
Dea I Love You - 11 (18+)
Oleh Sept
"Gila lo, tadi gue lihat lo naik mobil baru ya, Dea?" Metty nimbrung. Gadis itu tiba-tiba muncul entah dari mana, sudah mirip jailangkung.
"Oh itu ...!" Dea garuk-garuk kepala yang sama sekali tidak gatal, sudah mirip monkey. Mana bisa ia berkata jujur, kalau mobil itu hadiah dari Mama mertua. Mulut Metty paling ember di antara teman-temanya. Alhasil Dea lagi-lagi bohong.
"Hadiah dari Ayah," jawabnya dengan senyum tak enak.
"Usaha Om lagi bagus ya? Bulan lalu lo kan curhat, katanya banyak karyawan pabrik yang terancam PHK?" tanya Metty penuh selidik.
"Mitiiiiii! Mau tau urusan orang aja lo!" teriak Dea dalam hati.
"Dah lah ... Ayo masuk!" Vino menarik tangan Dea.
***
Gedung Astro Group, perusahaan milik keluarga Daniel ini sedang melakukan promosi peluncuran produk terbaru.
Di lobby gedung terdapat banyak orang yang sedang memasang banner. Minggu depan, tepat 50 tahun perusahaan itu berdiri. Selain peluncuran produk baru, rencananya akan diadakan perayaan besar-besara. Untuk merayakan lima puluh tahun berjayanya Astro Group.
Di dalam kantornya, Daniel terlihat serius mengamati berkas di depannya. Namun, saat Kim mengetuk pintu dan masuk. Ia langsung meletakkan berkas yang semula ia pegang.
"Bagaimana?"
Belum duduk, Kim langsung ditanya.
"Nona Dea, sepanjang informasi yang saya kumpulkan sampai detik ini, masih belum memiliki pacar, Tuan!"
Bibir itu pun mengulas senyum, "Sudah ku duga! Mana ada yang kenyukai gadis seperti itu?" ucap Daniel spontan.
__ADS_1
Kim menelan ludah, ia mau jujur tapi takut. Ia pun memilih tidak melaporkan bahwa ada seseorang yang ia curigai sedang naksir istri bosnya itu. Pilih jalan aman, sekretaris Kim akhirnya pilih tutup mulut saja.
"Oke, kamu boleh keluar, Kim!"
Sekretaris Kim berbalik, ia sempat menahan napas. Kini setelah keluar dari ruangan itu, Kim mengambil napas dalam-dalam, seolah kehabisan oksigen. Sambil mengelus dada, "Semoga dugaanku keliru!" gumam Kim.
Insting Kim ini sangat tajam, ia merasa cowok bersama Dea tadi pagi bukan teman biasa. Bila ia amati dari jauh, tatapan cowok itu sepertinya menaruh hati pada Dea. Tapi, kini Kim malah berdoa. Semoga firasatanya meleset, kalau sampai benar. Maka siap-siap saja ia digulai oleh Daniel.
Sore hari, seperti biasa. Dea sedang menunggu kepulangan suaminya. Sejak tadi Metty meneror dirinya, mengajak ke swalayan untuk belanjan kebutuhan camping. Di telpon, temannya itu terus saja mendesaknya. Beli camilan dan lain sebagainya. Ijin saja belom dapat, Dea tambah galau.
Saat di kamar, Dea mendengar derap langkah seseorang. Pasti suaminya, dengan semangat Dea langsung keluar, ia bergegas ke dapur dan menuang air dingin ke dalam gelas.
"Sudah pulang ya, ini ... minumlah!"
Daniel mengeryitkan dahi.
"Dea, kamu tidak menaruh racun dalam minuman ini, kan?"
"Kamu mau perutku nggak six-pack lagi? Gara-gara kebanyakan konsumsi air dingin?"
"Yaelah! Perkara minum aja ribut!" batin Dea. Kesal, lama-lama ia menengak habis segelas air putih yang dingin itu.
Sementara Daniel, pria itu pun berlalu. Meninggalkan Dea yang memendam rasa kesal.
Hari sudah gelap, Daniel membuka pintu ketika pesanan pizza mereka datang. Dea yang tidak pandai memasak, membuat mereka sering beli makanan. Tinggal download aplikasi di ponsel. Semua menu sudah siap antar. Jaman sekarang segalanya sangat mudah dan praktis.
"Bisa nggak, makan yang cantik sedikit?"
Dea mengerutkan dahinya, makan cantik itu makan yang bagaimana? pikirnya.
"Usap itu, cemong semua!" rutuk Daniel.
__ADS_1
"Ya ampun, mau makan ya makan aja ... lagian ngapain lihat-lihat aku makan?" tanya Dea kesal. Ia memang begitu, kalau makan kadang saus belepotan di bibirnya. Nanti kalau habis makan biasanya ia juga mejilat jari-jarinya. Lebih gurih. Tapi bagi Daniel, itu adalah pemandangan yang menjijikkan. Jorok!
"Siapa pria yang bakal tertarik padamu, Dea? Betapa joroknya dia," ucap Daniel sambil memalingkan wajah.
Tidak peduli pada cibiran Daniel, Dea malah asik dengan pizza potongan terakhir.
Saat Daniel meliriknya, dengan sengaja Dea malah menjilati jari-jarinya di depan pria itu.
Membuat Daniel tidak tahan dan beranjak pergi. Kepergian pria itu diiringi tawa oleh Dea.
"Pria aneh!" ujarnya sembari mengambil tisu dan mengusap bibirnya. "Tapi tunggu, waktu udah mepet ... apa aku lusa pergi diam-diam saja?"
Dea melirik ke arah kamar Daniel, dia berniat pergi diam-diam.
Esok paginya, Daniel terlihat menyiapkan sarapan sendiri. Ini hari minggu, mungkin Dea ingin tidur sampai siang. Ia pun tak mengusik gadis itu.
Jam sembilan, Daniel merasa aneh. Dea tidur atau pingsan? Penasaran, ia memeriksa sendiri.
Dibukanya pintu kamar Dea, "Kok nggak dikunci?" gumam Daniel.
Dilihatnya di atas ranjang, "Ya ampun, masih ngebo?" batinnya.
"Dea, bangun!"
Tidak ada sahutan.
"Dea! Jam berapa ini?"
Masih tidak ada response. Ia pun berjalan mendekati ranjang. Dibukanya selimut yang menutupi seluruh tubuh yang ia kira badan Dea. Saat kain selimut tersibak sebagian, Danile langsung melempar kain itu.
Hanya ada guling di atas ranjang, Dea kabur. Bersambung.
__ADS_1