
Tidak lama berselang setelah Carlos pergi, seseorang membuka kunci pintu kamar.
Dari celah pintu yang terbuka, Ayana dapat melihat dua orang pria berdiri di samping ke dua sisi pintu, mengenakan jas hitam yang sudah sangat sering Ayana lihat.
Mereka pasti adalah orang- orang suruhan Carlos, yang dia minta untuk menjaga Ayana agar tetap berada di dalam kamar.
Seharusnya Carlos tidak perlu melakukan itu, bagaimana mungkin Ayana bisa keluar dari kamar ini kalau dia telah menguncinya? Kecuali kalau Ayana memilih untuk melompat dari lantai dua belas dan secara ajaib dapat selamat. Tentu saja Ayana tidak akan melakukan hal tersebut.
Sambil berdiri di dekat tempat tidur, Ayana melihat pelayan hotel tersebut meletakkan pakaian bersih di atas kasur dan menatap Ayana dengan pandangan penuh tanya dan dahi yang sedikit berkerut melihat luka- luka lebam di sekitar wajah Ayana.
Namun, pada akhirnya dia memilih untuk tidak mengajukan pertanyaan dan tidak ingin ikut campur dalam masalah tamu- tamu di sini, yang kesemuanya sudah pasti memiliki pengaruh besar dan dapat melakukan apapun yang mereka suka tanpa tersentuh hukum.
Pelayan wanita itu tersenyum samar dan mengangguk pelan pada Ayana, sebelum akhirnya dia memilih untuk pergi.
Ayana berjalan mendekati pakaian yang wanita tadi letakkan dan mulai mengenakannya dengan perlahan. Tubuhnya terasa sangat sakit, terutama ketika kulit Ayana yang luka menggesek kaus tersebut.
Setelah Ayana selesai berpakaian, dia menatap tampilan dirinya di depan kaca dan melihat seorang gadis muda yang tampak kuyu, pucat dan lebam menatap kembali ke arahnya.
Kaus putih yang Ayana kenakan, dipadu dengan celana jeans berwarna gelap membuat tubuh Ayana terlihat jauh lebih kurus dan memprihatinkan.
Belum lagi karena kaus tangan pendek tersebut tidak dapat menutup luka- luka di lengan dan lehernya, serta wajahnya, Ayana tampak seperti seorang korban tindak kriminal.
Sebenarnya, Ayana bisa dikatakan kalau dia merupakan korban tindak kekerasan yang dilakukan Carlos padanya. Tapi, apa yang bisa dia lakukan?
Melaporkan pada pihak yang berwajib? Dengan statusnya yang rendah di masyarakat ini, terakhir kali dia berusaha mencari perlindungan, petugas- petugas tersebut justru menyerahkan dirinya.
Ayana mulai bertanya- tanya pada dirinya sendiri. Sebenarnya apa yang dia inginkan dalam hidup ini? Dia tidak mungkin bertahan hidup dengan cara seperti ini.
Karena apabila Carlos telah bosan dengannya, maka sudah bisa dipastikan pria itu akan dengan mudah membuang Ayana.
Dan kehidupan Ayana akan jauh lebih buruk daripada ini.
Sambil merapihkan rambutnya, dan sebisa mungkin menutupi memar- memar yang mulai terlihat jelas, Ayana duduk di tepi ranjang, menunggu kedatangan Carlos, sambil mempertimbangkan tawaran Juan.
__ADS_1
Dia harus cepat mempelajari bagaimana bertahan hidup dalam lingkungan yang mengerikan ini.
***
“Kau sepertinya sangat menyukai gadis itu,” ucap Juan saat Carlos masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil beberapa berkas penting.
“Hm,” gumam Carlos sambil memeriksa kelengkapan dokumen yang Juan serahkan padanya. “Dia special untukku saat ini,” tambahnya lagi.
“Begitu…” Juan menganggukkan kepalanya sambil melihat ke arah jendela kamar, di luar sana hari sudah semakin terang dengan cahaya matahari siang yang menyilaukan. “Punya alasan khusus kenapa kau memilih gadis itu?”
Carlos mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh. “Entahlah… hanya berpikir kalau dia cukup menyenangkan.”
