
Dea I Love You
Bagian 16
Oleh Sept
Rate 18 +
Suasana di dalam tenda menjadi hening untuk sesaat, hanya terdengar suara angin yang sesekali menerpa pepohonan di sekitar sana. Saat ini, tidak hanya Daniel yang merasa sangat malu. Dea juga merasakan hal yang sama. Gadis itu langsung menarik selimut dengan asal, bagi Dea saat ini Daniel begitu berbahaya. Apalagi tower sutet yang ia lihat dengan sekilas barusan, dari pada menantang maut, Dea memilih mundur pelan-pelan. Pipinya juga terasa panas karena juga merasakan malu yang sama.
Sedangkan Daniel, ia langsung meraih pakaiannya. Dengan kesal ia memakai bajunya. Apes banget, bisa mati kutu di depan Dea. Ia merutuki si sutet, bodohnya sampai ketahuan Dea. Agrrhh ... Daniel benar-benar ingin makan orang sekarang.
Detik berikutnya, Daniel sudah keluar dari tenda, masih gelap karena penerangan yang terbatas. Malu tapi juga merasa gusar, ia langsung menuju mobil.
Di dalam mobil, Kim sedang duduk di balik kemudi dengan mata yang tinggal lima watt.
"Apa ada masalah lagi, Tuan?"
"Jangan banyak bicara!" Daniel langsung menyandarkan pungungnya di jok belakang.
Sekretaris Kim melirik lewat kaca spion, dilihatnya wajah masam sang atasan. "Ada apa lagi dengannya? Apa tidak berhasil menjebol gawang lawan? Lalu apa artinya aku sterilkan area tenda? Sia-sia saja!" batin Kim sembari terus mengamati Daniel lewat kaca.
"Lihat-lihat apa kau, Kim?" tanya Daniel dengan gusar, sepertinya ia merasa bahwa sekretarisnya sedang mengamati gerak-geriknya.
"Tidak ... tidak ....!" Kim langsung mengalihkan perhatian ketika merasakan ada orang yang lewat.
"Eh Tuan, bukannya itu Nona Dea?"
Daniel langsung menatap arah yang dituju Kim. "Ngapain dia ke sana?"
"Apa saya kejar, Tuan?"
Daniel mendesis, kemudian membuka pintu belakang mobil.
"Tuan mau saya ikut?" tanya sekretaris Kim. Namun, ia langsung diam ketika mata itu menatap tajam ke arahnya.
__ADS_1
Dea sendiri sudah memakai baju hangat, ia berniat menyusul teman-temanya. Hafal jalurnya, membuat Dea nekad. Lagian selama ini paling tidak setahun dua kali Dea muncak. Jadi gadis itu sudah hafal jalan di luar kepala, kalau nyasar tinggal berhenti di pos terdekat. Benar-benar gadis yang tidak kenal takut.
Di belakang Dea, Daniel mengikuti dari belakang.
"Apa yang dia lakukan?" gumam Daniel, masih sambil mengikuti dari belakang. Ia memilih menjaga jarak, selain agar Dea tidak menyadari keberadaannya, ia juga masih malu pada gadis itu. Gara-gara tower sialan, kini ia hilang muka di depan istrinya sendiri.
Kresek kresek
Dea berhenti sejenak, ia merasa ada sesuatu di depannya. Tiba-tiba ia merasa semak di ujung jalan bergerak-gerak. Karena itu, kini kaki Dea memasang kuda-kuda. Gadis itu siap siaga, sepertinya itu hewan buas.
Aaaahhhhh
Teriak Dea, benar apa yang ia duga. Sebuah binatang berkaki empat warna hitam berlari ke arahnya. Orang-orang menyebutkan titik-titik ngepet.
Langsung saja Dea berbalik dan berlari sangat kencang.
Wushh
Gadis itu seperti atlet, larinya kencang seperti pelari marathon professional. Benar kata orang, dalam kondisi terjepit apa saja bisa terjadi. Padahal gadis itu sempat merasa kurang fit semalam, begitu dikejar oik-oik, Dea lari seperti gledek.
