Dea I Love You

Dea I Love You
Sosok Di Balik Selimut


__ADS_3

Dea I Love You Bab 13


Oleh Sept


Rate 18+


Ada gunung yang mau meletus,


dan lavanya siap menyembur. Hawa dingin di sekitar jembatan berubah memanas.


"Mati aku!" pekik Dea saat melihat sosok Daniel. Tidak mau tertangkap oleh sang suami, reflect Dea malah menarik tangan Vino.


"Lariiii, Vinnnn!" pekik Dea.


Dua muda-mudi itu pun lari kocar-kacir seperti kena razia, apalagi ketika melihat Daniel yang semakin dekat di belakang mereka berdua. Lari mereka pun semakin kencang. Dea yang memang energetic dan Vino yang merupakan pemain basket jempolan. Fisik keduanya tidak diragukan lagi. Jelas Daniel ketinggalan jauh.


"Dea! Kenapa kita lari?" Masih berlari kencang sambil gandengan tangan. Vino bertanya sambil napasnya yang terlihat ngos-ngosan.


"Udah, jangan banyak nanya. Lari aja terus!" jawab Dea dengan asal sembari terus berlari kencang.


Mereka baru berhenti ketika melihat ada tempat untuk bersembunyi. Dea dan Vino menyembunyikan diri di balik sebuah bangunan tua tanpa atap, tembok-temboknya sudah mulai runtuh saking tuanya. Bangunan tua itu sepertinya dibangun waktu zaman penjajahan Belanda. Dilihat dari dinding-dindingnya yang jebol dan ditumbuhi tumbuhan lumut yang cukup tebal.


Tidak terasa suasana malah jadi mencekam, hanya bulan purnama yang menjadi sumber penerangan. Bisa dibayangkan betapa horornya di sana. Tapi, bagi Dea lebih horor lagi kalau ketangkap oleh suaminya sendiri. Gadis itu tidak bisa membayangkan apa yang akan Daniel hadiahkan pada dirinya nanti bila berhasil tertangkap. Seram! Membayangkan saja, bulu kudunya sudah berdiri semua, kemarahan Daniel lebih seram dari pada setan bagi Dea.


Kresek kresek


Suara orang berjalan di semak-semak terdengar semakin dekat. Dea pun semakin cemas.


"Jangan bicara! Lo diem aja Vin!" bisik Dea tepat di telinga Vino yang bersembunyi di sebelahnya.


"Tapi jangan gitu juga Dea, gue geli!" protes Vino dalam hati. Bisikan Dea membuat darah mudanya sedikit meronta.


Suasananya cocok banget, sangat mendukung. Tempat sepi, dua-duaan. Nenek bilang sangat bahaya. Sementara itu, tidak jauh dari sana, terdengar suara orang berteriak

__ADS_1


"DEAAA!" panggil Daniel, pria itu terus berjalan membelah semak. Akan tetapi suara dahan yang tersapu angin, ditambah suara mahluk malam yang sesekali terdengar, membuat Daniel ingin mundur pelan-pelan. Padahal hanya suara burung hantu di atas pohon tepat di sebelahnya.


Bukannya penakut, hanya saja Daniel kurang suka gelap-gelapan yang seperti ini. Pria berbadan tegap itu pun akhirnya berbalik.


***


Tempat camping di mana banyak tenda-tenda yang sudah tegak berdiri, di sana juga ada sekretaris Kim. Pria itu langsung menyambut Daniel yang datang dengan wajah masam.


"Sendirian, Tuan?"


Pertanyaan itu dijawab dengan tatapan tajam oleh Daniel. Sudah tahu ia hanya berjalan sendiri, masih saja bertanya. Kim benar-benar memancing ikan di air keruh.


"Tuan mau istirahat di mobil apa tenda? Saya sudah bicara pada pihak penyelengara, kita bisa pakai tenda yang di sana." Sekretaris Kim menunjuk sebuah tenda paling ujung di bawah pohon yang rindang.


"Tidak! Aku akan menunggu anak itu di sini," tolak Daniel. Matanya menatap jauh ke arah pepohonan di mana tadi ia keluar mencari Dea.


"Apa mau saya siapkan makan?"


Kim hanya mengangguk, kemudian memilih ke tenda warna biru yang paling ujung. Lelah juga tubuhnya karena mengendara cukup jauh dan lama. Pakai acara ban bocor segala, benar-benar hari yang melelahkan bagi sekretaris Kim. Kini pria itu memilih merebahkan tubuhnya di dalam tenda.


***


Merasa aman, Dea pun keluar dari tempat persembunyiannya. Tapi, ia sekarang ragu-ragu untuk melangkah. "Ngapain tadi kabur?" Dea merutuki ulahnya. Kalau sudah begini, tanduk Daniel malah jadi dobel. "Bodohnya kamu Dea!" Gadis itu mengacak-acak rambutnya sendiri.


"Tadi itu siapa? Mengapa kita lari?" tanya Vino sambil menyibak semak untuk mereka lewati.


Sudah pusing memikirkan perkara Daniel, kini ditambah lagi harus mencari jawaban yang tak mencurigakan untuk ia katakan pada Vino. Dea dibuat stres karena ulahnya sendiri.


"Nanti aku ceritain. Ayo kita balik."


"Siapa dia?" Vino mulai penasaran.


"Dia ... dia ... !" Dea nampak bingung mau menjawab apa.

__ADS_1


"Pacar kamu?" tebak Vino yang curiga. Tapi setau cowok itu, Dea jomblo permanent. Jadi siapa gerangan pria yang mengejar mereka? Jelas bukan penjahat. Dari peragainya saja terlihat pria tajir dan bukan orang biasa. Lama-lama Vino jadi kepo berat.


Dea langsung menggeleng kepalanya keras. Pacar dari Hongkong? pikir Dea.


"Bukan!"


"Hem ... baguslah," ucap Vino penuh arti.


Tanpa terasa mereka berdua sudah sampai di lokasi camping, mata Dea pun langsung memindai sekitar. Ia sedang mengendap-ngendap, agar tidak ketahuan Daniel.


"Syukurlah, pria itu sudah pergi." Dea merasa lega, karena tidak melihat sosok Daniel sama sekali.


"Vin, gue ke tenda ya!" pamitnya pada Vino.


"Mau gue anter?"


"Ish! Jangan ngeledek lo."


Vino hanya tersenyum ketika melihat Dea semakin menjauh. Ia sendiri memilih bergabung bersama teman-temanya di dekat api unggun.


Tenda oren. Itu adalah tenda tempat Dea dan Metty bermalam beberapa hari ke depan.


"Mittiii ... geser dikit sana." Dea menepuk tubuh Metty yang tertutup selimut. "Sejak kapan badan Metty jadi panjang bener?" batin Dea. Bersambung.


Itu Metty apa bukan? Hihihih


Yang mau kenalan sama Author gabut Sept cuss ...


FB : Sept September


IG : Sept_September2020


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2