Dark Desires Mr. Possessive

Dark Desires Mr. Possessive
Gadis Dengan Luka Bakar (1)


__ADS_3

Juan menatap tajam Carlos dihadapannya, wajah Juan masih sama, tidak menunjukkan emosi apapun, tapi tatapan matanya yang dinginlah yang menunjukkan betapa Juan tengah berusaha meredam emosi di dalam dirinya.


"Apa yang mau kau bicarakan?" Bahkan nada suara yang Juan gunakan mampu membuat Carlos merasa kalau temperatur di ruangan tersebut tiba- tiba turun drastis.


"Tidak, aku hanya bertanya saja," Carlos melambaikan tangannya senatural mungkin, mencoba untuk tidak terlihat panik. "Kau sudah mencarinya selama sepuluh tahun terakhir ini, aku hanya mau bertanya; apakah sudah ada kemajuan?"


Sudah empat bulan belakangan, Juan menghindari topik ini.


Walaupun Juan belum menyerah untuk mencari gadis itu, tapi sepuluh tahun merupakan waktu yang sangat lama bagi seseorang untuk mencari gadis yang hanya dia temui sekali.


Tanpa petunjuk apapun kecuali sebuah luka bakar di pinggul kiri gadis itu.


"Tidak ada," jawab Juan dengan muram.


Walaupun pria ini bisa membuat kegaduhan di bursa saham dan membuat musuh- musuhnya yang berada di kegelapan gemetar ketakutan, tapi ada satu hal yang sangat dia inginkan, sayangnya tidak bisa Juan dapatkan.


Yaitu; menemukan gadis dengan luka bakar di pinggul kirinya.


"Memangnya apa yang akan kau lakukan kalau kau menemukannya?" Carlos menelan daun selada dari garpu, "Menikahinya?"


Ini merupakan sebuah lelucon bagi Carlos untuk Juan.


Siapa yang menyangka kalau bankir terkenal seperti Juan dan seorang pemimpin sindikat gelap yang memiliki dosa melebihi para setan di neraka ini, ternyata memiliki sisi manis juga.


Cinta pertama, bukan kata yang tepat bagi iblis seperti Juan, mungkin kata yang mewakili apa yang Juan rasakan pada gadis itu adalah; obsesi.


Juan terobsesi pada gadis itu, dia terobsesi untuk menemukannya.


Bisa jadi apa yang terjadi pada Juan adalah; saat seseorang bisa mendapatkan segalanya dengan mudah, maka mereka mulai gila dalam mencari sesuatu yang tidak mungkin untuk ditemukan, seolah menantang diri mereka sendiri bahwa memang tidak ada yang tidak bisa mereka lakukan.


Dan dalam kasus Juan, Carlos berpikir demikian.


"Tentu saja tidak," Juan menatap Carlos dengan dahi berkerut, baginya kata 'pernikahan' merupakan kata yang asing baginya.


"Lalu, untuk apa kau mencarinya?" Carlos sudah menduga kalau jawaban Juan akan seperti ini.


Jawaban Juan benar- benar singkat dan tidak berbelit. "Karena aku ingin menemukannya."

__ADS_1


"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah menemukannya?" Carlos masih memburu jawaban Juab untuk ini. Tanpa Carlos sadari, dia menahan nafas saat dia menunggu bagaimana Juan akan meresponnya.


"Aku akan membuatnya berada di sisiku..." Juan meletakkan alat makannya dan berdiri, "...selamanya." Sambungnya sebelum akhirnya dia melangkah pergi meninggalkan Carlos yang tertegun.


Carlos tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang.


Seharusnya dia tidak berbohong dengan mengatakan kalau dia telah menghabisi Ayana.


Biar bagaimanapun juga, ada hal yang harus Carlos konfirmasi kan pada gadis itu sebelum perasaannya menjadi tenang.


***


Rapat hari itu berlangsung seperti biasa, tidak ada kejadian yang menghebohkan kecuali diberitakannya empat orang penting dalam Emerald Company, di temukan terbunuh dalam suatu pesta liar di kota yang berjarak ber mil- mil jauhnya dari kota T.


Tentu saja semua itu sudah di atur oleh Juan. Rutinitas seperti ini mulai membosankan baginya, kehidupan biologisnya pun tidak mengalami peningkatan apapun, kecuali dia menjadi semakin bosan pada Cassandra.


