
“Ah, ya aku baru akan kembali,” Ayana berkata dengan kikuk dan membalikkan badannya. Tanpa dia sadari, dia telah berlari sepanjang koridor. Melewati dapur dan kembali ke kamarnya.
Jantung Ayana berdegup sangat kencang ketika dia naik ke atas ranjang dan menatap pintu untuk waktu yang cukup lama. Takut kalau- kalau Abby akan menyeruak masuk.
Ini pertama kalinya Abby menatap Ayana dengan tatapan seperti itu. Sebuah tatapan permusuhan.
Ayana terbiasa dengan Abby yang selalu terlihat ceria dan bersahabat. Maka dari itu, ketika Abby berbicara padanya dengan kasar, Ayana merasa takut. Apakah dia telah melakukan kesalahan dengan memergoki Abby yang tengah berselingkuh di rumah kekasih bosnya?
Seharusnya Abby tahu kalau Ayana sama sekali tidak peduli dengan apa yang tengah dia lakukan saat ini. Bukan urusan Ayana dengan siapa Abby ingin bersama.
Ayana menatap jam di dinding dan melamun. Tidak banyak yang bisa dia lakukan di rumah ini kecuali menatap kosong ke tembok putih di depannya.
Ayana hanya berharap kejadian ini tidak mengubah apapun dalam hubungannya dengan Abby. Walaupun, entah kenapa hatinya menjadi tidak tenang.
***
“Ayana, boleh aku masuk?”
Suara Abby terdengar saat dia berdiri di ambang pintu kamar Ayana dan menatap gadis yang tengah duduk di atas ranjang, dengan ragu- ragu.
“Tentu saja, masuklah…” Ayana tersenyum senang mendapati Abby mengunjungi kamarnya. Dia telah sengaja untuk tidak keluar kamar seharian ini karena Ayana masih dapat mendengar suara tawa pria itu di ruang tamu dan sesekali disertai dengan suara Abby yang mengatakan sesuatu.
Abby perlahan masuk ke kamar Ayana dan duduk di sebelah gadis itu.
“Ada apa?” Ayana bertanya, menatap Abby dengan seksama dan menyadari kalau gadis itu sedang gugup.
Untuk sesaat Abby tidak mengatakan apa- apa, tapi kemudian dia menghela nafas dan berkata pelan. “Mengenai kejadian tadi…”
__ADS_1
Dengan menyebutkan hal itu, Ayana mengerti apa yang akan Abby katakan. “Tidak apa- apa. Aku tidak akan mengatakan apapun pada siapapun.”
Abby lalu menatap Ayana dengan sorot mata terkejut, tapi ada binar riang di sana. “Sungguh?”
Ayana mengangguk dengan pasti. “Itu adalah urusanmu. Aku tidak punya hak untuk ikut campur dan juga tidak ingin terlibat.”
“Terimakasih Ayana!” Abby lalu memeluk gadis di depannya dan tersenyum senang dan Ayana melakukan hal yang sama.
Namun, yang tidak Ayana ketahui adalah; senyum Abby segera memudar begitu Ayana tidak melihatnya. Sorot matanya menjadi lebih dingin saat dia menatap kosong pantulan dirinya di cermin ketika dia memeluk Ayana dengan erat.
***
Pria yang datang bersama Abby bermalam dan baru pergi keesokan paginya dan Dalia masih belum kembali bahkan setelah waktu menunjukkan jam makan siang.
Ayana sedang membuat makan siang dan Abby tengah tidur di kamar tamu. Kamar yang memang selalu dia dan Sam gunakan setiap kali mereka menginap di rumah ini.
Sebisa mungkin, Ayana menghindari bertemu dengan Carlos. Dia tidak ingin pria itu memiliki ide yang tidak menyenangkan mengenai dirinya.
Di sisi lain, Carlos berjalan masuk ke dalam rumahnya, tampak lelah dan suntuk. Perjalanan bisnis kali ini sangat tidak menyenangkan dan terasa sangat monoton. Dia menginginkan sesuatu yang baru, tapi di saat yang sama, tidak mengerti apa yang dia inginkan.
