
Ayana tidak mengerti ataupun dia menyadari sepenuhnya akan apa yang merasuki dirinya, tapi satu hal yang pasti; dia ingin mengakhiri semua ini dan satu- satunya cara agar semua ini berakhir adalah dengan menghabisi pria yang tengah tidur di atas ranjang sana.
Dengan tangan gemetar dan degup jantung yang bergema di rongga dadanya, Ayana meraih gunting tersebut.
Besi gunting berwarna hitam yang dingin itu terasa menggigit kulit telapak tangannya, seolah menyadarkan Ayana mengenai tindakan yang akan dia lakukan nanti. Membuatnya kembali berpikir akan konsekuensi yang akan diterimanya.
Tapi, rasa sakit dan perasaan malu karena harga diri yang terinjak- injak, membuat Ayana membulatkan tekadnya.
Gadis itu hanya berhenti beberapa saat untuk meraih bathrobe dan memakainya. Namun, walupun tubuh telanjangnya tertutupi, tapi entah kenapa Ayana masih merasa seolah dia tidak mengenakan apa- apa.
Dengan langkah gontai, Ayana menggenggam gunting tersebut diantara jari- jarinya dan melangkah kembali ke dalam kamar.
Di sana, di atas ranjang berukuran raksasa dengan dekorasi hotel yang mewah dan luar biasa, Carlos masih tertidur dengan pulas, tidak menyadari sama sekali akan bahaya yang mengintai dirinya. Ayana dapat menghabisinya dalam sekejap mata kalau dia masih tidak terbangun juga.
Sementara itu, Ayana merasakan wajahnya yang terasa panas, seolah terbakar, tapi kemudian ia menyadari kalau itu adalah air matanya yang mengalir turun tak tertahankan.
‘Ini bukan waktunya untuk menangis.’ Ayana merasa kesal pada dirinya sendiri karena dia begitu lemah dan tidak dapat menghentikan getaran pada tangannya ataupun menenangkan jantungnya yang bergemuruh.
Perlahan, tapi pasti, Ayana mendekati Carlos selangkah demi selangkah. Perjalanan ini terasa begitu panjang hingga akhirnya dia sampai di sisi ranjang.
Ayana menundukkan kepalanya hingga dia dapat melihat pria yang tengah tidur dengan nyaman dibuai mimpi indah setelah perlakuan tidak manusiawi yang dia lakukan padanya.
Genggaman jari Ayana di sekitar gunting menjadi semakin erat saat dia mencium bau alcohol yang menguar begitu tajam dari tubuh Carlos.
__ADS_1
Ayana merasa seolah dia bukan dirinya sendiri ketika dia mengangkat gunting tersebut sebatas bahunya, bahkan tenggorokannya terasa sangat kering sekarang.
Ini merupakan titik perubahan hidupnya.
Kalau Ayana berhasil membunuh Carlos, maka dia akan terbebas dari tirani pria ini. Namun, setelah itu apa? Ayana ragu, dia berhenti sesaat ketika pikiran- pikiran buruk mulai merasuki pikirannya.
Namun, setelah itu apa? Ayana tidak memiliki tempat untuk pergi. Dia tidak tahu harus melarikan diri kemana. Dia bahkan tidak memiliki teman untuk dimintai bantuan.
Tapi, kalau Ayana tidak melakukan ini… maka hidupnya akan terus menerus seperti ini. Diperlakukan dengan tidak selayaknya oleh Carlos. Dan bagaimana kalau Carlos sudah bosan dengannya? Apakah dia akan menjual Ayana pada orang lain?
Siapa yang dapat menjamin kalau orang selanjutnya tidak akan memperlakukan Ayana jauh lebih buruk daripada bagaimana Carlos memperlakukannya?
Ayana mengertakkan giginya dengan sangat kuat.
“Kalau kau ingin melakukannya, lakukan tanpa ragu.”
Ayana hampir memekik karena terkejut ketika tiba- tiba dia mendengar seseorang bersuara dari arah belakangnya. Secara insting, Ayana memutar tubuhnya dan mendapati Juan, tengah berdiri di sisi pintu kaca yang menuju balkon. Tubuhnya yang tinggi menjulang di bawah cahaya matahari pagi yang baru muncul ke permukaan.
