
Dea I Love You
Bagian 15
Oleh Sept
Rate 18 +
Baru beberapa saat, tidak lebih dari lima menit. Akan tetapi rasanya begitu sangat lama. Waktu seolah melambat, jam seakan berhenti berputar.
"Aku tidak bisa tidur kalau begini," ucap Dea memecah sepi.
"Jangan bergerak, hari ini aku lelah sekali. Tidurlah!" Daniel yang memang merasa lelah, mulai memejamkan mata. Tapi jantungnya masih berdebar. Sambil memaksa matanya terpejam, dalam hati ia membaca mantra kembali.
"Dea itu gadis jelek, jorok, jangan sampai menaruh hati pada jenis wanita seperti itu. Hanya gadis jelek dan jorok. Jelek ... jorok ... jelek ... jorok ... Bukan tipeku ... bukan tipeku!"
Ia ucapkan kata-kata itu berkali-kali. Namun, hanya di dalam hati. Anehnya, lengan Daniel tak kunjung lepas dari pinggang gadis tersebut. Mulut, hati, pikiran dan badan tidak ada yang sinkron sama sekali.
"Aku tidak akan keluar, tapi tolong lepasin!" pinta Dea kemudian. Karena kalau terus-terusan seperti ini sepanjang malam sampai pagi, bisa-bisa Dea tidak tidur semalaman.
Mendengar permintaan Dea, reflect Daniel langsung melepas pelukannya itu. Ia juga heran, mengapa bisa memeluk Dea.
"Aku tidak memelukmu ya, ingat! Aku hanya tidak ingin kamu kabur seenaknya."
Daniel langsung bersikap dingin kembali, sedangkan Dea sendiri hanya diam. Lepas dari pelukan Daniel saja ia sudah lega. Tidak mau debat, gadis itu mengeser posisinya dan tidur sambil membelakangi Daniel.
Anehnya mata Dea enggan terpejam, pikirannya malah lari ke Metty. Kalau suaminya di tenda, terus Metty tidur di mana?
Tenda biru.
__ADS_1
Setelah malam makin larut, Metty pun memutuskan untuk tidur. Tapi tidak di tendanya.
"Sombong banget Dea, masa nggak mau tidur sama gue? Pakai ngutus orang segala!" Metty ngedumel. Ia kesal karena disuruh pindah tenda oleh sekretaris Kim.
"Gue jadi curiga sama Dea, punya mobil baru. Camping bawa ajudan, jangan-jangan ..." Metty membekap mulutnya sendiri.
"Ya Tuhan, Dea jangan-jangan simpanan om-om?" pikir Metty.
"Kasihan kalau Om Rudi, tapi ... jangan-jangan Om sendiri malah jual Dea demi menyelamatkan pabrik yang hampir gulung tikar?"
Bukannya tidur, pikiran Metty malah berkelana kemana-mana. Menduga-duga, teman baik Dea itu malah memikirkan hal yang bukan-bukan. Dasar Mittiii!
Sementara di luar sana, sekretaris Kim kini harus tidur di dalam mobil. Demi apa coba? Gara-gara Daniel yang mau tidur satu tenda dengan Dea, ia harus mengalah.
***
Jam baru menunjukkan pukul 3, hawa dingin sangat terasa merasuk sampai ke tulang. Membuat Dea mengigil kedinginan.
"Selimut!" ucap Dea sambil mengigil.
"Sok mau camping ... ish!" gerutu Daniel sambil mencari selimut lainnya. Pria itu membuka tas ransel yang ada di dalam sana. "Selimut apa lagi? Nggak ada!"
"Dingin!"
Daniel menoleh, dilihatnya Dea yang sepertinya benar-benar kedinginan. Pria itu lantas melepas baju yang ia pakai, melepas celana panjangnya juga. Kemudian masuk ke dalam selimut.
Detik berikutnya, sebuah pakain wanita terlempar dari dalam selimut. Tidak lupa celana jeans yang semula Dea kenankan. Dua orang itu kini hanya memakai pakaian dalam saja.
"Mendekatlah!" Daniel langsung menarik tubuh Dea dalam pelukannya. Pria itu mencoba membuat Dea semakin hangat.
__ADS_1
Ada rasa hangat saat tubuh saling menyatu, Dea juga perlahan sudah tidak mengigil. Gadis itu malah terlihat nyaman dan tertidur lagi dalam dekapan Daniel.
Karena masih pagi buta, Daniel pun mencoba memejamkan matanya kembali, nggak jadi pipis. Sekarang pria itu sudah berhasil mengatasi masalah Dea yang kedinginan. Tapi, kini malah ia yang dirundung masalah.
Daniel lama-lama jadi merasa gerah, ada hawa panas yang menjalar, mengalir dalam aliran darahnya. "Ish ... Sial!"
Ia menyesal melakukan hal ini, kini pria tersebut malah terjebak dalam situasi yang meresahkan. Ada sesuatu yang mengeras tanpa ijinnya.
Bagaimana pun juga ia masih pria normal, bohong bila tubuhnya tidak terpengaruh oleh keadaan seperti ini.
Srek
Daniel menyibak selimut, hanya sampai wajah keduanya terlihat. Diliriknya kepala Dea yang menempel di pundaknya. Ada bisikan setan yang membuat tangan Daniel untuk membuka lebih dan lebih.
Wajahnya terasa semakin panas karena gejolak yang sudah mulai berkobar, seolah membakar jiwa pria yang sudah dewasa tersebut.
Dengan jahil, tangannya kembali bergerak menarik selimut. Hingga punggung mulus itu terlihat di bawah cahaya temaram.
Daniel kesulitan menelan ludahnya sendiri, seperti ada biji salak yang tersangkut di tenggorokan.
Persetan, tidak lagi peduli Dea tipenya atau bukan. Yang jelas, posisi Dea yang memeluknya erat, dan tidak memakai apa-apa, membuat jantung Daniel meletup-letup, berdebar tak karuan. Membuatnya gelisah dan merasa tergoda.
Saat punggung Dea sudah terekspose sempurna, tangan Daniel pun mulai berkelana. Hal pertama yang ia lakukan adalah membelai dan meraba.
Terasa lembut dan halus, sejenak ia berhenti ketika Dea mulai bergerak karena merasa geli. Jantung Daniel seakan mau meledak, Dea yang ia remehkan selama ini kenapa membuat hatinya jadi kalang kabut?
Ketika Dea kembali tenang, pria itu kembali melakukan aksi absurdnya. Sambil menahan napas, seperti maling ayam yang takut ketahuan. Daniel melakukan aksi dengan penuh kehati-hatian. Takut kalau Dea bangun.
"Dea ... Dea, bangun!" terdengar suara senior Dea yang berdiri di depan tenda. Rencananya, pagi buta ini, mereka akan mendaki ke puncak. Biar bisa menikmati sun rise.
__ADS_1
"Dea, bangun dong!" panggil senior Dea sekali lagi.
"Kimmmm!" pekik Daniel dengan wajah kesal. Mengapa area tenda mereka tidak disterilkan? Bersambung.