
Dea I Love You
Bagian 59
Oleh Sept
Rate 18 +
Ketika seseorang ditimpa masalah berkata bahwa ia baik-baik saja, jangan percaya. Dia hanya sedang berdusta, agar kamu tidak ikut larut dalam kesedihan yang ia rasa -Daniel-
***
Daniel membopong tubuh istrinya, dengan pelan ia baringkan Dea di atas ranjang. Menarik selimut untuknya, mengecup kening Dea.
"Tidurlah, masih ada hari esok. Semua pasti bisa kita lewati."
Dea tidak berkata apapun, ia hanya memejamkan mata. Dan bulir bening tetap saja keluar lewat sudut matanya. Dea masih belum berdamai dengan hatinya. Barangkali ia merasa bersalah, menyesal tapi sudah sangat terlambat sudah.
Hari berikutnya, Daniel sudah menghubungi sekretaris Kim. Untuk hari ini, ia meminta Kim membereskan semua urusan perusahaan. Karena ia ada jadwal bertemu dengan psikolog. Ya, sepertinya Dea butuh seorang yang ahli untuk mengobati jiwanya.
Dea mungkin terlihat sehat-sehat saja. Tapi, tidak dengan jiwa wanita muda tersebut. Rasa bersalah yang menggunung, bila dibiarkan akan membuatnya lama-lama mengalami depresi. Sesuai saran Mama Rosie, Daniel membuat janji dengan seorang psikolog.
***
"Selamat pagi, silahkan duduk." Psikolog tersebut tersenyum ramah pada Daniel dan Dea.
Daniel bersikap santai ketika mereka masuk waktu konseling, tapi tidak dengan Dea. Masih sama seperti hari sebelumnya. Dea murung, wajahnya pucat. Ia mengalami ganguan tidur dan tidak terlalu banyak makan.
"Pak Daniel, bisa saya bicara hanya dengan istri anda?"
Psikolog tersebut sepertinya tahu, Dea mungkin tidak nyaman mengutarakan isi hatinya karena ada Daniel. Meskipun itu adalah suaminya sendiri. Tapi, psikolog tersebut melihat ada sesuatu yang ditahan oleh Dea. Wanita muda yang baru saja kehilangan calon bayinya. Psikolog dapat melihat, bahwa tatapan mata itu kosong. Putus asa dan penuh rasa bersalah. Pada anak yang hilang dan yang pasti pada suaminya sendiri.
Daniel mulanya enggan, mengapa ia disuruh keluar? Tapi, karena psikolog tersebut menerangkan alasan yang masuk akal, akhirnya Daniel mau menunggu di luar.
Setelah Daniel keluar, psikolog pun mulai bicara dari hati ke hati.
"Bagaimana perasaan anda saat ini, Nyonya Dea? Katakan apa yang membuat hati anda menganjal. Katakan apa yang membuat anda merasa sedih dan ingin menangis."
Dea menunduk, tiba-tiba saja ia terisak.
__ADS_1
"Menangislah, tapi jangan terlalu lama Nyonya Dea. Anda masih muda, kehilangan sekali bukan berarti semua berakhir. Lihatlah suami anda? Bila tidak mengasihani diri sendiri, tolong kasihani orang yang mencintai Nyonya dengan tulus. Dia juga berhak bahagia, begitu juga Nyonya Dea." Psikolog bicara panjang lebar, Dea yang mendengar meresapi kata-kata psikolog tersebut.
Tangisnya makin dalam, Dea sedang mengeluarkan batu yang menganjal dalam hatinya. Sesuatu tertahan di dalam sana, membuatnya merasa sesak yang tak berkesudahan.
"Saya merasa .... saya sudah membunuhnya ..." Tangis Dea kembali pecah.
"Bukan seperti itu Nyonya Dea, semua adalah titipan. Dan Tuhan bisa mengambil semua kapan saja. Dan lagi, Nyonya masih sangat mudah. Kalian berdua masih bisa mencobanya. Bahkan sekarang teknologi sudah sangat canggih. Kalian bisa program kehamilan lagi. Jangan pernah menyalahkan diri sendiri, itu yang membuat Nyonya semakin terpuruk. Nyonya harus menatap ke depan. Jalan Nyonya masih panjang, masih banyak kebahagiaan yang menanti di depan sana."