Dengan mata yang nyalang, Ayana menatap Juan. Rasa takut terpancar jelas dari wajahnya. Apa yang akan terjadi kalau Juan sampai memberitahu Carlos? Apakah dia akan dibunuh oleh mereka seperti apa yang mereka lakukan pada gadis- gadis malang itu pada malam itu? Ataukah mereka akan menyiksanya?
“Aku…” Ayana tergagap. Dia ingin mengatakan sesuatu untuk membela diri, tapi kalau Juan telah berdiri di sana cukup lama, sudah pasti dia melihat segalanya dari awal, bukan? Itu berarti, alasan apapun yang Ayana berikan akan menjadi tidak amsuk akal baginya.
“Kalau kau ingin melakukannya, lakukan tanpa ragu,” Juan mengulangi kata- katanya, dia tidak tampak panik ataupun terlihat marah saat mengatakan itu. Namun, justru suaranya yang tenang yang membuat Ayana merasa lebih takut.
__ADS_1
Bagi Ayana saat ini, Juan seperti sesosok predator yang tengah mengintai mangsanya. Dia terlihat tenang karena tengah mengkalkulasi dan mempertimbangkan timing yang tepat untuk mencabik mangsanya.
“Tapi, sebelum kau melakukan itu, aku ingin bertanya,” Juan berkata dengan nada malas dan memutuskan untuk mendekati Ayana, berjalan perlahan hingga dia berdiri tepat di hadapan gadis itu. “Apa yang akan kau lakukan setelahnya?”
Walaupun Juan terlihat begitu menakutkan saat dia begitu dekat dengan Ayana, tapi dia mendapati dirinya tidak bisa mengalihkan pandangannya dari tatapan tajam pria itu. Seperti tersihir, Ayana memandangnya tanpa berkedip.
“Apa yang akan kau lakukan setelah membunuhnya?” tanya Juan dengan nada datar. Cara Ayana menatapnya sungguh membuat dirinya tertarik. Tidak banyak orang yang dapat menatapnya dengan berani seperti yang Ayana lakukan saat ini. “Kalau dia mati, apa kau tahu kau akan berakhir dimana?” tanya Juan lagi.
Ayana menelan ludah dengan susah payah. Dia merasa sangat terintimidasi oleh Juan, belum lagi dengan kenyataan bahwa tubuhnya menjulang tinggi di hadapannya. Ini sama sekali tidak membantu dan Ayana mulai merasa ingin melarikan diri saja dari tempat ini.
Juan bahkan tidak ragu- ragu mendekati Ayana, walaupun gadis itu masih menggenggam gunting tajam yang dia peruntukkan untuk menikam Carlos.
“Jawab,” ucap Juan dengan suara yang pelan.
Di atas ranjang, Carlos masih tertidur pulas, sama sekali tidak menyadari akan apa yang terjadi di kamar ini. sebagian tubuhnya tertutup selimut dan suara dengkuran halus dapat terdengar dari bibirnya yang kering.
“Pen… penjara…” Ayana memeluk gunting di tangannya, mendekapnya ke dada, seolah dengan begitu dia bisa merasa aman. Namun, dia tahu lebih dari siapapun kalau gunting ini tidak akan membantunya sama sekali. Kalau Juan ingin membunuhnya, maka Ayana tidak akan selamat untuk melihat matahari besok pagi.
“Penjara?” Juan mendengus dengan nada mencemooh. “Kau pikir kau akan pergi ke penjara setelah membunuhnya?” tanya Juan. Wajahnya berubah dingin dan tanpa ekspresi ketika dia menatap dalam pada Ayana. “Tentu saja kau tidak akan ke sana. Tempat itu terlalu indah untukmu.”
Juan mengulurkan tangannya dan menyentuh rambut Ayana, memilintirnya di antara sela- sela jemarinya.
“Kalau kau pikir apa yang Carlos lakukan padamu adalah sesuatu yang kejam, maka kau akan berpikir itu adalah hal yang paling baik yang pernah orang lain lakukan padamu kalau dibandingkan dengan apa yang akan kau hadapi nanti ketika kau membunuhnya,” ucap Juan.
__ADS_1