Dea I Love You

Dea I Love You
EMOSI


__ADS_3

Dea I Love You


Bagian 34


Oleh Sept


Rate 18 +


Muka Dea terlihat sudah merah, bukan karena rasa malu atau karena blush on, tapi karena amarah yang sudah membuncah. Hidungnya juga kembang kempis, wanita itu menahan amarahnya sampai nyut-nyutan. Darahnya terasa mendidih di atas ubun-ubun. Daniel sepertinya sengaja berteriak, seakan sedang memberi tahu pada khayalak ramai, kepada para penghuni kampus, bahwa ia sudah tidak single lagi, bahwa ia kini wanita yang sudah menikah.


Tidak suka cara Daniel yang seperti itu, berteriak di depan banyak orang. Dea seketika itu juga langsung berbalik. Ia menuju ke tempat di mana Daniel berdiri dengan langkah gusar. Setelah menghela napas yang dalam, Dea pun mulai berucap.


"Kamu juga pria yang sudah menikah! Teruskan saja berhubungan dengan pacarmu itu. Sekarang tidak usah ganggu aku lagi!" ujar Dea dengan tenang namun jantungnya seakan mau meledak. Ia mencoba setenang mungkin, karena tidak mau jadi bahan tontonan orang-orang di sana.


Sedangkan Daniel, pria itu tak mampu mengelak lagi. Ia sudah tidak berkutik ketika Dea membalik ucapannya sendiri. Menuduh Dea yang bukan-bukan, padahal ia sendiri yang melakukannya. Dan kini, seperti ada biji salak dalam tenggorokan, Daniel menelan ludahnya dengan pelan. "Sial!" batinnya.


"Kita bicara di tempat lain!" ajak Daniel kemudian, karena ia sadar banyak mata yang melihat mereka berdua.


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan, bicara saja dengan pacarmu itu. Yang lebih cantik, seksi dan sesuai tipemu!" sindir Dea dengan mengebu.


"DEA!" pekik Daniel, ia berusaha meraih lengan Dea. Namun, wanita muda itu langsung berjalan mundur dan menepis tangan suaminya. Dea terlanjur kesal pada sikap Daniel yang masih mencintai pacarnya tapi mengapa juga dekat-dekat dengannya.


"Kita bicarakan di rumah!" sentak Daniel yang juga kesal karena Dea susah dibujuk.


"Kenapa? Jangan bilang masih punya rasa malu! Kalian saja berciuman di depan umum!" cetus Dea tidak mau kalah.


Seketika para penonton pun langsung mengunjing Daniel secara berjama'ah. Beberapa mahasiswa dan orang yang lalu lalang yang sempat menguping, menatap jengkel kepada Kang selingkuh tersebut. Kini semua sibuk mengomentari Daniel dari belakang.


"Dasar tidak tahu malu!"


"Laki-laki menjijikkan!"


"Buaya!"


"Pria ganteng emang doyang selingkuh!"


"Aku doain impotent!"


"Di mana-mana, pria memang sama saja!"


"Udah tinggalin aja, jangan dimaafin!"


"Memalukan!"

__ADS_1


Begitu banyak bisik-bisik yang samar terdengar, membuat Daniel tidak nyaman lama-lama di sana. Ia pun mendengus kesal, Daniel dapat merasakan tatapan penuh benci dari orang-orang di sekitar sana. Terutama kaum hawa, sekejap mata ia langsung mendapat rentetan makian dari para hater yang membenci perselingkuhan.


"Dea ikut denganku!" Kali ini ia mencengkram pergelangan tangan Dea dengan erat. Membawa pergi Dea dari kerumunan orang yang menatap jengkel ke arahnya.


"Lepasin! Sakit tau!" Dea menghentakkan lengannya, tapi cengkraman Daniel terlalu kuat. Daniel tidak memberi cela bagi Dea untuk lepas.


***


Mobil melaju kencang, menembus debu jalanan. Daniel mengemudi dalam kebisuan. Sama seperti Dea, gadis itu menatap kosong ke arah jendela tanpa suara.


"Kamu masih mau di sini terus?" tanya Daniel sembari membuka pintu, ditatapnya Dea yang bergeming. Diam menatap kosong ke depan.


