Dark Desires Mr. Possessive

Dark Desires Mr. Possessive
Say My Name


__ADS_3

Cukup lama Carlos menatap memar- memar di dada Ayana dan mengusapnya. Hingga pada tanda yang dia tinggalkan di punggung gadis itu, membuat Ayana bergidik ketika nafas Carlos yang hangat menyapu kulit punggungnya yang terekspos.


 


Ayana masih duduk di pangkuan Carlos dengan tangan pria itu melingkar dengan possessive di sekitar pinggangnya, tidak memberikan ruang bagi Ayana untuk bergerak ataupun meronta dari genggamannya.


 


Dan saat tangan Carlos mengusap lengan Ayana, Ayana dapat merasakan kalau nafasnya tercekat. Dia tidak berani bergerak.


 


“Carlos!” suara ketukan di pintu mengejutkan mereka berdua dan beruntungnya kali ini Sam tidak langsung menerobos masuk karena dia mengetahui Ayana ada di dalam. “Cepatlah! Kita terlambat! Juan akan sangat kesal kalau sampai kita tidak ada di sana saat dia datang!”


 


Carlos menggerutu dan sorot matanya berubah menjadi tajam ketika dia mendengar nama Juan di sebut.


 


“Sepuluh menit!” teriak Carlos, melepaskan pelukannya di sekitar pinggang Ayana.


 


Ayana segera melompat turun dari pangkuan Carlos saat itu juga dan berdiri di samping sambil menutupi tubuhnya.


 


“Ikut aku,” ucap Carlos sambil menarik tangan Ayana dan membawanya keluar dari kamar.


 


Ketika mereka berdua berjalan melewati Sam dan Abby yang tengah sibuk dengan urusan masing- masing, Carlos mengangkat tangannya saat Sam ingin mengatakan sesuatu sehingga Sam terdiam, dia tahu kalau Carlos sedang serius dan tidak ingin diingatkan lagi mengenai keterlambatan mereka.


 


Abby pun melihat hal ini dan dia menjadi semakin kesal karena Carlos bisa dengan mudahnya memerintahkan pria nya untuk diam. Sungguh tidak adil kalau Carlos harus berakhir bersama anak ingusan, tidak berpengalaman seperti Ayana, seharusnya pria seperti Carlos bersama wanita yang jauh lebih berpengalaman.


 


Maka dari itu, rasa frustasi Abby, dia lampiaskan dengan mencium Sam dengan kasar dan membuat pria itu terkejut tapi juga menyukainya.


 


Sementara itu, Carlos membawa Ayana ke sebuah kamar yang tidak pernah dirinya datangi lagi selama bertahun- tahun. Satu- satunya ruangan di dalam rumah ini yang mengingatkan dirinya pada Bianca.


 


Carlos seharusnya tidak perlu lagi masuk ke dalam kamar ini setelah apa yang terjadi dan bahkan dia seharusnya sudah membakar semua barang- barang di dalam ruangan ini. Tapi, sayangnya hal itu tidak bisa dia lakukan. Akan selalu ada perasaan berat ini yang menggantung di benak Carlos.


 


Satu harapan kalau suatu saat Bianca akan kembali? Memikirkan hal itu saja sudah membuat Carlos jijik, tapi kalau seandainya saja Carlos bisa jujur, mungkin itu adalah hal yang sebenarnya Carlos inginkan.


 

__ADS_1


Carlos menarik nafas panjang ketika dia berdiri di depan kamar yang telah menyimpan segala kenangan tentang Bianca. Baru setelah beberapa saat, dia membuka pintunya.


 


Di sisi lain, Ayana tahu ruangan apa ini dan kalau dia tidak salah ingat, Dalia pernah berkata kalau Carlos tidak akan pernah menapakkan kakinya di dalam ruangan ini, tapi… di sinilah mereka sekarang.


 


Carlos melepaskan tangan Ayana dan segera menyibukkan dirinya untuk mencari sesuatu yang cocok untuk menutupi tubuh Ayana. Dia mencarinya diantara tumpukkan pakaian dan gaun- gaun yang tergantung dengan indah dan juga mencari beberapa perhiasan yang biasanya digunakan oleh Bianca.


 


Butuh waktu sekitar sepuluh menit bagi Carlos untuk menemukan apa yang dia cari.


 


Sebuah outer berwarna senada dengan gaun Ayana dan sebuah anting untuk melengkapi penampilan Ayana, serta heels untuk kaki Ayana yang telanjang.


