Dark Desires Mr. Possessive

Dark Desires Mr. Possessive
Konsekuensi (2)


__ADS_3

Ayana menelan ludahnya dengan susah payah ketika dia mendengar hal itu, degup jantungnya yang bertalu- talu di dadanya sungguh menyakitkan, dia bahkan kesulitan untuk bernafas ketika dirinya mendengar hal kejam tersebut dari mulut Juan.


 


Bukan penjara yang akan menanti dirinya kalau Ayana sampai membunuh Carlos, tapi hukuman dari Juan. Dan Ayana sangat yakin kalau apapun jenis hukumannya itu, dirinya tidak akan sanggup untuk menanggungnya.


 


Mungkin benar apa yang di katakan Juan. Apa yang Ayana terima saat ini akan terlihat jauh lebih manis dari apa yang menantinya nanti.


 


“Maka dari itu,” Juan berkata sambil mengulurkan tangannya dan menyingkirkan helaian rambut yang menempel di sisi wajah Ayana, yang kini terlihat sangat pucat. “Maka dari itu, sudah ku katakan bukan? Kalau kau ingin membunuhnya, lakukan segera dan jangan menunggu lama. Tapi…”


 


Juan menurunkan tangannya dan menelusuri rahang Ayana hingga turun ke lehernya dan kemudian dia mencengkeram leher kecil tersebut.


 


Leher Ayana terasa hangat dalam cengkeraman tangan Juan yang dingin, tubuhnya sedikit gemetar saat tangan tersebut menelusuri lekuk lehernya lalu turun hingga ke pundak, menelusuri lengan Ayana dan lalu berhenti di tangannya yang tengah menggenggam gunting yang tajam.


 


Dengan mudah dan tanpa perlawanan, Juan mengambil gunting tersebut dari tangannya dan membuat Ayana kehilangan benda terakhir yang bisa dia gunakan untuk melindungi dirinya.


 


Atau setidaknya itulah yang Ayana pikirkan ketika dia menggenggam benda tersebut. Namun sebenarnya, benda apapun yang Ayana pegang saat ini, tidak akan menolongnya sama sekali kalau dirinya sendiri tidak memiliki keberanian untuk melawan.


 


“Tapi…” Juan melanjutkan kata- katanya dengan suara yang rendah dan menakutkan. Dia membungkukkan tubuhnya hingga nafasnya yang hangat menyapu leher Ayana ketika dia berbisik. “Tapi, sebelum kau melakukan suatu tindakan yang drastis, ada baiknya kalau kau berpikir langkah selanjutnya yang akan kau ambil.”


 


Ayana hampir tidak mendengar apa yang Juan katakan karena ketakutan yang teramat sangat yang merasuki dirinya dan dia tidak yakin kalau Juan akan melepaskannya begitu saja.


 


Karena biar bagaimanapun juga, dia baru saja akan berniat membunuh sahabat sekaligus tangan kanannya dan ini merupakan satu hal yang sulit untuk dimaafkan, bukan?


 


Ayana bergerak dengan hati- hati untuk menjauh dari Juan dan juga dari tempat tidur, dimana Carlos tidur. “Apa kau akan memberitahu Carlos mengenai hal ini?” dia bertanya, ketakutan terpancar jelas dari mata dan ekspresinya.


 


Namun, kali ini Ayana memberanikan diri untuk mengetahui takdir seperti apa yang akan dia hadapi setelah Juan mengetahui niatnya.


 


“Tidak,” jawab Juan.

__ADS_1


 


Jawaban ini sungguh diluar dugaan Ayana dan dia sama sekali tidak menyangka kalau Juan akan merahasiakan ini.


 


“Kenapa?” tanya Ayana dengan dahi berkerut dan ekspresi wajah yang bingung.


 


“Karena kalaupun aku tidak menghalangi tindakanmu tadi, kau tidak akan melakukannya.” Juan mengangkat bahunya dengan sikap tidak peduli, kemudian dia duduk di pinggir ranjang dan menatap wajah Carlos yang masih tertidur pulas.


 


Juan ingat betul bagaimana Carlos begitu protectif terhadap Bianca dan betapa dia begitu memuja wanita tersebut. Sikap seperti itulah yang Carlos tunjukkan pada Ayana saat ini.


 


Hanya saja, Juan tidak mengerti kenapa Carlos memperlakukan Ayana begitu buruk hingga membuat gadis muda ini ingin membunuhnya?


