
Dea I Love You
Bagian 40
Oleh Sept
Rate 18 +
"Aku mau tinggal di sini untuk beberapa hari ke depan," ucap Dea ketika Daniel sudah berdamai dengan rasa sakitnya. Rupanya tendangan Dea cukup terarah dan mengenai sasaran. Hampir saja, bila saja tadi Dea mengeluarkan kekuatan penuh. Bisa dipastikan, Daniel akan bermasalah dengan kejantanannya.
"Iya."
Dea memandang wajah Daniel lekat-lekat, tumben sekali Daniel tak menolak maunya?
"Kamu tidak keberatan aku di sini?"
Daniel menggeleng.
"Tidak apa-apa, nanti aku ambilkan barang-barang yang sekiranya kamu butuhkan."
Daniel bersikap tenang dan terlihat lebih hangat dari pada biasanya. Bahkan gaya bicaranya pun enak didengar, tapi mengapa Daniel jadi baik? Dan ia jadi baik saat ayahnya sudah pergi? Dea merasa curiga.
Tidak terasa, kembali teringat mendiang sang Ayah, wajah Dea berubah muram. Ada riak sendu yang tergambar di raut mukanya di pagi yang mendung ini. Semendung hati Dea setelah ditinggal sang ayah.
Tok tok tok
"Sayang, dokter sudah datang." Meskipun mama tahu pintunya tidak dikunci, mama tidak mau masuk seperti beberapa saat lalu. Nanti kalau ada adegan anu, mama malah repot sendiri.
Daniel dan Dea saling menatap, kemudian salah satu di antara mereka membuka pintu yang diketuk sang Mama.
"Iya, Ma."
Dea muncul dengan baju yang acak-acakan.
"Belum mandi?"
__ADS_1
"Iya, ini baru mau mandi."
"Daniel masih tidur?" Mama Rosie mencoba melirik di balik pintu.
"Sudah bangun kok, Ma."
"Ya sudah, Mama tunggu. Kamu buru-buru mandi, bauk!" ucap Mama dengan nada penuh canda.
Dea hanya tersenyum, setidaknya ia masih memiliki mama mertua yang berhati Malaikat. Tapi tunggu, pernikahan ini terjadi karena permintaan Mama Rosie dan ayahnya. Sekarang Ayah sudah pergi, jangan-jangan Daniel baik padanya karena akan menceraikan dirinya?
Dea langsung lemas, Daniel bahkan memperbolehkan dirinya tinggal di sini. Pasti pria itu tambah senang. Bisa menemui Dara dengan bebas tanpa hambatan. Bisa selingkuh sampai puas.
"Dea ... Deeaa!" panggil Daniel tepat di telinga istrinya. Dea malah melamun, memikirkan hal yang bukan-bukan.
Sadar dari lamunan, ia menatap Daniel dengan muka kesal. Pasti pria itu akan menceraikan dirinya, setelah ayah tidak ada lagi di dunia ini. Dengan memasang muka uring-uringan, Dea berjalan melewati Daniel.
"Ya ampun, ada apa dengan dirinya? Emosinya selalu naik turun, apa datang bulannya belum selesai juga?" gumam Daniel.
***
Dokter masuk ke dalam kamar, ia membantu melepas infus yang masih terpasang. Dokter bilang kondisi Dea pun sudah membaik sepenuhnya. Mungkin karena kedatangan Daniel, obat paling mujarab.
Daniel yang semula masih di dalam kamar yang sama, dapat mencium aroma kesegaran tersebut. Sebuah wangi-wangian yang kadang membuat jiwa laki-lakinya jadi bangun.
"Pasti sudah selesai!" pikir Daniel saat melihat Dea yang duduk di meja rias sambil mengusap rambutnya dengan handuk.
Penasaran, Daniel melangkah perlahan mendekati Dea.
"Apa sudah selesai?"
Dea kaget, tiba-tiba Daniel bertanya tepat di telinganya. Kebiasaan banget si Daniel, suka bikin orang jantungnya.
"Apanya?" Mata Dea mendelik, garang dan tidak ada manis-manisnya. Itu karena Dea lagi negative thinking. Dea lagi sensi, ia pikir akan diceraikan oleh Daniel sesaat setelah ayahnya wafat. Lagian semula ia juga tidak ingin pernikahan ini, hanya karena rasa sayangnya pada sang Ayah. Membuat Dea mau menurut apa kata ayahnya.
Sekarang Ayah sudah pergi, tidak ada lagi alasan bersama. Tapi, hati Dea kini malah terasa sakit. Ia merasa kalah, karena sudah jatuh cinta.
__ADS_1
"Itu ...!"
"Itu apa?" salak Dea.
"Yang itu!" Daniel menatap ke arah bawah perut Dea.
Spontan Dea menutupi perutnya dengan handuk yang semula ia pakai mengeringkan rambut.
"Mesum!"
Bluk bluk bluk
Dea memukuli lengan suaminya, masih dalam suasana berduka, masih sempat-sempatnya Daniel memikirkan hal yang bukan-bukan. Dan lagi, apa Daniel pikir Dea mau tidur bersamanya lagi? Jangan harap, hubungan mereka belum jelas. Dea tidak mau nanti malah hamil dan Daniel masih berhubungan dengan wanita lain.
Dipukuli secara bertubi-tubi, Daniel malah terkekeh. Pria itu merasa senang, melihat Dea yang begitu semangat menghajar dirinya. Itu artinya Dea masih punya tenaga. Artinya Dea sudah pulih, lebih baik begini daripada melihat Dea yang membisu seperti patung. Daniel lebih suka Dea yang ekspresif. Dari pada diam seribu bahasa.
"Kalian lagi apa?"
Suara Mama membuat Dea menghentikan aksinya.
Suara pukulan dari luar, membuat Mama Rosie penasaran dan menerobos masuk begitu saja.
"Nggak ... nggak ngapa-ngapain, Ma," elak Dea. Tapi tangan Daniel sudah menyentuh pundaknya. Padahal Daniel berniat mau menghentikan aksi Dea yang terus memukulnya. Tapi jika dilihat oleh orang yang tidak tahu apa-apa, posisi keduanya terlihat seperti Daniel akan melakukan sesuatu.
"Harusnya aku nggak masuk!" batin Mama Rosie. "Ya sudah, kalian lanjutkan!" seru Mama sambil menarik handle pintu.
"Maaa ... Kami nggak ngapa-ngapain!"
KLEK
Terlambat, mama Rosie tidak mendengar. Selain karena pintu sudah ditutupi, suara Dea juga terdengar sangat lirih.
Sedangkan Daniel, pria itu masih tidak peduli. Mau ngapa-ngapain juga terserah. Toh mereka pasangan suami istri. Hal-hal seperti itu sudah sangat lumrah, laki-laki dan wanita yang sudah menikah, lama-lama di dalam kamar. Apalagi kalau pengantin baru, mau ngapain lagi?
Mau tanya ke semua orang di seluruh penjuru dunia, jawabnya pasti sama. Mau ngapain lagi.
__ADS_1
"Kamu sih!" cetus Dea menepis tangan suaminya.
Melihat bibir Dea yang maju lima senti, membuat Daniel gemas. Tidak tahan, ia langsung saja merampas bibir Dea. Bersambung.