
Dea I Love You
Bagian 49
Oleh Sept
Rate 18 +
"Dea! Apa ini?"
Daniel heran, mengapa ia dilempar cucian kotor? Apa salahnya? Bukannya tadi pagi hubungan mereka masih baik-baik saja? Ketempelan jin dari mana istri kecilnya itu.
"Dea ...!"
Bruakkk
"Astaga."
Daniel terhenyak, Dea membanting pintu kamar dengan kencang. Kamar Dea sendiri, bukan kamar mereka berdua.
"Sayang ... buka pintunya. Kamu kenapa marah-marah tidak jelas seperti ini?"
Tok tok tok
"Sayang."
Di dalam kamar, Dea menutup telinga dengan bantal. Pokoknya ia sebal dengan Daniel. Pria itu memang buaya buntung, harusnya Dea tidak luluh dan percaya hanya karena Daniel mengucapkan kata cinta.
Klek
Bukan Daniel namanya kalau tidak melakukan apa saja demi mendapat keinginannya. Dengan modal kunci cadangan, Daniel masuk menerobos kamar Dea.
"Ish!" Dea mendesis kesal, saat menyadari ada penyusup masuk dalam kamar pribadinya.
"Keluar dari kamarku."
"Lah ... kamu itu kenapa? Marah-marah nggak jelas?" Daniel belom paham, tadi saat Dea melempar pakaian kotor. Ia langsung meletakkan kembali ke dalam keranjang, tanpa sempat melihat dan memperhatikan.
"Aku benci kamu."
"Mulai deh ... mulai, nggak sopan!" Saat Daniel mendekat dan akan menyentil dahi Dea, wanita itu langsung menangkis tangan Daniel dengan kasar.
"Dea, ada apa denganmu?"
Daniel menyentuh pundak Dea, menatap istrinya yang kini melotot tajam ke arahnya. "Astaga! Ada apa dengan anak ini?" batin Daniel.
__ADS_1
"Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Daniel kemudian saat melihat sorot mata yang tidak bersahabat tersebut.
"Jangan pegang-pegang! Aku jijik sama kamu."
"DEA!" Daniel marah, ia merasa Dea sudah sangat keterlaluan.
Dea yang sama emosinya, pun mulai melabrak sang suami.
"Di mana kamu mencumbunya? Di hotel? Di kantor? Menjijikkan! Kalian memang pasangan mesum!"
"Apa maksudmu? Tolong bicara yang jelas!" sentak Daniel yang belum connect. Otaknya belum nyambung, mengapa Dea marah dan emosional pada dirinya.
"Harusnya aku nggak pernah percaya sama pria breengsek sepertimu!" umpat Dea dengan nada kecewa.
"Dea! Jaga bicaramu!" Daniel tidak terima, istrinya mengeluarkan kata-kata yang kasar dan membuat telinganya gatal.
"Kenapa? Kamu yang harus jaga sikapmu! Sudah menikah tapi masih main wanita. Sepertinya kita memang tidak cocok! Aku bukan tipemu, bukan? Mari kita akhiri. Toh ayah juga sudah pergi."
"Hati-hati kalau bicara! Siapa yang main wanita?" Merasa tidak selingkuh, Daniel enggan dituduh. Bahkan ia sudah putus dengan Dara demi Dea. Jelas ia tidak terima semua tuduhan dari Dea.
Kesal, Dea mendorong kuat dada bidang itu. Ia berjalan dengan gusar menuju belakang. Saat tiba, matanya mencari di mana kemeja yang terdapat noda lipstick-nya.
"Jelaskan padaku! Ini bibir siapa?" mata Dea melotot mau keluar.
"Kamu salah paham, kami tidak berciuman. Dia hanya minta pelukan terakhir. Kami sudah tidak ada hubungan apa-apa. Ayolah, jangan salah paham. Aku sudah putuskan Dara demi kamu, Dea."
"Kamu pikir aku percaya?"
Dea melempar kemeja Daniel ke sembarang arah.
"Ya Tuhan, aku serius. Kami sudah putus." Daniel mencoba memberikan penjelasan, bahwa dia dan Far memang sudah berakhir.
"Cih, putus tapi ada noda seperti ini? Aku bukan anak kecil yang gampang kamu bodohi!" ujar Dea tidak percaya.