 


Atau setidaknya itulah yang ada dalam pikiran Juan, karena biar bagaimanapun juga dia tidak mengetahui rencana apa yang tengah Carlos buat untuk dirinya dengan memanfaatkan Ayana.


 


Sementara itu, penyilidikan Juan terhadapa Ayana mengalami kendala dengan sulitnya menemukan latar belakang gadis ini.


 


 


“Aku akan melakukannya,” Kata Ayana dengan keras kepala. Dia menyentuh lehernya dengan gugup dan gerakan ini menarik perhatian Juan.


 


“Kau akan melakukannya?” tanya Juan sambil menaikkan alis matanya dan tersenyum dengan mengejek pada keberanian dan sedikit tindakan keras kepala yang Ayana coba tunjukkan.


 


“Iya,” Ayana berkata dengan suara lemah, bahkan suaranya sendiri terdengar tidak begitu meyakinkan ditelinganya.


 


Juan tertawa kecil, tapi kemudian Ayana menyentuh lehernya lagi dan ini membuat Juan memicingkan matanya sambil menatap gerakan kecil yang dibuat oleh gadis tersebut.


 


Juan ingat betul gerakan yang dibuat oleh gadis yang selama ini dia cari. Gadis itu pun selalu menyentuh lehernya setiap kali dia merasa gugup dan tidak yakin dengan apa yang harus dia lakukan.


 


Hanya saja, Juan sadar, gerakan tersebut merupakan gerakan umum untuk dilakukan ketika seseorang merasa tidak nyaman dan Juan telah membuat Ayana tidak tenang.

__ADS_1


 


Dengan helaan nafas yang berat, Juan bangkit dari tempat tidur Carlos dan berjalan mendekati Ayana, sembari menghilangkan pikiran bodoh yang mengingatkan dirinya pada gadis yang selama ini dia cari hanya karena Ayana melakukan gerakan seperti itu.


 


“Kalau begitu, aku akan memberimu kesempatan.” Juan berkat dengan nada yang menenangkan. Tapi, orang- orang yang mengenalnya, mengetahui betul kalau itu merupakan tanda bahwa sesuatu yang besar akan segera terjadi dan meraka harus bersiap dengan sesuatu yang terduga yang dapat Juan lakukan.


 


“Kesempatan untuk membunuh sahabatmu?” Tanya Ayana sambil menatap Juan langsung di matanya. Dia sungguh tidak percaya pada pria ini. Juan sangat sulit untuk di tebak. Dia tampak berwibawa tapi sekaligus juga berbahaya.


 


Seseorang yang tidak ingin kau ganggu atau menjadi target amarahnya.


 


“Kesempatanmu untuk melarikan diri dari tempat ini,” Juan berkata dengan nada tenang sambil mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.


 


Benda hitam itu terlihat mengilat dibawah sinar matahari pagi yang baru muncul di cakrawala dan Ayana terkesiap ketika dia melihat benda tersebut.


 


Itu adalah sebuah pistol berukuran sebesar telapak tangan yang Juan berikan pada Ayana.


 


“Cara ini lebih mudah,” ucap Juan. “Kau bisa melarikan diri dari tempat ini. Aku sudah memastikan tidak ada penjaga di luar sana yang akan menangkapmu.”


 


Ayana merasakan benda kecil tersebut di tangannya. Ini merupakan kali pertama dirinya memegang benda ini dan tidak yakin sudah berapa banyak nyawa yang telah menjadi korban dari timah- timah panas tersebut.


 


“Aku tidak tahu bagaimana caranya…” Ayana bahkan tidak sadar ketika dia mengatakan hal tersebut, tapi Juan justru memberitahunya dengan santai.


 


“Begini caranya…” Juan memberitahukan bagian mana yang harus Ayana perhatikan dari benda kecil mematikan tersebut.


 


Selama penjelasan Juan yang singkat, Ayana dapat memahami dengan mudah bagian- bagian penting yang harus dia ingat.


 


“Sekarang keputusan ada di tanganmu,” Juan berkata sambil mundur selangkah, tapi matanya lekat menatap Ayana.


 

__ADS_1


Gadis itu menimbang- nimbang pistol hitam di tangannya dan ketika dia mengangkat benda tersebut, Juan lah yang menjadi sasarannya.


 


__ADS_2