Dea I Love You

Dea I Love You
Merusak Standardku


__ADS_3

Dea I Love You


Bagian 36


Oleh Sept


Rate 18 +


Sekedar info, karakter Metty terinspirasi dari teman Author waktu sekolah. Namanya Metty, kami suka memanggilnya Miti. Sosok yang kocak dan bisa membangkitkan suasana di saat boring.


***


Metty terpaksa pergi meninggalkan Dea, padahal ia gedek banget ingin bejek-bejek pria tampan suaminya Dea itu. Tapi bagaimana lagi? Sepertinya pria itu punya kuasa, Metty yang tidak kebal hukum pun langsung mengendur dan layu.


Setelah semua orang pergi, hanya tinggal Dea dan Daniel saja, Daniel mengajak istrinya kembali masuk.


"Aku mau pulang?" ucap Dea.


"Pulang ke mana lagi? Sekarang rumahmu di sini!"


Dea menggeleng, ia merasa ini bukan rumahnya. Tinggal di sini sebentar saja sudah membuatnya tersiksa, bagaimana di waktu-waktu yang akan datang? Bisa-bisa Dea tinggal kulit dan tulang karena tekanan batin.


"Untuk hari ini cukup Dea! Jangan membuatku marah! Masuk!"


"Aku nggak mau, aku mau pulang!" Tanpa pikir panjang, Dea langsung berbalik. Tidak tahu ingin ke mana, yang penting tidak tinggal satu atap dengan pria tidak berperasaan tersebut. Dea berlari menuju jalan utama.


"DEA!"


Daniel ikut berlari mengejar Dea yang sudah lari duluan. Wajahnya panik ketika melihat Dea lari dengan asal sambil menyebrangi jalan.


Kepalanya menoleh kanan kiri, kendaraan begitu ramai. Daniel tidak mau istrinya celaka. Tidak peduli pada mobil yang lalu lalang, pria itu terus mengejar Dea.


Chiiiittt


Terdengar suara decitan sebuah mobil, si pengemudi langsung keluar dan berkacak pinggang sambil marah-marah.


"Kalau mau mati jangan nyusahin orang!" makinya. "Untung tidak ketabrak! Pakai mata kalau jalan, jangan pakai dengkul!" tambah si pengemudi yang terlihat emosi.


Daniel yang baru sampai di tempat kejadian, mendengar Dea dimarahi. Ia pun ikut emosi. Tanpa pikir panjang, sebelum mendekati Dea, kakinya menendang salah satu spion milik si pengemudi.


"Sialan lo! Datang-datang ngerusak mobil gue! Nantangin gue lo?"

__ADS_1


Daniel tidak peduli, ia sudah berjongkok di samping Dea. "Bisa tidak, dengar kata-kataku?" ucap Daniel lembut.


Dea yang hatinya sudah kacau, ditambah hampir mati ketabrak mobil, tangisnya pun pecah. Wanita muda itu hatinya lagi patah, pikirannya kalut. Tidak bisa berpikir dengan jernih.


"Hey! Mau ke mana? Tanggung jawab woi!" teriak si pengemudi setelah melihat Daniel membopong gadis yang hampir ia tabrak. Enak saja, sudah merusak mau pergi begitu saja.


***


Malam-malam sekretaris Kim sudah ada di kantor polisi, gara-gara si pengemudi tidak mau damai. Ia keukeh minta Daniel meminta maaf, ini bukan perkara uang. Uang dia juga sudah banyak. Tapi, Daniel masa bodoh. Mana mau dia minta maaf, kalau diperkarakan dia siap-siap saja. Kini ia sudah duduk di apartment miliknya. Membiarkan Kim mengurus masalah yang ia buat.


"Ganti bajumu!" ucap Daniel. Ia menatap celana Dea yang robek bagian lututnya.


Dea yang semula duduk di sofa dengan wajah pucat, perlahan berjalan masuk kamar. Kali ini ia menurut pada Daniel, setelah cuci kaki dan membasuh wajah. Dea berganti dengan piyama motif bunga-bunga.


Sesaat kemudian, Daniel datang dengan kotak P3K warna putih di tangan. Pria itu mendekati Dea yang bersandar pada kepala ranjang.


"Luruskan kakimu!"


Seperti robot, Dea menurut. Mungkin ia masih shock dengan kejadian barusan. Masih jelas sekali dalam ingatan, mobil itu melaju dengan amat kencang. Untung saja berhasil menginjak pedal rem tepat waktu. Bila tidak, Dea tidak bisa berpikir dan membayangkan hal yang paling buruk akan menimpanya.