"Demi Tuhan Dea, percaya apa yang aku katakan."
"Jangan bawa-bawa Tuhan, malu sama tuh kelakuan!" cetus Dea dengan berani dan keras.
"Dea! Kenapa bicaramu sangat kasar? Jangan kurang ajar hanya karena aku bersabar."
"Astaga! Bersabar? Oke ... fix. Aku mau Kita pisah!" Dea yang cemburu buta. Dea yang masih muda, daranya bergejolak. Hatinya tidak terima karena Daniel terbukti berhianat berkali-kali.
"Apa kamu bilang?"
"PISAH! Aku mau mengakhiri pernikahan menjijikkan ini. Aku mau mengakhiri kebodohanku, karena dengan mudah jatuh pada pria sepertimu!"
__ADS_1
"Pria sepertiku? Dea, aku rasa ada yang tidak beres dengan isi kepalamu. Jangan merancau tidak jelas, atau jangan-jangan ini sifat aslimu?" sindir Daniel yang mulai ikut naik darah.
"Memangnya ada apa dengan sikap asliku? Setidaknya aku bukan pembohong seperti, aku tidak semunafik kamu. Benar-benar menjijikan!"
"DEA!" pekik Daniel.
"Kenapa? Marah karena aku bicara yang sebenarnya?"
"Kamu kacau! Lebih baik Kita bicara lagi besok. Ada masalah dengan kepalamu!"
Dea ingin menangis, tapi ia tahan. Tidak mau terlihat lemah dan kalah di depan Daniel. Ia memasang ekspresi sekuat mungkin.
"Yang bermasalah itu hatimu! Penuh dusta, penipu!" Dea melengos, rasanya air matanya mau tumpah. Membayangkan Daniel mencium wanita lain, dadanya terasa sesak.
"Ya Tuhan, harus aku katakan dengan cara apalagi? Dara pasti sengaja melakukan itu untuk membuatmu marah. Demi Tuhan, aku nggak seperti yang kamu pikirkan." Daniel mulai mereda, saat Dea berpaling dari pandangannya, ia tahu. Istrinya sedang menahan tangis. Artinya Dea sedang cemburu berat, dan artinya Dea sudah sangat jatuh hati padanya.
Dea menggeleng pelan, menandakan rasa tidak percaya. Ia terlanjur kecewa berat.
"Aku bilang jangan bawa-bawa Tuhan, mulut kotor itu tidak pantas menyebut kata itu!"
"Mulut kotor? Dea ... aku tidak tahu, bagaimana cara ayahmu mendidik selama ini? Aku mohon, jangan keterlaluan."
"Kenapa bawa-bawa Ayah? Hanya karena Ayah sudah tidak ada, kamu sekarang bebas melakukan apa saja dengan wanita lain. Kamu pria brengsekk yang pernah aku kenal."
Srekkk
Daniel langsung meraih lengan Dea, "Haluskan cara bicaramu! Apalagi kamu sedang bicara pada suamimu!" Daniel menatap dengan wajah serius.
"Tidak! Tidak lagi, aku mau pisah. Sekarang!"
"DEA!"
"Jangan panggil namaku dengan mulut kotormu. Itu sangat menjijikkan!" Dalam pelupuk matanya, terlintas bayangan Daniel berciuman mesra dengan Dara, sama seperti saat awal pernikahan mereka dulu. Membayangkan itu lagi, membuat Dea muak.
"Menjijikkan, kotor? Apa tidak ada lagi kata-kata lebih buruk dari pada itu semua?" Daniel sudah mulai terbakar kembali.
"Tidak tahu malu! Sudah menikah tapi masih menjalin kasih dengan orang lain, lalu mau disebut apa? Kamu benar-benar laki-laki brengsekk!!!"
Daniel tersenyum kecut, mulut Dea sepertinya tidak pernah diajar sopan santun.
"Kamu bilang aku pria breengsek? Oke! Aku tunjukkan, laki-laki brengsekk itu seperti apa!"
Dea beringsut, kakinya pun berjalan mundur. Ia panik ketika Daniel malah melepas semua pakaian yang dikenakan. Bersambung.
Bakal ada gempa susulan. Waspadalah ...
__ADS_1