
“Makan siang…?” Ayana berkata dengan gugup. Dia masih menatap Carlos dengan waspada. Walaupun pria itu tersenyum sangat manis dan tampak ramah. Ayana tahu, monster seperti apa yang bersemayam di dalam diri pria itu.
“Ya, makan siang. Aku lapar,” ucap Carlos sambil melambaikan tangannya. “Aku akan menunggumu di dapur. Sebaiknya kau cepat buatkan aku sesuatu untuk dimakan, sebelum kau yang aku makan.”
Tubuh Ayana menegang ketika mendengar hal itu dan tanpa berpikir panjang, dia berjalan mengikuti Carlos keluar kamar menuju dapur.
Begitu Ayana sudah tiba di sana, Carlos telah duduk di barstool, tempat biasa Ayana duduk, menumpukan dagunya di atas jarinya yang terjalin dengan menopang sikunya di atas counter.
Tadi saat Carlos datang, Ayana berniat akan membuat mie goreng, tapi karena dia mendengar pria itu telah kembali, Ayana masih belum sempat membereskan bahan- bahan yang akan dia gunakan. Semuanya masih tertumpuk di atas meja dapur.
Tapi, Ayana tidak tahu, apakah Carlos mau memakan makanan yang sama. Maka dari itu, dia bertanya lebih dulu. “Apa yang ingin kau makan?”
Suara Ayana begitu pelan sehingga seperti sebuah bisikkan, tapi Carlos masih dapat mendengarnya dengan jelas.
“Apa yang akan kau buat?” Carlos mengangguk ke arah bahan- bahan makanan yang Ayana tinggalkan.
“Mie goreng,” jawab Ayana, lalu dia bertanya ragu- ragu. “Apa kau mau mie goreng?”
Carlos memicingkan matanya, “kau bisa masak?”
“Aku biasa masak untuk keluarga asuhku sebelumnya… tapi, aku tidak yakin kalau ini akan sesuai dengan seleramu,” Ayana berkata sambil berjalan ke depan kompor elektrik dan mulai mendidihkan air.
“Kau sesuai dengan seleraku, jadi kurasa yang kau masakpun akan sesuai dengan seleraku.” Carlos menyeringai dan tawanya membahana di dapur itu ketika dia melihat Ayana tampak sangat ketakutan dengan apa yang dia maksud.
Tanpa bertanya atau berkata apapun lagi, Ayana segera memfokuskan dirinya untuk membuat mie goreng untuk Carlos. Tangannya yang gemetar dan tatapan Carlos yang terpancang di setiap gerakannya, membuat Ayana merasa rikuh.
Ayana ingin mengatakan pada Carlos untuk berhenti menatapnya seperti itu, tapi sangat tidak mungkin baginya untuk meminta hal itu. Carlos tidak akan mendengar dan Ayana mungkin akan mendapatkan lebih daripada hanya sekedar tatapan tajam saja. Hal terakhir yang Ayana butuhkan adalah; Carlos berada di dekatnya.
__ADS_1
Hanya butuh sekitar lima belas menit bagi Ayana untuk mempersiapkan makan siang Carlos. Setelah selesai, Ayana menaruh mie tersebut di atas mangkuk putih dan meletakkannya tepat di depan pria itu.
Aroma harum yang menggugah selera segera menghampiri indera penciuman Carlos, terutama ketika sumber aroma itu tepat berada di depan matanya.
Dengan hanya aroma dan plating- nya saja, Carlos sudah tersenyum dengan senang. Perutnya terus memanggil dirinya untuk mencicipi. Tapi, dahinya mengernyit ketika dia melihat Ayana hendak pergi.
“Mau kemana kau?” tanya Carlos dengan nada tidak suka.
“Aku… aku akan kembali ke kamar,” jawab Ayana takut- takut. Dia sudah menyelesaikan tugasnya, apalagi yang Carlos inginkan?
“Duduk dan temani aku makan,” perintah Carlos, kali ini suaranya terdengar serius, dia tidak lagi terdengar menggoda ataupun tengah bermain- main.
Ayana ragu- ragu, tapi dia tidak ingin mencari masalah dengan pria ini, jadi dia menuruti apa yang Carlos inginkan. Ayana duduk di barstool di hadapan Carlos sambil menundukkan kepalanya. Berharap pria ini akan menyelesaikan makan siangnya dengan cepat dan tidak mengganggunya lagi.