Juan terus menerus merasa kosong dan tidak tertarik pada hal apapun, kecuali pencarian selama sepuluh tahunnya yang tidak kunjung membuahkan hasil.


Hanya kasus ini sajalah yang membuatnya sedikit bersemangat menjalani rutinitas bisnis nya dan kehidupan gelapnya.


Seperti malam- malam membosankan yang mereka selalu lalui, mereka pun rencananya akan menghabiskan malam ini dengan mabuk atau mendekap wanita- wanita bayaran dengan kemolekan yang membuat banyak pria bertekuk lutut.


Atau, hal sedikit menegangkan yang akan mereka lakukan adalah menghabisi siapa saja yang berani menentang mereka.


"Pulang," jawab Carlos singkat sambil melambaikan tangannya pada Juan dan masuk ke dalam mobil sport keluaran terbaru berwarna putih. Warna favoritnya.


Carlos meninggalkan Juan yang masih bingung dengan sikapnya ini, karena tidak biasanya Carlos akan pulang di jam segini.


Lagipula apa yang akan dia lakukan di apartment nya yang besar dan kosong itu?


Atau dia memiliki beberapa wanita yang dia simpan disana?


Juan tidak memikirkan hal tersebut lebih jauh, seraya dia masuk ke dalam mobilnya sendiri dan membiarkan supir yang mengantarkannya ke tempat tujuan.


Suatu tempat yang akan memberikan kesenangan sesaat bagi sang iblis berkedok manusia ini.


***

__ADS_1


Carlos melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh melintasi jalanan utama yang lengang.


Rem mobil tersebut baru berfungsi setelah dia sampai di sebuah gedung apartment bernuansa elite yang hanya dimiliki oleh orang- orang tertentu saja.


Disinilah Carlos tinggal, tempat yang jarang dia datangi kecuali kalau perlu.


Dia melangkah masuk ke dalam lift di basement yang akan membawanya langsung ke apartmentnya di lantai sebelas.


Carlos telah meminta orang kepercayaannya untuk menyelundupkan tubuh Ayana yang masih tidak sadarkan diri dari rumah Juan ke apartmentnya.


Saat Carlos sudah sampai, dia langsung menuju kamarnya, tempat dimana dia meminta Ayana untuk diletakkan.


Ketika melihat gadis itu berada di atas ranjang, tanpa sadar dia mengutuk dirinya sendiri.


Bagaimana tidak? Carlos memang telah meninggalkan Ayana tanpa busana, tapi Sam, tangan kanan Carlos, benar- benar hanya membawa Ayana dengan membungkus tubuhnya menggunakan sprei putih yang masih berlumur darah. Darah Ayana sendiri.


Dan membiarkan gadis itu berbaring begitu saja, seperti seonggok tubuh tidak bernyawa.


"Sial!" Carlos buru- buru menghampiri Ayana dan memeriksa apakah gadis ini masih hidup atau tidak, melihat betapa pucatnya dia, Carlos jadi ragu kalau dia masih bertahan hidup.


Meletakkan tangannya di bawah hidung Ayana, Carlos memeriksa nafasnya yang tersengal dan pendek. Sedikit lega karena ternyata Ayana masih hidup.


Dengan cepat, Carlos menelepon Dokter yang dia kenal dan menyuruhnya untuk segera datang.


"Jangan..." Ayana masih berkata lirih dalam igauannya saat dia merasakan tangan Carlos yang menyentuh tubuhnya dengan maksud untuk membersihkannya dari darah dan peluh.


Dahi Carlos berkerut.


Apakah Ayana sebegitu menderitanya? Apakah yang dia lakukan padanya semalam terlalu brutal baginya?


Mungkin, ya. Tapi, sebelum ini Carlos tidak pernah peduli. Baginya, Ayana sudah cukup beruntung Carlos tidak menembak kepalanya pagi ini.


Kalau saja bukan karena Carlos ingin mengkonfirmasi bekas luka itu, Ayana pasti sudah mati sekarang.


Mengacuhkan sedikit rasa kasihan yang timbul, Carlos tidak mempedulikan rintihan Ayana ketika dia memakaikan baju miliknya padanya.


Setidaknya dengan begini, Ayana akan terlihat sedikit lebih layak.

__ADS_1


__ADS_2