dari sudut matanya dia dapat melihat Ayana yang menggelengkan kepalanya dengan perlahan. “Ada private room di sini?”


 


“Oh, ada di lantai dua,” ucap pelayan wanita tersebut dengan antusias.


 


Carlos lalu mengangguk dan memberi gesture agar dia menunjukkan jalan ke sana. Karena ini pertama kalinya Carlos berada di street restaurant seperti ini, maka dia tidak begitu mengerti konsep dari restaurant tersebut.


 


Sepanjang mereka manaiki tangga, Carlos terus menggenggam tangan Ayana dengan erat, sementara gadis itu menundukkan kepalanya, menghindari tatapan orang lain dengan menyembunyikan wajahnya yang masih terlihat memiliki bekas memar di balik rambutnya yang panjang dan topi yang dia kenakan.


 


Namun, karena hal itu juga, secara tidak sengaja Ayana justru menabrak seorang tamu pria yang hendak turun setelah menyelesaikan makan malamnya dengan dua temannya yang lain.


 


 


Saat Ayana akan terjatuh karena dorongan dari orang tersebut, Carlos segera menariknya dengan sigap dan memeluknya dengan aman di lengannya.


 


“Kau tidak apa- apa?” tanya Carlos sambil melihat ke arah Ayana dengan wajah tanpa ekspresi.


 


Ayana buru- buru menggeleng dan membetulkan topinya agar wajahnya tetap tersembunyi, hanya saja pria yang tadi menabraknya sepertinya sedikit mabuk dan tidak senang dengan apa yang terjadi, maka dari itu dia menyerapah pada Ayana dan menudingnya.


 


Ayana yang mendengar suara keras pria itu dan kata- kata kasarnya, semakin menundukkan kepalanya dan merapatkan tubuhnya pada Carlos, seolah mencari perlindungan dari pria itu, tapi Carlos sama sekali tidak mengatakan sepatah katapun dan hanya mendengarkan ketika pria tadi mencaci Ayana.


 


Kalau saja bukan karena dua orang teman pria itu yang menengahi dan sang pelayan wanita yang mencoba melerai sang pria mabuk tersebut, mungkin pria itu akan terus mengeluarkan setiap kosa kata kasar yang telah ia pelajari selama bertahun- tahun pada Ayana selama satu jam ke depan.


 


“Pakai matamu lain kali kalau kau jalan!” hardik pria mabuk itu sambil berjalan dengan sempoyongan, di bantu oleh dua orang temannya.

__ADS_1


 


Bahkan hingga kata- kata kasar terakhir yang dilontarkan olehnya, Carlos masih tidak bergeming dari tempatnya dan hanya menatap lurus, seolah pria itu tidak ada.


 


Sang pelayan wanita tersebut pun sedikit heran dengan sikap yang di tunjukkan Carlos. Bukankah kekasihnya tengah dipermalukan? Tapi, sebagai pria, kenapa dia tidak melakukan apapun dan membiarkan hal ini terjadi?


 


Penilaian pelayan wanita tersebut sedikit berkurang karena hal ini.


 


Hanya saja, yang tidak dia ketahui adalah; setelah dia pikir masalah telah selesai dan pria mabuk itu telah membalik tubuhnya dengan dipapah kedua temannya, Carlos melepaskan pelukannya pada Ayana dan mengangkat kakinya dan menendang pria tadi dengan sangat keras tepat di bokongnya hingga membuat ketiga orang tersebut tersungkur.


 


Tangga, tempat mereka berdiri adalah hampir setengah jalan menuju lantai dua, sehingga dari tempat Carlos menendang ke tiga pria tersebut, cukup jauh hingga mereka jatuh di bawah tangga.


 


Sang pelayan wanita terpekik dan membeku menyaksikan apa yang terjadi tepat di hadapannya. Bahkan Ayana pun tidak menyangka Carlos akan melakukan hal ini.


 


“Carlos…” Ayana menarik lengan baju Carlos dengan takut- takut dan mengangkat kepalanya. Barulah saat itu dia melihat emosi di mata Carlos yang dingin. Sebuah kemarahan…


 


“Kau! Berani sekali kau melakukan hal ini!” Hardik salah satu teman pria mabuk tersebut sambil memegangi kepalanya yang menghantam meja. “Aku akan melaporkan hal ini pada polisi!”


 


Carlos bahkan tidak menanggapi ancaman tersebut dan membalik badannya seolah dia tidak mau lagi melihat ketiga pria menyedihkan itu.


 


Dan terlepas dari teriakan dan tatapan penuh tanya orang- orang yang menyaksikan keributan ini, Carlos dengan tenang menatap sang pelayan dan bertanya.


 


“Kekasihku sudah sangat lapar, dimana ruangannya?” tanya Carlos dengan nada santai, seolah dia tidak baru saja hampir mencelakai ketiga pria tadi.


 


“Ah, itu…” pelayan itu tergagap, tapi cara Carlos menatapnya mengatakan kalau dia tidak mau berada di sana lebih lama lagi. “Di sebelah sini…” ucapnya lirih.


 


Sambil mengikuti pelayan tersebut, Carlos menggenggam tangan Ayana, tapi kali ini dia memposisikan gadis itu di belakang tubuhnya.

__ADS_1


 


__ADS_2