Dark Desires Mr. Possessive

Dark Desires Mr. Possessive
Hickeys


__ADS_3

Gaun berwarna silver itu terlalu terbuka, entah itu bagian depan ataupun bagian belakangnya dan Ayana tidak yakin kalau dia sanggup mengenakan pakaian seperti itu dan melangkah keluar dari kamar, apalagi harus menghadiri sebuah acara makan malam.


 


Ayana tertegun menatap gaun itu. Seandainya dirinya adalah Abby, maka mungkin dia akan senang saja mengenakannya dan tampak sensual, tapi Ayana tidak berpikir kalau dirinya dapat mengenakan gaun semacam itu.


 


Gadis itu berdiri di samping ranjang, menatap gaun berwarna silver yang mungkin hanya akan menutupi separuh pahanya, ditambah dengan bagian- bagian yang terbuka, bukankah sama saja dengan dirinya telanjang?


 


“Apa yang kau lakukan? Kalau kau tidak segera mengenakan pakaian itu, kita akan terlambat menghadiri makan malam,” ucap Carlos memperingatkan. Dia sendiri telah mengenakan celana berwarna hitam dan kaus putih sebagai dalaman, tapi berhenti ketika dia menyadari Ayana bergeming di tempatnya.


 


“Apa lagi sekarang?” tanya Carlos dengan kesal. Dia kemudian berjalan mendekati Ayana dan melihat apa yang tengah gadis itu tatap. “Kau tahu, harga baju ini bisa membeli lima anomic sepertimu, jadi berhenti bersikap naïf dan pakai baju itu.”


 


Ayana menggelengkan kepalanya. Melupakan semua yang Dalia telah ajarkan padanya. Yang dirinya tahu saat ini adalah, dia tidak ingin keluar dari rumah ini dengan mengenakan pakaian seperti itu.


 


Carlos berjalan menghampiri Ayana dan gadis itu mundur untuk menjauhinya, tapi tentu saja biar bagaimanapun juga, Ayana tidak akan pernah bisa menghindari Carlos.


 


Dengan cepat, Carlos menangkap tubuhnya dan mencengkeram bahunya hingga terasa menyakitkan dan dengan kasar, Carlos merobek baju yang Ayana kenakan. “Pakai baju itu.” Carlos menunjuk gaun silver di atas ranjangnya. “Atau kau akan keluar rumah ini tanpa mengenakan apapun.”


 


Ayana menutupi tubuhnya dengan tangan dan rambutnya, tapi tentu saja Carlos telah melihat seluruh inci dari kulitnya.


 


“Sekarang,” tegas Carlos lagi. “Kalau kita sampai terlambat karena dirimu, maka kau tahu kan, apa yang akan menantimu sepanjang malam?” suara Carlos tidak terdengar seperti seseorang yang tengah mengancam, tapi tetap saja makna di balik kata- katanya membuat Ayana terpaksa menganggukkan kepalanya dengan patuh.


 


Buru- buru Ayana mengambil gaun yang sangat enggan dia kenakan dan segera berjalan ke arah bathroom yang tersambung ke kamar Carlos.


 


Bathroom di dalam kamar Carlos sangat luas, bahkan bisa dibilang lebih luas daripada kamarnya sendiri. Dengan bathup yang terlihat sangat apik dan unik serta segalanya yang terlihat sangat bersih dan elegan, Ayana akan lebih dari bersyukur kalau dia bisa ditinggalkan di bathroom ini saja daripada harus menghadiri pesta makan malam bersama Carlos.


 

__ADS_1


Tapi, tentu saja dia tidak memiliki pilihan itu. Pilihannya sangat terbatas dan harus dia lakukan sekarang adalah mematuhi perintah Carlos dan mengenakan gaun silver ini.


 


Karena kaos yang Ayana kenakan sudah di robek oleh Carlos, maka dia hanya tinggal melepas celana jeans yang dirinya kenakan. Dan dalam waktu kurang dari dua menit, Ayana dengan mudah mengenakan gaun itu.


 


Gaun silver itu hanya mencapai lututnya dengan bagian depan yang terlalu rendah dan bagian belakang yang hanya tertutup tali- tali tipis berwarna senada.


