
Dea I Love You
Bagian 63
Oleh Sept
Rate 18 +
Kelopak bunga sakura bertaburan jatuh, tersapu angin di satu malam di jantung kota. Di antara gemrisik angin yang menerpa dedaunan kering, ada Kim. Sekeping hati yang sedang carut-marut. Menyaksikan pemandangan tak biasa, yaitu mobil yang bergerak-gerak, membuat pria itu pergi menjauh.
Beberapa waktu kemudian. Ponsel Kim berdering.
"Kim, kamu di mana?"
"Sudah selesai, Tuan?" sindir Kim dengan sedikit kesal.
"Hah?"
"Tidak, Tuan. Saya ke sana sekarang."
Daniel mengeryitkan dahi, tidak mengerti ucapan sekretarisnya.
Di dalam mobil, Daniel membantu merapikan rambut istrinya. Wajah Dea terlihat masam, gara-gara diterpa gempa susulan. Entah kerasukan setan mesum dari mana, Dea rasa Daniel sudah tidak bisa diprediksi.
***
Keduanya diam, ketika Kim membuka pintu mobil.
"Mau ke mana kita, Tuan?"
"Langsung pulang saja," jawab Dea dan Daniel hampir bersamaan. Membuat sekretaris Kim tambah keki sendiri.
Sakuragi Emperor Hotel
"Tuan, besok agenda Kita pagi sekali. Saya mohon jangan telat."
Daniel melirik tajam. "Hem ... aku tahu."
"Jangan membuat klien sampai menunggu lama, Tuan!"
"Iya, Kim. I know!"
Sekretaris Kim manggut-manggut, pasalnya ia tidak mau menunggu lama seperti yang sudah-sudah.
__ADS_1
Setelah bicara singkat dengan Kim, Daniel pun mendekati Dea. Mereka sama-sama masuk kamar. Meninggalkan Kim yang jomblo berteman sepi sendirian.
***
Esok harinya, di sebuah gedung tinggi. Di salah satu ruangan, terlihat Daniel sedang mendengarkan dengan serius sang pembicara. Ia kemudian menyuruh translator menerjemahakan bahasa jepang tersebut. Daniel hanya mengerti sebagian, tidak begitu mengerti yang lainnya.
Beberapa saat kemudian, setelah meeting tertutup itu akan berakhir, seorang wanita berkebangsaan Indonesia masuk ke dalam ruangan. Semua berdiri menyambut wanita tersebut.
"Selamat pagi Tuan Daniel, maaf karena terlambat. Gempa membuat kemacetan," wanita itu mencari alasan.
"It's okay, no problem."
"Sepertinya meeting akan selesai, setelah ini, bolehkah saya mentraktir kalian makan?" Aiko tersenyum ramah pada Daniel dan pria di balik tubuh pria itu.
Daniel tersenyum balik, ia tidak keberatan. Bertemu dengan penduduk pribumi di luar negeri, cukup menyenangkan. Apalagi melihat Aiko, wanita muda yang cerdas dan wajahnya sering wara-wiri di sampul majalah bisnis. Generasi ketiga dari Salim group tersebut, namanya cukup banyak dibicarakan banyak orang.
Keluarga konglomerat, mendirikan cabang perusahaan di beberapa negara. Membuat orang pasti mengenal sosok besar Salim Group beserta keturunannya.
Di sebuah restaurant di tengah Kota. Terlihat Daniel, sekretaris Kim dan Aiko duduk satu meja.
"Selamat untuk pernikahan Tuan Daniel, maaf ... waktu itu saya sedang ada di sini. Jadi tidak bisa datang di acara Tuan."
"Tidak apa-apa, oh ya. Saya ke sini juga bersama istri saya. Nanti kalau ada waktu luang, mungkin kalian bisa saling mengobrol."
Drettt drettt
Daniel melihat ponselnya, "Tunggu sebentar!"
Daniel meninggalkan meja, pria itu pindah meja untuk bicara di telpon.
"Iya, sayang."
"Pulang jam berapa?" tanya Dea dengan suara manjalita.
"Bentar lagi, pesen apa?"
"Nggak usah."
"Beneran?"
"Hehehe," Dea tersenyum penuh arti.
"Mau apa? Nanti aku bawakan ... katakan aja, mumpung lagi di luar nih. Takoyaki, udon, mochi, sushi?"
__ADS_1
"Ish!"
Keduanya malah saling bercanda, bicara di telpon dengan senyum-senyum tak jelas.
"Ya sudah, aku tutup ya."
"Iya, hati-hati. Bawain dorayaki ya."
"Hemm, nanti aku bawakan."
***
Daniel pun kembali membaur bersama Kim dan Aiko. Dilihatnya Kim berbicara santai dengan wanita tersebut. Bibirnya melengkung, playboy juga si Kim ini, batin Daniel. Kapan hari sempat jalan sama Metty, dan sekarang lihatlah, sepertinya Kim tertarik pada Aiko. Karena sudah selesai makan dan sedikit bincang-bincang, Daniel pun undur diri. Lagian Dea sudah menunggu di hotel.
"Senang bisa bertemu di sini," Daniel mengulurkan tangan. Aiko pun menjabat tangan Daniel dan sekretaris Kim.
"Hemm, sampai jumpa di tanah air," tambah Daniel. Dan Aiko tersenyum.
"Tidak ada alasan untuk kembali dalam waktu dekat."
Daniel lantas menyenggol pundak Kim. Membuat Kim mengeryitkan dahi.
"Bisa minta nomor kontaknya?" Melihat Daniel dan sekretaris Kim akan pergi, Aiko mencoba menahan mereka.
"Nomor ponsel Kim kan maksudnya?" tanya Daniel dengan bercanda.
Aiko tersenyum manis, memperlihatkan gigi putihnya yang berbaris rapi.
Sekretaris Kim menelan ludah, sebenarnya ini kesempatan emas. Bisa mengenal lebih jauh Aiko, tapi nanti bagaimana dengan Metty? Ia kan lagi PDKT sama teman Dea tersebut. Bisa-bisa ia kena hajar istri bosnya karena membuat mainan sang sahabat. Ah, Kim galau. Mau Metty atau Aiko.
"Ini." Sekretaris Kim menyerahkan kartu namanya.
"Trims Kim, nice to meet you."
Kim jadi salah tingkah, apalagi ketika wanita itu melempar senyum manis. Sepertinya gula darah Kim langsung Naik.
***
Di dalam mobil, Aiko mengendara sembari bicara di telpon menggunakan headset.
"Kapan pulang?" Suara di seberang telpon terdengar lembut, menanyakan kabar kepulangan sang putri.
"Segera!" Bersambung.
__ADS_1