
Dalia meletakkan piring yang baru saja dicucinya dan menghampiri Ayana sambil duduk di samping gadis itu. “Ayana, seperti yang sudah kukatakan puluhan kali, Carlos menganggap dirimu special, kau seharusnya tidak menyia- nyiakan hal ini.”
Ayana kembali menggelengkan kepalanya, menolak kata- kata Dalia. Tidak mungkin kalau Carlos menganggapnya special. Dalia hanya salah persepsi mengenai dirinya. Dalia mengatakan itu karena dia tidak tahu bagaimana Carlos memperlakukan Ayana.
Namun, untuk Ayana mengatakan semuanya, itu terasa sangat memalukan. Ayana bahkan tidak mau memabayangkannya kembali, apalagi harus menceritakannya.
Ayana terbiasa menganggap apa yang telah terjadi hanyalah sebuah mimpi buruk dan memamksa dirinya sendiri untuk berpikir kalau kejadian itu tidak pernah terjadi.
“Kalau kau bisa membuat Carlos mempercayaimu, kalau kau bisa membuat Carlos menunjukkan perasaannya padamu, maka bukan hanya kebebasan yang akan kau dapatkan, tapi apapun yang kau inginkan, akan Carlos turuti.” Dalia tahu tipe pria seperti apa Carlos ini.
Carlos mungkin akan meniduri setiap wanita yang bisa dia miliki, tapi saat dia bersama Bianca, dia menjadi pria yang pantas dan tidak pernah sekalipun Carlos berselingkuh ataupun menyentuh wanita lain.
Yang Carlos lakukan saat ini adalah pelampiasan dari rasa marah, kesal dan frustasinya atas apa yang Bianca telah lakukan padanya.
Dalia tahu akan hal itu. Pengalamannya selama bertahun- tahun hidup denga makhluk- makhluk seperti mereka, membuat Dalia dapat membaca karakter setiap pria dengan cukup mudah.
Belum lagi dengan fakta bahwa Dalia telah melihat dan mengetahui lebih daripada yang ingin dia ketahui. Biar bagaimanapun juga, dia telah ikut dengan Carlos selama bertahun- tahun untuk dapat memahami pria ini.
“Tapi, kebebasan yang akan aku dapatkan, bukan berarti bebas dari Carlos. Aku akan semakin terjerat dengannya.” Ayana berargumentasi. Jangankan terjerat dengan Carlos, berpikir kalau dirinya harus berada di satu ruangan dengan pria itu saja sudah membuat Ayana bergidik ngeri.
“Lalu kau pikir hidup yang kau jalani kini jauh lebih baik dari itu?” Dalia mengangkat alisnya, bertanya pada Ayana.
Dan Ayana tidak bisa menjawabnya.
“Ya, memang menjadi wanita Carlos bukanlah pilihan yang bagus, tapi setidaknya kau harus memilih antara hal yang buruk dan yang paling buruk. Kalaupun kau tidak membuat Carlos menyukaimu, kau akan tetap berakhir dengannya. Jadi, kenapa kau tidak membuat dia menyukaimu dan memanfaatkan situasi?” Dalia kembali menceramahi Ayana.
__ADS_1
Sebenarnya apa yang Dalia katakan ada benarnya, tapi Ayana masih ragu dan enggan. Dia tidak ingin berada di dekat Carlos. Tapi, apa dia bisa menolak pria itu? Tentu saja jawabannya adalah; tidak.
Ayana bahkan tidak bisa membuat Carlos untuk menyingkirkan tangannya dari tubuhnya, apalagi untuk membuat pria itu menjauh.
“Dia menunjukkan ketertarikannya padamu. Manfaatkan itu untuk keuntunganmu sendiri. Karena saat Carlos sudah tidak menyukaimu lagi, dia bisa menjualmu ataupun memberikan dirimu dengan sukarela pada pria lain. Dan siapa yang akan menjamin kalau pria kedua akan memperlakukanmu dengan baik?”
Dalia menekankan point penting dari apa yang telah dia katakan berulang- ulang kali pada Ayana dan baru kini gadis itu akhirnya benar- benar memikirkan hal ini secara serius.
“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Ayana dengan suara lemah. Ayana takut. Tapi berpikir kalau Carlos akan memberikannya pada pria lain yang akan memperlakukannya jauh lebih buruk dari dirinya, sungguh membuat Ayana tidak berani, bahkan untuk membayangkannya sekalipun.