Karena kesibukannya ini juga, urusan Carlos untuk mencari tahu latar belakang Ayana menjadi sedikit tertunda. Dia berniat untuk menanyakan langsung pada Ayana mengenai luka bakar di pinggul kirinya, tapi sebelum itu, rasa lapar memanggil dirinya untuk melahap sesuatu.
“Sial,” gerutu Carlos ketika menyadari kalau Dalia tidak ada di rumah untuk menyiapkan makan siang. Wanita paruh baya itu baru saja menghubunginya kalau dia baru akan kembali nanti malam. “Sam, minta Abby untuk memasak sesuatu.”
Mendengar hal itu, Sam tertawa terbahak- bahak. “Aku lebih menyarankan dirimu untuk memesan makanan saja daripada meminta dia untuk memasak.”
Sam tahu kalau Carlos tidak begitu menyukai makanan di restorant. Walaupun pria ini terlihat riang dan mudah di dekati, tapi sebenarnya Carlos akan tampak sama mengerikannya dengan Juan saat dia marah. Hanya saja, fakta lain yang cukup membuat orang lain terkejut adalah; Carlos lebih menyukai makanan rumahan.
__ADS_1
“Argh!” Carlos menggerutu dan melempar jasnya dengan sembarangan, meninggalkan Sam yang tergelak tertawa. “Bagaiamana bisa kau bertahan selama bertahun- tahun dengan wanita yang tidak bisa memasak?”
Tawa Sam semakin keras mendengar omelan Carlos. “Karena dia hebat di atas ranjang,” jawab Sam dengan asal. Tentu saja itu bukan alasan mengapa Sam memilih untuk bersama Abby. Dia mencintai wanita itu. “Kalau kau tidak ada perlu lagi, aku akan mencari wanitaku.”
Carlos berdecih dan melempar tatapan memperingatkan pada Sam. “Jangan membuat suara- suara yang mengganggu, aku butuh istirahat.”
Sam mengangkat tangannya. “Aku akan berusaha untuk tidak terlalu terbawa suasan.”
Mendengar hal itu, Carlos mendengus sebal. Dia lalu berjalan menuju dapur dan mendapati kelebatan sosok Ayana yang melarikan diri dari sana.
Gadis itu tampak terlalu ketakutan untuk berada di satu ruangan dengan Carlos.
Sebenarnya, Carlos tidak sepenuhnya sadar ketika dia mendatangi kamar Ayana di setiap malamnya, sebelum dia melakukan perjalanan bisnis berhari- hari lalu. Dia mabuk saat itu. Jadi ingatannya mengenai apa yang dia lakukan pada Ayana hanyalah bayangan- bayangan samar di balik ingatannya.
Namun, Carlos cukup yakin kalau dia telah menyakiti gadis itu lagi. Secara sengaja ataupun tidak, Carlos tidak begitu peduli. Seharusnya Ayana cukup berterimakasih padanya karena dia telah membiarkannya hidup.
Carlos lalu mengikuti Ayana hingga ke kamarnya dan membuka pintunya tanpa mengetuk lagi. Dia dapat melihat gadis itu melompat dari tempat tidurnya dan menatap Carlos dengan waspada.
Wajahnya yang bertaut cukup lucu bagi Carlos. Ayana seperti anak kucing kecil yang tersesat dan berusaha untuk menunjukkan cakarnya, tapi tidak cukup berani untuk melawan.
“Aku butuh kau,” ucap Carlos dengan sebuah senyum di sudut bibirnya. Dia menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu dan menatap Ayana, membiarkan gadis itu salah paham dengan tujuannya yang sebenarnya.
Ayana bergerak semakin jauh hingga punggungnya menabrak lemari dan ini membuat Carlos tertawa.
“Aku butuh kau untuk masak makan siang karena Dalia tidak ada. Jangan terlalu berimajinasi terlalu jauh. Aku terlalu lelah untuk ‘melayanimu’.” Carlos mengerling pada Ayana.
Sikap pria ini begitu berbeda ketika dia menyakiti Ayana saat dia menginginkan tubuh gadis itu.
__ADS_1