“Sepertinya seleramu berubah,” ucap Juan, menanggapi jawaban Carlos. “Tampaknya, kau lebih menyukai gadis yang tidak berpengalaman sekarang.”
Carlos merapihkan dokumen- dokumen di tangannya dengan santai dan menatap Juan dengan sebuah senyum manis di bibirnya. “Karena wanita- wanita yang berpengalaman sangat sulit untuk diatur dan pada akhirnya, di saat mereka memiliki kesempatan, mereka cenderung akan memilih untuk bergabung di tempat tidurmu dan meninggalkan ranjangku,” jawab Carlos dengan nada ringan, seolah dia tengah bercanda.
Bianca.
Wanita satu- satunya yang mampu menaklukkan Carlos dan membuat pria itu memikirkan sebuah pernikahan.
Ya. Bagi orang- orang seperti Carlos dan Juan, sebuah pernikahan adalah bahan lelucon yang sama sekali tidak ada dalam agenda keseharian mereka.
Kalaupun mereka akan memilih seorang wanita yang akan mereka nikahi, maka itu hanyalah semata demi keuntungan bisnis ataupun hanya sebagai public display.
Dan yang pasti, bukan wanita seperti Ayana.
“Baiklah, aku akan memeriksa semua ini,” ucap Carlos karena Juan tidak membalas kata- katanya.
Carlos tahu, setiap kali dirinya menyinggung masalah Bianca, Juan tidak akan mengutarakan apapun. Walaupun dulu telah terbukti kalau Bianca lah yang menggoda Juan, tapi Carlos selalu berpikir kalau Juan pun memiliki andil yang sama dalam kesalahan ini.
“Hm,” gumam Juan sambil memutar- mutar ballpoint di tangannya dan menyandarkan punggungnya ke tembok. “Sampai ketemu dua hari lagi dalam bisnis trip kita, kalau begitu.”
__ADS_1
Carlos melambaikan tangannya pada Juan sambil berjalan santai menuju pintu, tapi kemudian langkahnya terhenti ketika dia mendengar Juan bertanya.
“Apa kau akan membawa Ayana juga?” tanya Juan. “Tampaknya begitu…” dia menjawab pertanyaannya sendiri. “Dia benar- benar istimewa di matamu kalau begitu…”
Carlos berbalik dan menatap Juan dengan sikapnya yang easy- going seperti biasa. “Kau akan tahu betapa istimewanya gadis itu kalau kau mengetahuinya lebih jauh.”
Carlos mengatakan hal tersebut dengan nada yang kasual, tapi kata- katanya memiliki makna ganda. Dan Juan menangkap makna lain di balik kata- katanya itu.
“Kalau begitu aku akan mencari tahu, kalau kau tidak keberatan,” Juan berkata dengan nada menantang. “Mungkin, informasi yang kudapatkan akan mengejutkanmu.”
“As you wish,” Carlos tertawa dan meninggalkan ruangan tersebut. “Atau mungkin, kau yang akan terkejut nantinya.”
***
Ayana sedikit terkejut ketika pintu kamar terbuka, karena dia sedang memikirkan sesuatu dengan dalam.
“Terkejut?” tanya Carlos sambil berjalan dengan langkah panjang, melintasi ruangan. Dia menatap Ayana yang terlihat pucat dan tampak jelas tengah menahan rasa sakit.
Lalu matanya menatap bilur- bilur yang mulai membiru di kulitnya yang tak tertutupi oleh kaos.
Dengan sigap, Carlos melepaskan jaket yang dia kenakan dan menyampirkannya di bahu Ayana, “Pakai itu, aku tidak mau ada orang yang menangkap foto diriku bersama dengan seorang gadis yang babak belur.”
Ayana segera mengenakan jaket yang Carlos berikan padanya dan mengangkat wajahnya dengan takut- takut.
“Bagaimana dengan luka di wajahku?” tanya Ayana dengan berani. Bisa dikatakan ini adalah pertama kalinya Ayana berinisiatif untuk berbicara pada Carlos lebih dulu.
Carlos lalu mengangkat tangannya dan mengusap sisi wajah Ayana yang membiru sambil memicingkan mata. “Sakit?”
“Hm,” gumam Ayana sambil mengangguk.
Lalu tanpa diduga, Carlos menunduk dan mencium luka tersebut dengan lembut.
__ADS_1