"Lariiii!" teriak Dea saat berpapasan dengan Daniel. Terlanjur panik, Dea terus berlari. Tidak peduli pada suaminya, ia hanya fokus lari yang jauh untuk mencari aman.
Terdengar suara pluru yang menggema. Binatang itu langsung terkapar sebelum berhasil menyentuh tubuh Daniel. Sekretaris Kim datang dan langsung menembak oik-oik tersebut tanpa ampun.
Wajah Daniel terlihat pucat, hampir saja ia diserang binatang liar itu. Sedangkan Dea, ia kembali putar balik. Melihat sekretaris Kim dan suaminya secara bergantian.
Jarak yang dekat, membuat pakaian Daniel terkena percikan darah dari tubuh binatang liar yang ditembak Kim tersebut.
Dea yang sudah sampai, ia langsung membantu Daniel untuk berdiri. Daniel semula ketakutan, hingga terjatuh ke belakang. Berkali-kali terlihat memalukan di depan Dea, Daniel menepis uluran tangan Dea. Ia memilih bangun sendiri dan menghampiri sekretaris Kim.
"Urus itu!"
Daniel melangkah melewati Kim, pria itu memilih menuju camp kembali. Hutan sangat-sangat berbahaya. Dengan wajah pucat pasi, Daniel menuju mobil.
***
__ADS_1
Pukul enam pagi, matahari sudah bersinar. Namun, tidak begitu terasa hangat. Embun pagi yang masih merata membuat pagi itu masih terasa dingin meskipun sinar matahari sudah menyelimuti area camp tersebut.
"Aku sudah bicara pada penyelengara, dan Kim sudah mengurus yang lainnya. Hari ini juga kita pulang!" ucap Daniel tanpa ekspresi.
Dea diam tak berkutik, tidak ada lagi kata-kata bantahan yang biasanya ia lontarkan pada suaminya itu.
Setelah sekretaris Kim muncul dan duduk di balik kemudi, dua orang itu pun terdiam sepanjang perjalanan. Setengah hari mengemudi Kim merasakan tangannya mulai kesemutan.
Hal itu disadari oleh Daniel, karena dilihatnya dari belakang. Sekretarisnya itu berkali-kali meluruskan tangannya.
"Cari rest area sekitar sini, Kim!"
Pria yang masih fokus pada kemudinya itu lalu mengangguk. Setelah dilihatnya ada sebuah swalayan kecil pinggir jalan, ia pun menghentikan laju mobilnya.
"Kita berhenti di sini, Tuan?"
"Hem." Daniel memejamkan mata sembari mengangguk.
Saat akan membuka pintu, ia sekilas melirik ke arah Dea yang semula duduk di sebelahnya, dilihatnya Dea yang sudah tertidur. "Tidak peduli di manapun? Mengapa anak ini gampang sekali tidur? Dasar ngebo!" gumam Daniel sembari membetulkan kepala Dea agar bersadar dengan benar.
Ingin mencari udara segar dan meluruskan ototnya yang terasa kaku, pria itu pun memilih untuk segera turun.
"Jangan pergi!"
Daniel berhenti ketika ujung bajunya di pegang oleh Dea. Sepertinya gadis itu mimpi buruk, dilihat dari bulir bening yang menetes dari sudut matanya. Daniel tertegun menatap Dea, kemudian memilih duduk kembali di sebelah gadis tersebut. Membelai kepala Dea, agar gadis itu tenang dalam tidurnya.
"Ada apa denganmu?" batin Daniel. Sepertinya ia mulai penasaran dengan gadis itu. Bersambung.
Tresno jalaran soko kulino, cinta datang karena terbiasa. Makanya jangan dekat-dekat dengan lawan jenis, takutnya terbiasa lalu jatuh cinta. Eh milik tetangga. Hehehe ...
Sambil nunggu up, baca juga ya
Rahim Bayaran, Istri Gelap Presdir, Kesetiaan Cinta. TERIMA KASIH
Lope lope yang banyak buat reader kece badee.
__ADS_1
Kenalan juga sama penulisnya ya ... yang udah, ya udin. Hihihih
Instagram : Sept_September2020