Dea I Love You

Dea I Love You
Ketok Magic


__ADS_3

Dea I Love You


Bagian 19


Oleh Sept


Rate 18 +


Setelah panggilan telpon berakhir, Daniel nampak seperti orang yang bimbang, layaknya orang yang berdiri di persimpangan jalan. Pria itu hatinya kini mulai tidak jelas. Bagaimana bisa akhir-akhir ini ia melupakan Dara? Wanita yang ia gadang-gadang akan menggantikan Dea apa bila mereka nanti bercerai dan berpisah? Pria itu galau, antara istri atau pacar.


"Tuan ... Tuan Daniel!"


Daniel langsung tersadar dari lamunan ketika sekretaris Kim memanggil. Ia sampai tidak tahu sekretaris Kim mengetuk pintu berkali-kali kemudian masuk. Hanya karena wanita, fokus Daniel jadi ambyar.


"Hemm!"


"Ini proposal proyek yang harus Tuan tanda tangani, sebelumnya sudah saya periksa. Tapi, Tuan juga harus mengeceknya kembali."


"Aku percaya padamu, Kim!" Tanpa melihat berkas yang dibawa oleh Kim. Daniel lalu bangkit, pria itu berdiri menatap gedung tinggi di depannya.


"Apa terjadi sesuatu, Tuan?" tanya Kim, bekerja cukup lama dengan Daniel, membuat Kim hafal betul dengan karakter Daniel. Dilihat dari punggungnya saja, sekretaris Kim bisa merasakan. Bahwa bosnya itu sedang dirundung masalah.


Mendengar pertanyaan sekretarisnya, Daniel hanya tersenyum miris.


"Tidak, tidak ada. Kamu bisa keluar sekarang!" ucap Daniel.


***


Apartment Daniel, Dea sedang rebahan menikmati hari santai layaknya di pantai. Gadis itu mendengarkan musik rock sambil kepalanya manggut-manggut. Terlalu asik dan larut pada hentakan musik, ia sampai tidak tahu kalau ada tamu.


Mama Rosie berkali-kali memencet bel, mengetuk pintu tapi tidak ada balasan.


"Apa masih tidur?" batin Mama Rosie. "Kata Daniel, Dea di apartment. Apa Dea lagi keluar?" gumam Mama.


Sudah sepuluh menit Mama berdiri di depan pintu, mengira tidak ada orang. Wanita paruh baya itu pun memutuskan pulang, mungkin Dea sedang pergi, pikir Mama. Namun, saat ia berpapasan dengan pengantar makanan cepat saji, ayam goreng kentucky kesukaan Dea. Mama lantas berbalik arah.


Dilihatnya pintu apartment itu terbuka saat pengantar makanan memencet bel.


"Dea," panggil Mama.


"Eh ... Mama."


Setelah pengantar makanan pergi, mereka berdua terlihat duduk di ruang tamu.


"Sering pesan makanan cepat saji, Dea?" tanya Mama.


Dea langsung nyengir, emang iya. Ia tidak bisa berkelit.


"Tidak bisa masak?"

__ADS_1


Dea langsung menundukkan wajah, Dea memang tidak bisa masak. Mentok ia bisa masak air dan nasgor. Besar tanpa sosok Ibu, membuat Dea jarang menginjakkan kakinya di dapur.


Melihat Dea yang berubah muram, Mama menghela napas. "Mumpung Mama lagi nggak ada kegiatan, Mama ajarin ya. Menu kesukaan Daniel."


"Iya, Ma!"


Dea memutar bola mata, biasanya pegang bola basket, bermain dengan teman-temannya. Berkeliling mall satu ke mall yang lain, kini ia harus berurusan dengan spatula, teflon, dan wajan.


"Ya udah, Mama mau lihat juga, ada bahan apa aja di dalam kulkas."


"Aduh!" gumam Dea lirih.


Saat Mama Rosie membuka pintu kulkas, ia mengeryitkan dahi.


"Dea ... apa kalian tidak pernah belanja?"


Mama menatap deretan botol air mineral yang memenuhi kulkas. Tidak ada bahan makanan, hanya ada minuman kemasan dan beberapa selai macam-macam rasa.


Klek


Mama menutup kulkas kembali, "Siap-siap ya, Dea! Ayo ke supermarket!" ajak Mama Rosie.


Beberapa saat kemudian, Dea sudah berganti pakaian. Memakai kaos casual dengan jaket denim ala-ala anak ABG jaman milenial. Dengan padanan celana jeans yang robek di bagian lutut.


"Dea ... bisa tidak ganti bajunya?"


"Bajunya memang bersih, tapi Mama rasa kurang cocok, kamu kan sekarang istrinya Daniel. Pasti banyak mata yang memperhatikan. Pakai dress ya, sekalian nanti kita belanja baju buat kamu."