Masih memasang muka masam, Dea masuk ke apartment dengan tidak bersemangat. Langkahnya gontai, bila ada slogan rumahku surgaku. Bagi Dea, kini rumahku adalah nerakaku. Tidak tau mengapa, setiap melihat wajah Daniel. Ia selalu teringat moment Daniel dengan wanita lain. Apalagi saat suaminya telpon sembunyi-sembunyi di belakangnya, Dea tiba-tiba merasa kesal tanpa sebab, cemburu yang belum dirasa.


"Dea ... keluar! Aku mau bicara." Daniel berdiri di depan pintu kamar, sambil melipat tangan dan bersandar pada tembok.


"Aku capek, mau tidur!" sahut Dea dari dalam.


Daniel menatap jam yang bertenger di dinding. "Jam berapa ini?" gumamnya.


"Dea!"


"Tolong jangan ganggu!" Dea teriak lebih kencang.


Daniel merasa geli, ponsel yang ada di dalam saku bergetar membuat ia merasa geli.


"Hallo."


"Tuan ... Tuan ...!"


Daniel hafal dengan suara Bibi penjaga rumah Dara.


"Ada apa, Bi?"


"Nona Dara, Tuan. Nona Dara sekarang dibawa ambulan." Suara Bibi terpotong-potong, dari nadanya ada kecemasan yang terkandung dalam tiap kata yang ingin ia ucapkan.


"Bicara yang jelas, Bik! Dara kenapa?" sentak Daniel. Membuat Dea yang semula acuh jadi mencuri dengar dan sedikit penasaran.


Di balik pintu, Dea sedang memasang pendengaran dengan tajam. Ia sedang nguping sambil menempelkan telinga ke pintu kamarnya.


"Oke, saya ke sana!"


KLEK

__ADS_1


suara pintu terbuka.


Dea muncul dari balik pintu, ia menatap Daniel penuh arti.


"Dea," ucap Daniel.


"Pergilah! Aku juga akan kemasi barang-barangku." Dea berbalik, ia mengambil koper dari atas lemari. Memasukkan semua bajunya dengan asal dan berantakan.


Selesai, semua selesai. Daniel menang, ia kalah karena sudah jatuh cinta duluan. Sambil memasukkan baju, tangannya mengusap pipi.


"Gadis bodoh! Apa yang kau tangisi? Kau bukan tipenya!" maki Dea dalam hati.


Di luar kamar, Daniel sesang dilanda dilema. Mau ke rumah sakit atau tetap di sini mempertahankan Dea.


Beberapa menit kemudian.


"Siapa yang mengijinkanmu pergi?" Daniel mengambil dengan paksa koper milik Dea, mendorong koper itu hingga membentur sofa. Menimbulkan bunyi benturan yang cukup nyaring.


"Dari awal aku yang salah, hadir di antara kalian. Aku salah karena menerima perjodohan ini. Sekarang, mari kita akhiri." Dea berpaling sejenak, mengusap sudut matanya, ia tidak mau Daniel melihat ia menangis. Dengan langkah berat, ia mengambil kopernya lagi.


Bruakkk


Daniel merebut koper tersebut kemudian melemparnya jauh, hingga semua isi di dalamnya keluar dan tercacar di atas lantai.


Dea terkejut, ia heran mengapa Daniel terlihat begitu marah. Bukannya akan bagus bila ia pergi? Bukannya pria itu akan bebas mencumbu kekasihnya tanpa ada yang menganggu?


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Dea, ia pun mencoba memasukkan kembali pakaiannya yang berserakan. Setelah semua sudah masuk, ia kembali bangkit dan memandang Daniel dengan tatapan benci.


"Bahkan aku mau pergi pun kamu persulit? Apa aku tidak boleh membawa ini? Oke! Ambil! Aku tak butuh semuanya!" Kini Dea sendiri yang melempar koper itu. Sayang sekali, koper tanpa dosa nan mahal itu harus penyok gara-gara dua orang yang lagi emosi tersebut.


Hanya membawa baju di badan, Dea nekad meninggalkan apartment. Apa Daniel diam saja?


Klek klek klek


Dea terlihat kesusahan mau keluar dari sana, pintu sudah dikunci sebelumnya oleh Daniel.


"Buka pintunya!"


Daniel mendekat, tapi tidak untuk membuka pintu. Ia hanya memberikan peringatan pada istrinya.


"Kabur sekali lagi, kamu pasti menyesal!" ancam Daniel.


"Jangan gila! Mana tahan aku hidup dengan pria yang mencintai wanita lain?" Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2