Dea I Love You

Dea I Love You
Istri Atau Pacar


__ADS_3

Dea I Love You


Bagian 17


Oleh Sept


Rate 18 +


Tok tok tok


Sekretaris Kim mengetuk kaca mobil bagian belakang, begitu Daniel membukanya, Kim lantas mengulurkan botol air mineral dan memberikannya kepada Daniel.


"Apa kita langsung jalan, Tuan?" tanya sekretaris Kim. Sedangkan mata Kim terlihat mengamati kepala Dea yang sudah bersandar di pundak atasannya tersebut.


Setelah membuka botol dan meminumnya, Daniel kemudian mengangguk pelan. Mengisyaratkan pada Kim untuk melanjutkan lagi perjalanan mereka yang sempat terhenti.


Setelah menempuh perjalanan cukup jauh akhirnya mereka bertiga sampai di apartment Daniel.


"Bangun, Dea! Sudah sampai." Tangan Daniel menepuk pipi Dea.


"Ish ... tidur apa pingsan?" batin Daniel karena Dea tak kunjung bangun.


"DEA!" panggil Daniel dengan suara yang lantang, membuat Dea tersentak.


Gadis itu langsung membuka mata, dan reflect beringsut saat sadar posisinya begitu dekat dengan Daniel. Dengan perasaan canggung, Dea lantas membuka pintu. Ia pun keluar dari mobil dan meninggalkan Daniel terlebih dahulu.


"Ini Tuan kuncinya."


Setelah Daniel juga keluar, sekretaris Kim memberikan kunci mobil yang semula di tangannya. Ia sendiri akan pulang, sepertinya ia butuh istirahat setelah perjalanan yang cukup melelahkan.


***


Dea buru-buru naik lift, setelah kejadian beberapa waktu lalu ia merasa tidak nyaman dekat-dekat dengan Daniel. Gadis itu memilih menjaga jarak dengan Daniel, apalagi di dalam kepalanya masih terbayang-bayang kejadian di dalam tenda. Bahkan gambaran tower yang sempat mencuat masih jelas dalam pelupuk mata Dea.


Sampai di apartment, Dea beregas masuk kamarnya sendirian. Menguncinya, Dea sedang dalam modus siaga. Satu atap dengan pria yang memiliki pikiran kotor seperti Daniel, ia jadi resah. Jangan-jangan di waktu ia lengah, Daniel kembali menyerangnya. Membuka bajunya, dan tidur bersama.

__ADS_1


"Aagrhhh Tidak!" Gadis itu menggeleng kepalanya dengan keras, memikirkan hal yang bukan-bukan.


Waktu terus berjalan, hari sudah malam. Perut Dea sudah konser, lagu keroncong sudah berdendang sedari tadi. Namun, Dea menunggu Daniel tidur dulu, baru ia keluar kamar.


Pukul sepuluh malam, Dea sudah tidak tahan lagi. Cacing dalam perutnya sudah meronta meminta makan. Dengan gelagat mencurigakan bak maling jemuran Dea keluar dari kamar. Gadis itu memindai depan kamar, ternyata aman. Apalagi kamar Daniel yang ada tak jauh dari sana juga sudah terkunci.


"Syukurlah, pria mesum itu sudah tidur!" Dea memegangi dadanya, kemudian melangkah menuju dapur.


Matanya langsung berbinar-binar ketika melihat sekotak pizza, pasti Daniel yang memesannya, pikir Dea. Tidak mematuhi protocol kesehatan, Dea mengambil pizza dan langsung melahapnya tanpa mencuci tangan.


"Ish ... biasakan cuci tangan sebelum makan!" cibir Daniel.


Uhuk uhuk


Dea langsung terdesak begitu menyadari kehadiran Daniel, kenapa ada mahluk itu dapur? Bukannya tadi situasi aman dan terkendali? Dea pun kesusahan menelan potongan Pizza yang ia makan.