 


Paling tidak, dengan rambut Ayana yang panjang, dia masih bisa menutupi sebagian besar kulitnya yang terkespos.


 


Setelah Ayana melipat celana jeansnya, dia berjalan keluar, dimana Carlos telah menunggunya. Namun, reaksi Carlos sama sekali bukan apa yang Ayana duga.


 


Wajah Carlos tertekuk dengan kerutan yang dalam di antara ke dua alisnya.


 


“Kemari,” panggil Carlos pada Ayana sambil melambaikan tangannya.


 


 


Ayana berdiri tepat di hadapan Carlos yang tengah duduk di atas single sofa berwarna maroon. Begitu Ayana telah berdiri dalam jangkauannya, Carlos segera menarik Ayana dan membuat gadis itu terpekik tertahan.


 


Tubuh Ayana jatuh di atas pangkuan Carlos dan pria itu menahan dirinya agar stabil sementara tangannya yang lain menyusuri lengan kiri Ayana.


 


Pada awalnya Ayana tidak tahu apa yang menarik perhatian Carlos, tapi saat dia menggerutukan sesuatu yang tidak jelas, barulah Ayana memberanikan diri untuk melihat apa yang sebenarnya telah menarik perhatian pria bengis ini.


 


Ayana menoleh dan mendapati luka memar di lengannya, yang terlihat sangat jelas kalau dia mengenakan pakaian seperti ini.


 


Bukan hanya di lengan atasnya, tapi juga di pundak dan beberapa bagian di area dadanya, terlihat ada bekas- bekas hickeys yang Carlos tinggalkan saat terakhir kali dirinya mendatangi kamar Ayana di malam hari.

__ADS_1


 


“Ini karena aku?” Carlos menatap wajah Ayana, rahangnya terkatup rapat. Jelas- jelas tidak senang dengan apa yang dilihatnya. Dan ketika Ayana mengangguk, nada suara Carlos menjadi semakin dingin. “Aku sudah tidak menyentuhmu lebih dari seminggu, jadi bagaimana mungkin bekas- bekas ini masih ada?”


 


Sebenarnya, kulit Ayana sangat sensitif, memar yang biasanya akan hilang dalam waktu seminggu bagi beberapa orang, tapi bagi Ayana akan lebih daripada itu.


 


Karena memar- memar dan hickeys yang Carlos tinggalkan inilah, makanya Ayana jarang melihat tampilan dirinya di cermin dan karena tanda- tanda itu tertutup oleh pakaiannya, maka Ayana tidak pernah memperhatikannya dan menganggap semua itu tidak pernah terjadi dan ada.


 


“Kau bermain dengan pria lain?” Carlos menuduh sambil mengangkat dagu Ayana dengan kedua jarinya. Menatap tajam ke dalam mata Ayana yang ketakutan.


 


“Tidak, bagaimana mungkin…” Ayana menggelengkan kepalanya kuat- kuat. “Aku selalu ada di dalam rumah.” Suaranya terisak ketika rasa takut mencengkeram erat hatinya.


 


Carlos akhirnya sadar, kalau apa yang dia tuduhkan tidak mungkin terjadi. Tidak ada orang yang masuk ke dalam rumahnya dan tidak mungkin Ayana memasukkan pria lain ke dalam apartment ini.


 


Dengan ujung jarinya, Carlos mengusap memar yang telah dia buat di kulit Ayana. Entah kenapa selama lima hari itu dia merasa tidak tenang dan melampiaskan perasaan tidak nyamannya dengan mabuk, sehingga dia tidak begitu menyadari apa yang telah dia lakukan pada Ayana.


 


Tapi, kalaupun saat itu Carlos sadar, ini bukan pertama kalinya dia menyakiti wanita, baik secara fisik ataupun psikis, hanya saja, melihat memar di tubuh Ayana dia merasakan sedikit perasaan… bersalah.


 


Carlos tertawa kecil ketika dia berpikir seperti itu dan menggelengkan kepalanya.


 


Perasaan bersalah? Sungguh satu kata yang menggelikan. Sejak kapan Carlos pernah merasa bersalah?


 


Namun, Carlos tahu pasti kalau dia mulai bertingkah brutal seperti ini setelah apa yang terjadi antara Bianca dan Juan.


 


 

__ADS_1


__ADS_2