 


Carlos segera menghampiri Ayana dan membantunya mengenakan anting mutiara di kedua telinga Ayana, membuatnya berbalik dan menyibakkan rambutnya hingga leher Ayana yang jenjang terlihat.


 


“Aku bisa memakainya sendiri,” Ayana ingin membalikkan badannya, tapi Carlos lagi- lagi menahannya.


 


“Diamlah,” bisik Carlos tepat di telinga Ayana dan gadis itu menurut dengan patuh.


 


 


Tangan Carlos kemudian menjelajah tubuh Ayana dan membelai pinggangnya, membuat Ayana terkesiap, sayangnya Carlos tidak berhenti sampai di sana.


 


Dia mengangkat gaun Ayana hingga pahanya terekspos dan mengusap kulitnya hingga nafas Ayana tercekat di tenggorokkannya. Setelah itu, Carlos menggunakan jarinya untuk menyentuh bagian sensitif Ayana.


 


Gadis itu mencoba melepaskan diri, tapi Carlos tidak akan membiarkannya pergi begitu saja sebelum dia mendapatkan apa yang dia inginkan.


 


“Carlos…” suara Ayana bergetar karena dia tahu apa yang Carlos inginkan, apa yang pria ini akan lakukan.


 


“Hm,” gumam Carlos, tapi tidak menghentikan apa yang tengah dia lakukan kini. Dengan menggunakan dua jarinya, Carlos membuat tubuh Ayana bergetar dan membangkitkan sesuatu dalam diri gadis polos ini.


 


Carlos tertawa kecil ketika tindakannya membuat Ayana menggerakkan pinggulnya dengan tidak nyaman. Dia tahu apa yang Ayana rasakan dan apa yang dia butuhkan.

__ADS_1


 


Pria itu lalu menunduk dan mulai mencium pundak Ayana, hingga ke lehernya yang jenjang, membuat nafas gadis itu memburu dan menderu.


 


Carlos meletakkan tangan kanannya di atas dada Ayana dan membuat gadis itu bernafas dengan tajam, ketika tangannya menjelajahi kulitnya lembut.


 


Ayana tidak menginginkan ini, tapi dia tidak bisa memungkiri kalau sentuhan Carlos kali ini sangat berbeda dengan apa yang dia lakukan padanya beberapa hari yang lalu.


 


Kali ini Carlos tampak lebih hati- hati, seolah dia tidak akan menyakiti Ayana. Seakan dia tidak akan memberikan Ayana rasa sakit, tapi sebuah perasaan lain yang jauh lebih baik.


 


Tanpa sadar, Ayana menggerakkan tubuhnya, mengikuti ritme yang telah Carlos terapkan dan ini membuat pria itu jauh lebih bersemangat dalam gerakannya.


 


Ayana mengiggit bibirnya saat sensasi di bagian tubuh yang disentuh oleh Carlos terasa semakin intens.


 


“Say my name…” ucap Carlos dengan lembut, seolah dia sedang membujuk seorang anak kecil. “Say my name…”


 


Ayana merintih ketika sensasi itu semakin tidak tertahankan dan suara Carlos yang lembut mengalun di telinganya.


 


“Carlos…” rintih Ayana bersamaan dengan sebuah gelombang kepuasan yang menderanya. Ayana menggigit bibirnya ketika Carlos menggigit pundaknya, tidak terasa sakit, tapi cukup membuat intensitas dari apa yang Ayana rasakan menjadi jauh lebih hebat.


 


Ayana tidak pernah merasa begitu menikmati ini sebelumnya ataupun Carlos pernah memperlakukan dirinya seperti ini saat mereka bersama.


 


Dan ketika gelombang panas itu mereda, barulah Ayana sadar apa yang terjadi. Sorot matanya berubah ketakutan dan tubuhnya menegang seraya berusaha menjauh dari Carlos, tapi pria itu tidak juga ingin melepaskannya.


 


Carlos justru membalikkan tubuh Ayana dan mulai mencium bibirnya, dia berbisik lembut di bibir gadis itu. “Aku suka saat kau memanggil namaku…” bisiknya.


 


Ciuman kali ini begitu hangat dan tidak menuntut dan tidak semenakutkan yang Ayana bayangkan. Namun, ketika Ayana menutup matanya, mata Carlos terbuka. Dia menatap dingin ruangan tersebut sambil mencium gadis di dalam pelukannya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2