"Cepat minum!" Daniel mengulurkan segelas air putih. Dan Dea langsung menengak sampai habis. Yang tidak Dea tahu, sedari tadi suaminya berbaring di sofa sambil menonton TV.


"Anggun sedikit kalau makan dan minum, kamu ini perempuan."


"Mau ke mana?" tanya Daniel saat melihat Dea malah meninggalkan meja makan, padahal ia melihat Dea baru menghabiskan dua potong. Gadis itu kan biasanya mampu menghabiskan satu kotak sendiri, aneh sekali, pikir Daniel.


"Sudah kenyang!" jawab Dea ketus.


Kruk kruk kruk


"Aduh ... Sial!" batin Dea ketika perutnya mulai berulah, suaranya terdengar keras. Membuat Daniel yang mendengar langsung tersenyum.


"Hemm ... Lanjutkan tuh makannya, biasanya juga makan banyak," ucap Daniel dengan senyum yang meledek.


Mau ke kamar tapi perut masih lapar, dengan terpaksa Dea pun memasang muka tembok. Tidak peduli dengan gengsi karena perut butuh diisi.


Sedangkan Daniel, pria itu berdiri di depan mesin kopi. Ia sedang menunggu kopinya siap sembari melirik ke arah Dea yang sedang lahap menyantap pizza. Ketika kopinya sudah siap, eh Daniel malah tidak melihat Dea lagi.


Pria itu berbalik dan mencari keberadaan Dea. "Cepat sekali dia makan?" gumam Daniel sambil menyeruput kopi.

__ADS_1


"Aduh!" Karena tidak fokus, ia malah menyeruput kopi yang masih mengebul. Alhasil lidahnya seperti terbakar.


"Ish ... kenapa jadi nggak konsen gini!" Daniel menaruh cangkir kopinya di atas meja. Tidak jadi meminumnya, ia memilih masuk ke lamaran dan tidur.


***


Hari yang cerah, matahari bersinar dengan lantang. Cahayanya masuk, menerobos jendela kamar Dea. Gadis itu mengerjap ketika sinar yang hangat menyetuh kulitnya.


"Jam berapa ini?" Dea mengosok sebelah mata, tidak lupa menyapu ujung bibirnya. Sepertinya ia tidur sampai ileran. Ih, nggak banget memang si Dea. Pantas Daniel memberinya label di bawah standard SNI.


Di luar kamar, Daniel sudah bersiap untuk ke kantor. Sebelum berangkat, ia meninggalkan catatan kecil yang ia taruh di atas meja.


Daniel sengaja tidak membangunkan Dea, lagian Dea juga tidak ke kampus karena masih libur. Karena ada pertemuan penting, Danile pun bergegas ke kantor.


Astro Group


Pemasangan banner sudah hampir selesai, semua persiapan sudah 90 persen. Tinggal menunggu hari H saja. Puas dengan hasil kerja para karyawan, Daniel akhirnya meninggalkan ruang meeting. Biar sisanya sekretaris Kim yang urus.


Ruang kerja CEO Asto Group, sejak tadi Daniel melirik ponselnya. Sepi seperti kuburan, meski banyak email masuk. Tapi bukan itu yang ia harapan.


Sesaat kemudian, Daniel tersenyum saat benda pipih di atas meja menyala. Namun, senyumnya hanya sekejap saja. Hilang berubah dengan wajah datar.


"Hem ...!"


"Kok hemm?" Dara mengerutkan dahi, biasanya setiap ia telpon, Daniel akan menyambut dengan gembira dan antusias.


"Kejutan! Minggu depan aku bakal ada show di Bali!" sambung Dara dengan nada yang penuh semangat.


Seketika itu, Daniel langsung membetulkan posisi duduknya.


"Minggu depan?" Daniel mengulang kata-kata Dara.


"Iya sayang, minggu depan aku pulang. Tapi nggak lama, paling tiga hari di sana. Kamu susul ke Bali ya?" pinta Dara dengan manja.


Daniel menghela napas panjang, Dea atau Dara? Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2