
Ayana terkadang tidak mengerti apa yang ada di benak Carlos atau bagaimana bisa kepribadiannya terlihat begitu rumit dan tidak menentu seperti ini?
Carlos bisa begitu baik, penuh pengertian dan lembut, tapi sesaat kemudian dia bisa begitu culas, keji dan buas.
Kini Ayana menjadi bimbang untuk mengkhianatinya dan menuruti perintah Juan yang meminta dirinya untuk melaporkan segala hal mengenai Carlos.
Bukankah itu termasuk pengkhianatan? Tapi, Carlos pun mengkhianati Juan dengan merencanakan sesuatu yang buruk terhadap pria itu dan bekerja sama dengan tangan kanan Juan. Entah apa yang mereka bicarakan tadi…
Tapi, Ayana tidak perlu mendengar percakapan mereka untuk mengetahui kalau itu bukanlah sesuatu yang baik.
Selama menunggu makanan tiba di dalam ruang tertutup mereka, Carlos tidak duduk di sisi Ayana, dia berjalan ke arah private balkon di ruangan itu dan menelepon seseorang di sana.
Bahkan hingga makanan mereka tiba dan para pelayan telah pergi, Carlos masih tidak kembali.
Ayana masih dapat melihat punggung Carlos yang berdiri di balkon dan sesekali pria itu akan membalik badannya untuk mengecek Ayana, kalau- kalau gadis itu memiliki pikiran yang menyimpang dan mencoba kabur darinya.
Tapi, tidak. Ayana duduk di sana sendirian, bingung mau melakukan apa. Dia tidak mungkin makan lebih dulu dan meninggalkan Carlos, bukan? Bukankah itu akan tidak sopan? Bagaimana kalau Carlos marah?
Mendengar kata- kata ‘Carlos marah’ di kepalanya saja sudah membuat Ayana bergidik ngeri. Dia sama sekali tidak mau membuat pria itu marah. Karena kemarahannya akan membuat Ayana berakhir dengan luka- luka baru.
Maka dari itu, walaupun Ayana merasa lapar dan bau dari masakan di hadapannya menguar dengan nikmat, dia tidak berani menyentuh makanan- makanan itu tanpa Carlos berada di sana.
Lima menit berlalu…
Sepuluh menit…
Lima belas…
__ADS_1
Bahkan setelah dua puluh menit berlalu, Carlos masih sibuk dengan orang yang diteleponnya. Walaupun Carlos akan berpaling dan memeriksa Ayana, tapi dia hanya mengerutkan keningnya tanpa menghampiri Ayana sama sekali dan gadis itu terus menunggu.
Hingga Ayana mendengar seseorang mengetuk pintu private room mereka dan masuk, bahkan sebelum diberi ijin.
Yang masuk ke dalam ruangan itu adalah dua orang polisi bersama dengan tiga pemuda, yang tadi telah ditendang oleh Carlos.
Mereka tampak gusar dan menuding Ayana.
“Ini, gadis itu!” pemuda mabuk yang tadi menabrak Ayana menudingnya dengan beringas dan mendelikan matanya sambil berteriak. “Dimana pria itu?!” dia tampaknya sudah jauh lebih sadar daripada tadi. Sepertinya, tendangan Carlos begitu efektif untuk menyadarkannya dari rasa mabuk.
Ayana segera berdiri dan setengah berlari menghampiri Carlos, tapi pria itu ternyata sudah menutup teleponnya dan berjalan ke arah sumber keributan ini.
“Ada apa ini?” mata Carlos yang tajam menatap seorang manager yang ikut dengan tiga pemuda tadi dan dua orang polisi yang datang bersama mereka. “Seingatku aku memesan privat room, lalu kenapa ruangan ini berubah menjadi tempat pertemuan?”
Ruangan tersebut tidak terlalu besar, sehingga apabila harus ditambahkan enam orang lainnya, ruangan ini menjadi terlihat penuh sesak dan Carlos benar- benar tidak suka privacy nya diganggu.
Sebenarnya, ketiga pemuda ini berasal dari keluarga yang cukup terpandang di kota ini, tapi hanya dalam sekali lihat, orang akan tahu kalau Carlos pastilah berasal dari kalangan yang jauh berbeda dan tidak bisa dipandang sebelah mata.