Mendengar pertanyaan Ayana, senyum di wajah Dalia terlihat sangat manis seraya dia dengan antusias menjelaskan pada Ayana apa saja yang dia ketahui dari pengalaman hidupnya.
Saat malam tiba, Dalia tengah membantu Ayana untuk merapihkan rambutnya dan memberikan sedikit polesan di wajah Ayana yang pucat, tapi hingga waktu menunjukkan pukul setengah tujuh, mereka tidak tahu kemana Carlos akan membawa Ayana pergi, sehingga Dalia tidak bisa memutuskan pakaian apa yang Ayana pantas untuk kenakan untuk acara makan malam ini.
Tebakan Dalia adalah; Carlos akan membawa Ayana untuk mendatangi salah satu pesta malam yang biasa Carlos kunjungi, tapi hal itu juga belum bisa dipastikan.
Maka dari itu, hingga kini, Ayana masih mengenakan celana jeans dan kaus putih polos yang biasa dia gunakan setiap harinya.
Mengenai pakaian, Carlos tidak kekurangan pakaian wanita di rumahnya, ada sebuah ruangan khusus yang memang masih menyimpan pakaian- pakaian Bianca. Walaupun Carlos tidak pernah memasuki kamar itu lagi, tapi Dalia memastikan segala sesuatunya terorganisir di sana.
“Rambutmu sudah selesai di tata, make up pun sudah, berarti kau tinggal menunggu Carlos untuk membawakan baju untukmu saja.” Dalia menatap Ayana dan tersenyum puas melihat gadis cantik di hadapannya ini.
Tepat pada saat itu, Abby masuk ke dalam kamar Ayana, kali ini dia tidak mengetuk pintu lagi, tapi langsung masuk begitu saja, sikapnya pun tidak sehangat biasanya.
__ADS_1
“Carlos mencarimu,” ucap Abby. Dia tampak cantik dan menggoda dengan gaun merah yang hanya menutupi separuh pahanya dan make up- nya yang membuat dirinya terlihat sangat seksi.
Ayana tersentak ketika mendengarnya, dia masih saja belum terbiasa. Tapi, Dalia mengangguk, seolah memberinya dukungan dan tersenyum meyakinkan.
“Okay,” jawab Ayana, dia merasa tenggorokannya tiba- tiba berubah menjadi gurun pasir, begitu kering.
Di sisi lain, Abby menatap Ayana dengan sinis. Dia tahu kalau dengan penampilannya saat ini, dia jauh lebih menggoda daripada Ayana, tapi ada sesuatu dalam diri gadis itu yang membuat orang lain menjadi penasaran dan membuatnya terlihat jauh lebih menarik.
Sikap Ayana yang malu- malu dan kepolosannya merupakan hal yang tidak akan pernah Abby miliki. Aspek ini juga yang membuat Carlos begitu memperhatikan Ayana, setidaknya menurut Abby. Dan ini membuat dirinya begitu iri.
Ayana berjalan melewati Abby dan Abby mengikuti dari belakang.
Namun, ketika Ayana ingin mengajaknya bicara, Abby justru berbalik ke ruang tamu dan mendekati Sam di sana, wanita itu kemudian duduk di pangkuan Sam dan hal selanjutnya yang mereka lakukan membuat Abby memalingkan wajahnya dan mempercepat langkah kakinya.
Tapi, itu juga berarti dia akan sampai di kamar Carlos jauh lebih cepat.
Ayana ragu- ragu untuk mengetuk pintunya, tapi pilihan apa yang dia punya setelah sampai di posisi ini? Akhirnya, setelah ketukan kedua, suara Carlos terdengar, menyuruh Ayana untuk masuk.
Ayana melangkah dengan perlahan ke dalam kamar itu, dia tidak menyangka kalau semalam dirinya tidur di kamar Carlos dan tidak menyadari apapun.
“Gaunmu ada di atas ranjang, pakai sekarang.” Carlos bahkan tidak berbalik untuk menatap Ayana saat dia tengah memilih pakaian untuk dirinya sendiri.
Dan ketika Ayana melihat gaun seperti apa yang akan dia kenakan, dia terkesiap.
__ADS_1