Dark Desires Mr. Possessive

Dark Desires Mr. Possessive
Perubahan


__ADS_3

...54. Perubahan...


Dalia datang sambil membawakan segelas air mineral untuk Ayana, ketika dia datang, gadis itu telah menghabiskan separuh dari makanannya.


"Ayana, kau baik- baik saja?" tanya wanita paruh baya itu dengan lembut, dia meletakkan gelas yang dibawanya ke atas meja dan menakupkan tangannya di wajah Ayana yang memar. "Dia memukul wajahmu…" ucapnya seperti suara bisikan.


Itu bukanlah hal yang harus diutarakan, karena sangat mudah untuk mengetahui hal tersebut, lagipula ini bukanlah hal baru bagi Dalia untuk melihat Ayana dalam kondisi seperti ini.


Maka dari itu, Ayana tidak terlalu menanggapi kata- katanya. Gadis itu menyelesaikan makanannya dan meminum air putih dari gelas di sampingnya dengan wajah tanpa ekspresi.


Sebenarnya, hal ini membuat Dalia sedikit bingung, karena dia pikir Ayana akan mulai menangis saat dirinya berada di sini, seperti yang biasa dia lakukan.


Namun, tidak kali ini.


Saat ini, Ayana terlihat sangat tenang, seolah dia tidak memiliki apapun yang harus dia pedulikan.


"Ayana, bagian mana lagi yang terluka? Aku akan mengambilkan obat untuk membersihkan luka- lukamu," ucap Dalia dengan wajah yang terlihat khawatir.


Tapi, Ayana menolak tawaran tersebut dengan alasan yang masuk akal. "Carlos memukul wajahku karena dia ingin orang lain melihatnya," Ayana yakin orang lain yang Carlos maksud adalah Juan, walaupun dirinya tidak mengerti mengapa Carlos harus melakukan ini sementara dirinya tidak memiliki hubungan apapun dengan Juan. "Kalau kau mengobati lukaku sekarang, Carlos hanya akan membuat luka baru."


Mengingat besok Ayana akan bertemu dengan Juan, sepertinya dia harus membuat keputusan dengan cepat, mengenai apa yang harus dia lakukan sekarang.


"Lalu apa yang bisa kubantu?" tanya Dalia dengan dahi berkerut, dia tidak terbiasa menghadapi Ayana yang dingin seperti ini. "Kau meminta Sam untuk bertemu denganku, bukan?"


"Dalia…" ucap Ayana perlahan sambil menyingkirkan mangkok kosongnya dan meraih gelas air minum yang berada di sampingnya. "Bisakah kau menolongku?"


Dalia meringis ketika dia mendengar hal tersebut. "Kau tahu, apa yang bisa kulakukan untukmu sangatlah terbatas."


Namun, Ayana menggelengkan kepalanya dan meminum minumannya hingga tandas, sebelum dia melanjutkan kata- katanya.


"Ini adalah sesuatu yang kau bisa lakukan, lagipula, kau pernah menawarkan bantuan ini padaku," ucap Ayana. Matanya berkilat dengan penuh tekad dan untuk suatu alasan yang Dalia tidak mengerti, jantungnya berdegup lebih cepat hanya dengan melihat bagaimana Ayana memandangnya.


"Apa itu?" tanya Dalia hati- hati.


"Ajariku bagaimana cara meluluhkan hati Carlos," jawab Ayana.

__ADS_1


Kata- kata itu terdengar seperti suatu permintaan yang sama sekali tidak berbahaya, tapi cara Ayana mengatakannya serta ekspresi wajahnya, membuat Dalia bergidik.


Ayana tengah merencanakan sesuatu yang besar dan hanya dirinya yang tahu apa yang akan dia lakukan.


Mungkin benar apa yang dikatakan oleh para orang bijak di luar sana, keadaan yang ekstrim dan rasa sakit yang tak tertahankan dapat merubah kepribadian seseorang…


Carlos setengah berlari menuju apartmentnya setelah dia turun dari mobil. Pria itu bahkan tidak berhenti atau sekedar melirik penjaga di sana yang menyapanya.


Apa yang Abby sampaikan padanya melalui telepon benar- benar membuatnya naik pitam!


Sam masuk ke kamarnya tanpa izin?! Sementara di dalam kamar itu hanya ada Ayana sendirian! Apa yang pria itu sebenarnya pikirkan?!