“Penganiayaan?” Carlos melipat tangannya di depan dada, walaupun dia harus berhadapan dengan dua petugas polisi dan tiga pemuda yang sama sekali tidak tahu status mereka jika dibandingkan dengan Carlos, tapi pria itu sama sekali tidak terlihat takut.
Carlos bahkan tampak jauh lebih mengintimidasi dari kelima pria dihadapannya, sementara Ayana memilih untuk tidak menonjolkan dirinya dan berdiri di belakang bahu Carlos yang bidang.
“Jelas ini sebuah penganiayaan! Tidakkah kau lihat luka- luka ini!?” seru salah satu dari pemuda tersebut. “Kami akan menuntutmu!”
“Bagus,” jawab Carlos dengan santai. Dia lalu kembali mengeluarkan ponselnya dari sakunya dan menekan beberapa nomor. “Kau bisa berbicara dengan orang ini kalau begitu.”
Kedua polisi tersebut tampak bingung, tapi mereka tidak ingin kehilangan muka di depan ketiga pemuda dari keluarga berada tersebut.
__ADS_1
Hanya saja, saat mereka akan berbicara, Carlos mengangkat tangannya, menandakan agar mereka diam sementara dia mencoba menghubungi seseorang.
Dan anehnya, mereka menuruti keinginan pria tersebut. Sepertinya memang aura yang dimiliki oleh orang- orang seperti Carlos sangat tidak sebanding dengan kedua polisi tersebut.
“Aku dituntut seseorang di restorant pinggir jalan,” ucap Carlos langsung ketika teleponnya tersambung. “Kau bisa bicara dengan mereka.”
Setelah mengatakan hal tersebut, Carlos memberikan ponselnya pada salah satu polisi.
Satu, diantara mereka yang terlihat lebih berpengalaman, segera mengambil ponsel yang dijulurkan Carlos. Bahkan sejak di detik Carlos menghubungi seseorang, dia sudah merasa tidak nyaman.
Polisi tersebut kemudian keluar untuk mendengarkan lebih baik apa dan siapa orang yang meneleponnya tersebut.
“Maaf tuan, sebenarnya ini merupakan…” manager dari restaurant tersebut angkat bicara, dia mencoba untuk menengahi karena masalah ini sudah merambat ke jalur hukum dan telah melibatkan pihak yang berwajib.
Hanya saja, sang manager tidak sempat menyelesaikan kata- katanya saat Carlos mengangkat tanganya, menyuruhnya untuk berhenti.
“Kau benar- benar tidak tahu takut ya?!” rutuk salah satu pemuda, mencoba maju untuk menghajar wajah sombong Carlos, tapi polisi yang berada di sana segera menariknya kembali ke tempatnya berdiri, tidak mau memperkeruh suasana.
“Apa yang kau lakukan? Kenapa diam saja?! Tangkap dia!” serunya dengan marah.
Tapi, tidak beberapa lama kemudian, polisi yang tadi menerima telepon kembali, dan dari ekspresi wajahnya Ayana dapat melihat keterkejutan dan ketakutan saat dia mengembalikan ponsel milik Carlos dan mengangguk dengan penuh hormat padanya.
“Maafkan kami,” katanya dengan sangat sopan dan lalu membisikkan sesuatu pada rekannya.
Ekspresi yang sama pun ditunjukkan oleh polisi tersebut dan dia menatap Carlos dengan tidak percaya, sebelum akhirnya dia menemukan suaranya dan segera meminta maaf.
Ayana, yang tersembunyi di belakang Carlos menatap pria itu. Sebenarnya siapa yang dihubungi Carlos? Tapi, siapapun itu, sudah pasti orang tersebut memiliki pangkat yang jauh lebih tinggi dari para polisi ni.
__ADS_1
“Kalau kalian sudah mengerti, keluar dari tempat ini,” ucap Carlos dengan nada dingin dan jijik, lalu dia memalingkan wajahnya ke arah Ayana. “Dan kau, kenapa makanan itu tidak tersentuh sama sekali?” tanyanya pada Ayana dengan dahi berkerut.