Dea tidak membantah, gadis itu langsung kembali masuk ke kamar untuk ganti pakaian. Mana berani Dea membantah? Ah, ya sudah. Dea hanya bisa menurut.


"Nah gitu, cantik banget anak Mama," puji Mama Rosie ketika melihat Dea sudah berganti pakaian sesuai seleranya.


***


Royal Mart, Mama sejak tadi memasukkan barang-barang belanjaan ke dalam troly. Sedangkan Dea, hanya mengikuti sembari mendorong kereta belanjaan tersebut. Banyak sekali bahan-bahan yang mertuannya beli, Dea tidak bisa membahayakan. Akan ia apakan semua itu?


Puas membeli segala macam kebutuhan rumah tangga Daniel dan Dea, kini Mama mengajak Dea ke tempat lain.


"Dea, pilih yang kamu suka. Mama ke sana dulu," ucap Mama Rosie.


Dea menatap deretan pakaian branded di depannya. Dilihatnya harga pakaian itu satu persatu.


"Mahal banget! Ini kan gaji satu tahun karyawan Ayah di pabrik," gumam Dea sembari melihat-lihat kembali.


Satu jam kemudian.


Mama Rosie muncul sambil menenteng dua buah paper bag dengan logo yang familiar dan terkenal sangat mahal, Gucca dan Hermas.


"Mana yang kamu suka, Dea?" Mama melihat kanan kiri, kok menantunya itu belum memilih apa-apa?

__ADS_1


"Nggak, Ma. Nggak ada yang Dea suka!"


"Masa? Ya udah. Mama bantu pilihin." Mama Rosie langsung mengambil baju-baju yang ia rasa akan cocok bila dikenakan oleh Dea.


Sedangkan mata Dea langsung mendelik, dari semua deretan baju yang diambil Mama mertuannya. Dea tadi sudah melihat, betapa fantastic harga per helainya.


"Ma ... nggak usah banyak-banyak, udah Ma."


Mama hanya menoleh dan tersenyum ke arahnya. Tapi, tangannya tetap mengambil kembali baju-baju yang ia rasa akan sangat pas bila dikenakan Dea. Kemudian memberikannya pada SPG yang sejak tadi berdiri di sebelahnya.


Puas membelikan baju untuk Dea, kini mereka berdua ke clinic kecantikan.


"Apalagi ini?" Dea memejamkan mata ketika wajahnya disentuh banyak alat. Dan cairan yang jumlahnya bermacam-macam.


Sedangkan Mama Rosie, ia sedang menunggu Dea sembari membaca majalah fashion. Tanpa sengaja, terpampang wajah Dara di majalah yang ia baca. Wajah sendu dan penuh kasih itu langsung mengeras. Terlihat jelas, wanita itu tidak menyukai Dara, pacar Daniel sebelumnya.


Dua jam kemudian.


Dea sedang duduk di depan meja rias, seorang wanita menatap puas pada polesannya.


"Dea, simpan ini." Mama mengulurkan kartu member VIP Beauty Glow. Clinic kecantikan langanan Mama Rosie.


"Cantik sekali menantu anda, Nyonya," puji dokter kecantikan yang sedari tadi melakukan rangkaian perawatan pada Dea.


Mama hanya tersenyum ramah, kemudian memberikan black card. Setelah itu mengajak Dea pulang.


***


Apartment Daniel.


"Sepertinya kita harus sering menghabiskan waktu bersama, Dea. Terima kasih ya, sudah menemani Mama seharian ini."


Mama yang memang tidak memiliki anak perempuan, sangat senang ketika dekat-dekat Dea. Apalagi anak itu terlihat manis sekali. Mama Rosie tidak tahu saja, sifat asli Dea. Hanya Daniel yang tahu, betapa absurdnya Dea dan joroknya gadis tersebut. Bila di depan orang yang ia hormati, Dea memang sering melakukan pencitraan.


Karena sama-sama lelah, acara masak-masak pun ditunda. Mereka lebih memilih layanan pesan antar. Sambil menunggu Daniel pulang, hari juga sudah sore. Mungkin sebentar lagi Daniel datang.


Ting tung


Baru dibicarakan, bel sudah berbunyi. Itu mungkin Daniel.


"Bentar ya Ma, Dea buka pintu dulu. Itu mungkin Mas Daniel." Dea pun beranjak.


Klek


Saat pintu terbuka sepenuhnya, bukannya masuk. Daniel malah terperangah di depan pintu. Matanya mengamati gadis cantik dengan dress bunga-bunga di depannya. "Sejak kapan cewek jorok itu jadi begini?" pikir Daniel. Bersambung.


Semua wanita itu bisa cantik, asal punya duit!


Hehehe

__ADS_1


__ADS_2