Benar- benar kurang ajar!


Tentu saja Abby tidak akan memberitahukan hal yang sebenarnya, kalau Sam masuk ke sana untuk membawakan Ayana makanan, dan dia tidak berada di dalam kamar cukup lama untuk melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dia lakukan.


Abby tidak benar- benar berbohong, hanya saja dia membingkai kata- katanya sedemikian rupa hingga terdengar seolah sesuatu tengah terjadi antara Sam dan Ayana.


Carlos tidak dapat berpikir jernih ketika dia mendengar apa yang Ayana sampaikan. Yang ada dalam pikirannya adalah; bayangan saat dirinya menemukan Bianca dan Juan yang tengah berduaan.


Entah itu Juan sekalipun!


Dia tidak menyukai saat orang lain menyentuh apa yang menjadi miliknya!


Dengan berang, Carlos mempercepat langkah kakinya…


Sam akan berada dalam masalah besar kali ini, kalau dia sampai berada di dalam kamar Carlos bersama dengan Ayana.


"Sam?" panggil Abby, dia berjalan mendekati pria tersebut yang kemudian mendaratkan sebuah kecupan di keningnya. "Kenapa kau tidak ada di dalam kamar? Kau tidak menemani Ayana?" tanyanya sambil menatap gelisah pada pintu kamar Carlos yang tertutup.


"Kenapa aku harus menemaninya?" tanya Sam sambil melipat kedua tangannya dan menatap kekasihnya itu, merasa heran.


"Maksudku…" Abby berjalan mendekati Sam dan mengalungkan lengannya di sekitar leher pria itu dengan sikap manja. "Ayana pasti tengah mengalami hal yang berat, kenapa kau tidak menenamninya atau sekedar mengajaknya bicara… dia pasti membutuhkan teman."


"Bukankah kau temannya?" tanya Sam sambil memegang pinggul Ayana dan mencondongkan tubuhnya untuk mencium gadis itu.

__ADS_1


"Tapi, aku takut pada Carlos…" Abby berkata sambil cemberut. "Pria itu mengerikan, tapi aku juga kasihan pada Ayana…"


"Tidak usah di pikirkan…" ucap Sam sambil mengecup leher Abby. Mereka berada di koridor, di depan kamar Carlos dan Abby sedikit menarik diri sambil mengerling padanya. "Itu bukan urusan kita."


"Hei, jangan begini…" ucap Abby dengan suara yang pelan. "Tunggu aku di kamar, okay?"


Sam menaikkan alisnya dan menatap Abby. "Kau tengah merayuku di saat aku bertugas?"


"Carlos tidak ada di sini dan kita akan melakukannya dengan cepat," bisik Abby dengan suara yang rendah, sambil melemparkan pandangan nakal pada Sam.


Sam tertawa melihat bagaimana kekasihnya itu berusaha untuk membujuknya.


"Lalu, kau mau kemana?" tanya Sam ketika melihat Abby berjalan menjauh, bukan ke arah kamar mereka.


"Aku akan mempersiapkan sesuatu untukmu," jawab Abby dengan segera. "Tunggu saja di kamar."


"Okay," jawab Sam.


Namun, tawa di wajah Sam memudar ketika Abby menghilang di balik koridor.


Sam menunggu beberapa saat sebelum dia membuka pintu kamar Carlos dan memberitahu kedua wanita di dalam sana.


"Carlos dalam perjalanan ke sini, sebaiknya kau keluar sekarang Dalia," ucap Sam dengan suara yang terdengar sangat geram.


Ini bukan pertama kalinya Abby menjebak dirinya seperti ini.


Tentu saja, Sam tidak sebodoh itu untuk tidak mengetahui kalau Abby memandang Carlos dengan berbeda. Wanita itu menginginkan Carlos dan Sam pura- pura tidak mengetahui hal tersebut karena dia tahu kalau Carlos tidak akan mungkin menanggapinya.


Namun, kali ini berbeda. Carlos bisa saja membunuhnya kalau dia mengetahui hal ini dan Sam tidak tahu apa yang Abby katakan pada pria yang sulit diprediksi itu.


 ***


Cek ig story ku untuk visualisasi dan inner thought dari masing-masing karakter.


@jikan_yo_tomare

__ADS_1


__ADS_2