“Aku… aku hanya membuat satu porsi,” ucap Ayana. Bahan yang ada hanya cukup untuk satu porsi, jadi dia hanya membuatkannya untuk Carlos saja.
Mendengar hal itu, Carlos melepaskan garpu ditangannya hingga menimbulkan suara berdentang yang cukup nyaring dan ini membuat Ayana terkejut. Gadis itu semakin menundukkan kepalanya dengan tubuh gemetar.
Ayana pikir, Carlos akan memukulnya lagi atau melakukan tindakan yang tidak dia inginkan, tapi setelah keheningan yang rasanya telah berlangsung selama berabad- abad, Carlos berdiri dari kursinya dan menuju lemari gantung, dia mengambil satu lagi piring bersih dan sebuah garpu.
Setelah itu, Carlos kembali ke tempat duduknya, membagi mie goreng yang Ayana buat menjadi dua dan memberikan separuhnya pada gadis itu.
“Makan,” ucap Carlos dengan nada memerintah. Dia mendorong piring itu ke depan wajah Ayana dan mulai memakan kembali bagiannya. “Aku tidak suka membuat orang kelaparan.”
Ayana terkejut dengan tindakan yang Carlos lakukan. Dia tidak menyangka kalau pria itu justru memberinya makan.
__ADS_1
“Apalagi yang kau tunggu?” tanya Carlos tidak sabar. “Makan.”
Ayana mengangguk dan dengan takut- takut, dia meraih garpu di atas piringnya dan mulai menggulung mie tersebut, melilitkannya di sekitar garpunya dan mulai makan dengan perlahan.
“Masakanmu enak,” puji Carlos dan dia mendengar Ayana menggumamkan ‘terimakasih’ dengan sangat pelan, seolah dengan begitu dia berharap dirinya tidak akan menarik perhatian Carlos. “Apa kau selalu memasak?”
“Aku terbiasa memasak untuk setiap keluarga asuhku…” Ayana menjawab sejujurnya, walaupun dia tidak tahu mengapa Carlos memulai percakapan ini.
“Hm…” Carlos bergumam dan melanjutkan makan. “Sudah berapa kali kau berganti keluarga asuh?” tanyanya kembali setelah beberapa saat. Sudah menjadi rahasia umum kalau anomic akan memiliki keluarga asuh lebih dari satu, apalagi untuk keluarga yang hanya menginginkan uang tunjangan saja, karena semakin dewasa anak asuh tersebut, maka semakin tidak diinginkan mereka.
“Enam kali,” jawab Ayana. Obrolan ini terasa aneh, karena Carlos tidak biasanya mengajaknya bicara dengan topik yang normal.
“Dimana kau saat dirimu berusia delapan tahun?” itu berarti sepuluh tahun yang lalu. Waktu yang sama seperti ketika Juan bertemu dengan gadis kecil yang selama ini dia cari.
“Delapan tahun?” Ayana mengulangi pertanyaan Carlos. Dia mencoba mengingatnya. “Aku… aku berada di kota R, di rumah keluarga asuhku yang ketiga.”
“Kota R…” Carlos mengulanginya dengan nada melamun dan menandaskan makan siangnya tanpa sisa. “Apa kau pernah mengalami kejadian yang membekas saat berada di sana?”
Kali ini Ayana mengangkat kepalanya. Dia tidak yakin apa yang Carlos ingin tanyakan. Tapi, dirinya memang pernah mengalami sesuatu, sayangnya, ingatan mengenai kejadian itu tidak begitu terekam jelas dan hanya memori samar yang terkadang datang dalam bentuk mimpi buruk.
“Aku tidak begitu mengingatnya…” Ayana menjawab dengan jujur dan tersentak mundur ketika Carlos menghampirinya.
Tubuh Ayana kembali bereaksi atas kedekatan antara dirinya dan Carlos. Pria itu terlalu dekat saat dia berdiri tepat di hadapan Ayana.
Carlos lalu berlutut di depan Ayana dan meletakkan tangannya di atas paha Ayana, sehingga gadis itu tidak bisa kemana- mana. “Ceritakan padaku apa yang kau ingat.”
__ADS_1