Tatapan Dea terlihat kosong, ia bahkan bergeming. Diam membisu ketika Daniel menyingkap celana yang ia pakai. Hingga ada sensasi dingin saat lututnya dioles alkohol kemudian bethadine. Dea baru menata lututnya.


Dilihatnya Daniel sedikit menundukkan wajah, meniup luka yang kecil itu. Dea mendesis, itu hanya goresan kecil. Bahkan tidak sakit, ada yang lebih sakit dari pada itu. Sebuah luka yang butuh untuk diobati. Hatinya, ya hati wanita muda itu sedang terluka.


"Tidurnya!" Daniel sadar, ini adalah hari yang melelahkan untuk mereka berdua. Ia pun bangkit dan mengembalikan kotak P3K pada tempatnya.


Ketika kembali ke kamar Dea, dilihatnya Dea sudah tidur. Ia tahu, wanita itu hanya pura-pura. Daniel lantas naik ke atas ranjang, mencari posisi bersiap untuk tidur juga.


"Ngapain tidur di sini? Kembali ke kamarmu!" cetus Dea.


Daniel tersenyum tipis, tebakannya tidak salah. Dea memang belum tidur.


"Aku mau tidur di sini!"


Dea yang masih marah, sebal dan merasa dipermainkan. Ia lantas bangun, lebih baik tidur di kamar sebelah atau di sofa dari pada tidur bersama pria yang hatinya memikirkan wanita lain.


"Tetap di tempat ... atau!" Kata-kata Daniel sengaja menggantung.


Dea pun menatap tajam pada suaminya, "Aku tidak mau tidur satu ranjang dengamu lagi!"


"Cukup Dea, bisa tidak kita tidak ribut malam ini?" Daniel mengusap wajahnya.

__ADS_1


"Kalau begitu tinggalkan kamarku!" ucap Dea mencoba untuk tenang dan mengatur emosinya.


"Jangan mengusirku dari rumahku sendiri, Dea!" Daniel tidak suka dengan dengan sikap Dea.


"Jadi ... biarkan saja aku pergi!"


Suasana hening sesaat.


"Nanti, nanti kalau aku mati kamu baru bisa pergi!"


Kesal, Dea melempar apa saja ke arah suaminya. Bantal, guling, boneka, pokoknya yang empuk-empuk ia lempar ke arah Daniel. Ketika tidak ada lagi yang bisa dilempar, Dea pun terduduk lemas di atas sofa. Ia bersandar dan menghela napas panjang.


Daniel turun dari ranjang, menghampiri Dea dan duduk di sebelahnya. Dea yang masih sebal langsung bergeser, melihat itu Daniel tersenyum miris. Mengapa istrinya tidak mau dekat-dekat?


"Aku tidak punya penyakit menular!" cetus Daniel.


Dea melengos, membuang muka. Malas bicara dengan pria yang menjengkelkan.


"Lihat ke sini! Aku bahkan sedang bicara padamu."


Dea bergeming, diam bagai batu. Sebal! Sebal! Pokoknya gedek banget dekat-dekat sama kudanil.


Daniel berdecak, ia kemudian bangkit. Pria itu berdiri tegap di depan istrinya.


"Aku bicara padamu."


Dea masih membuang muka.


"Dea!"


Dea masih tak menyahut, membuat Daniel mulai naik darah.


"Jangan diam begini! Aku tidak suka!" Daniel sedikit merunduk dan memegang pundak Dea. Lebih tempatnya mencengkram pundak wanita tersebut, karena Dea meringis. Cengkraman itu terasa kuat. Mungkin Daniel juga prustasi, sama halnya dengan Dea.


"Aku malas bicara denganmu, bicara saja dengan kekasihmu itu!" Dea menatap nanar pada suaminya. Matanya juga semakin lama semakin berkaca-kaca.


Mata itu, mata yang selalu menyalak dan begitu berani. Kini terlihat lain, Daniel bisa melihat, ada kesedihan di mata itu. Ada benci, putus asa dan juga cemburu. Daniel menyadari, ketidaktegasannya melukai dua hati.


"Jangan berhenti bicara padaku, lebih baik kamu maki dan marah. Jangan meminta pergi, kau tahu Dea ... kamu bukan tipeku, tapi ...!"


Daniel menatap Dea dengan dalam, "Aku rasa, kau berhasil merusak standardku," Bersambung.

__ADS_1


Ea ... ke mana aja luu ... Bambang!


__ADS_2