Perlahan Dea terlihat sudah tenang, dalam hidupnya ia sudah pernah berkali-kali kehilangan. Ibu, ayah adalah orang tercintanya yang pergi meninggalkan Dea. Kini calon bayi yang ia kandung juga pergi, Dea perlahan menerima. Bahwa setiap yang hidup pasti akan mati.
***
Di dalam sebuah mobil, Daniel menyetir sendiri mobilnya. Di sampingnya ada Dea yang menatap ke luar jendela.
"Tadi apa kata psikiater?" tanya Daniel yang kepo. Karena dilihatnya wajah Dea sedikit mengalami perubahan. Tatapan matanya pun tak kosong seperti sebelumnya.
"Bukan apa-apa."
Daniel mengangguk, lalu kembali fokus ke depan.
"Kita makan dulu ya, aku laper."
Setelah mengendara beberapa kilo meter, akhirnya mereka berhenti di sebuah kafe. Tempat makan dan juga nongkrong yang asik. Mungkin Daniel sengaja membawa Dea ke tempat tongkrongan anak muda tersebut. Sekalian mau bicara santai, karena akhir-akhir ini Dea sangat irit dalam bicara. Paling kalau diajak bicara, jawabnya iya atau tidak. Bahkan kadang hanya menggeleng atau mengangguk saja. Berasa bicara dengan boneka manekin.
"Mau makan apa?"
"Apa aja."
Daniel lantas melambaikan tangan, memanggil pelayan.
"Mbak, saya mau chicken wing spacy, fries original with mayo mentai sauces, waffle maple syrup, beef burger and tuna sandwich dan ...."
Bukkk
Dea menepuk pundak suaminya, itu Daniel mau pesan makanan atau sedang membaca menu di cafe tersebut? Dea sampai nggak habis pikir.
Perlahan bibir pria itu lalu mengembang, pukulan Dea membuat ia senang. Artinya istrinya sudah kembali. Sedikit demi sedikit mereka harus bisa melewati cobaan ini.
"Itu makanan yang kamu sukai, kan?" ucap Daniel sembari menatap istrinya.
__ADS_1
"Tapi tidak harus memesan semuanya."
Daniel hanya tersenyum kemudian mengusap rambut Dea.
"Maaf, Tuan ... jadi pesan apa?" tanya pelayan cafe yang dari tadi kaya obat nyamuk.
***
Setelah dari cafe, mereka tidak langsung pulang.
"Kok ke sini?"
"Nggak apa-apa, ingin aja."
Dea mengeryitkan dahi, menatap gedung bioskop di depannya.
"Ayo masuk!" Daniel sudah membawa dua tiket untuk nonton film. Tentunya bukan film horor, Daniel memilih film romance.
Mereka benar-benar ingin melupakan kesedihan, melanjutkan hari dengan mengisi kegiatan yang sebelumnya jarang mereka lakukan. Proses penyembuhan sedang dijalankan. Daniel berharap, Dea kembali ceria. Anak bandel yang selalu melawan, tidak pernah menurut. Daniel merindukannya. Sesuai saran psikolog, Daniel melakukan banyak kegiatan di luar bersama untuk menghibur istrinya itu. Biar lupa dan menatap hari dengan senyum ceria.
"Ini bukan genre kesukaanmu," Dea sudah mulai nyeletuk.
"Kata Kim, ini filmnya bagus. Sangat recommended."
"Benarkah?"
"Tentu! Kim pernah menonton film ini sebelumnya, bersama temannmu itu."
Dea langsung bersemangat, "Apa? Metty?"
Daniel mengangguk.
"Astaga, aku tak mengira Miti seribu langkah lebih cepat."
Mendengar Dea yang mulai banyak bicara, Daniel mengengam tangan istrinya. Meremasnya, dan mencium punggung tangannya itu.
KLEK
Lampu bioskop pun dimatikan. Dea menatap ke depan, perlahan ia menarik tangan yang masih dalam gengaman Daniel. Ia masih fokus melihat film yang sudah mulai diputar. Tapi, Daniel malah menarik tangannya. Bersambung.
__ADS_1