Dea I Love You

Dea I Love You
Menangkap Dea


__ADS_3

Dea I Love You - Bab 12 (18+)


Oleh Sept


Kepala Daniel serasa menindih, berani sekali gadis itu main kabur-kaburan lagi. Ia akan membuat gadis itu mendapat ganjaran atas perbuatannya. Dengan jantung yang meletup-letup karena menahan marah, Daniel menghubungi nomor telpon Hakim, sekretarisnya.


Sekretaris Kim yang sedang asik ngegym, akhirnya berhenti sejenak. Ia mengangkat telpon dari big bos dulu.


"Ini bahkan tanggal merah, mengapa tidak membiarkanku libur barang sehari saja?" ratap sekretaris Kim.


"Hallo, iya ... Tuan."


"Cari tahu di mana lokasi Dea camping, setelah itu datang ke mari!"


Sekretaris Kim memejamkan mata sesaat, "Apa lagi ini?" batinnya. Namun bibirnya berucap lain. "Baik, Tuan!"


Tidak butuh waktu lama bagi sekretaris Kim untuk mendapat informasi yang ia butuhkan. Sekarang, pria itu sudah siap meluncur ke kediaman Daniel.


Mobil warna hitam itu memasuki kawasan apartemen mewah di pusat kota. Sesekali sekretaris Kim melirik salah satu apartment itu, barangkali ia mau membeli salah satunya. Nanti kalau sudah menikah, menikah dengan siapa tapi? Pacar saja tak punya.


Tok tok tok


Sekretaris Kim mengetuk pintu apartment Daniel.


"Kita ke sana sekarang!" Tidak mempersilahkan Kim masuk, Daniel langsung tancap gas mengajak cepat-cepat ke tempat camping Dea.


"Pakai mobilku!" Daniel melempar kunci mobil ke sekretaris Kim yang berjalan di sampingnya.


Sudah satu jam mengendara, namun mereka tak kunjung sampai.


"Kamu yakin Kita nggak nyasar, Kim?"


"Sepertinya tidak," jawab Kim ragu-ragu.


Pasalnya, jalanan mereka sejak tadi terasa sepi sekali. Hampir tidak ada kendaraan yang lewat. Pohon-pohon menjulang tinggi di kanan dan kiri jalan.


"Yang benar kamu, Kim!"


Sekretaris Kim menelan ludah, Jangan-jangan mereka memang nyasar. GPS yang terpasang malah membuat mereka makin tersesat.


Pukul dua belas siang, mobil mereka malah berhenti mendadak.

__ADS_1


"Ada apa ini, Kim?"


Sekretaris Kim langsung turun, memeriksa apa yang terjadi.


"Bannya bocor!"


"Ish!" Daniel mendengus kesal.


Ia pun keluar dari mobil, sembari menunggu sekretarisnya ganti ban mobil. Daniel mencoba melihat ke sekeliling.


Beberapa langkah dari mobilnya yang mogok, Daniel malah mendapati pemandangan yang memanjakan mata. Hamparan rerumputan di balik semak dan pepohonan. Tanpa bicara pada Kim, Daniel terus saja masuk ke dalam semak.


Semakin ke dalam, cahaya semakin minim. Daniel tanpa sadar terus masuk ke dalam hutan.


"Tuan!" sentak Kim sambil menepuk pundak Daniel.


Daniel langsung tersadar, ia heran mengapa ada di dalam hutan?


"Di mana ini?"


Tanpa banyak bicara, Kim mengedipkan mata. Tubuhnya mengisyaratkan agar Daniel ikut bersamanya.


Setelah sampai di tempat mobil yang sempat mengalami kebocoran itu, Daniel merasa merinding.


"Apa yang terjadi, Kim?" Daniel heran, hari kok sudah semakin gelap. Perasaan ia baru pergi beberapa saat yang lalu.


"Masuk dulu, Tuan!"


Setelah mereka meninggalkan lokasi itu, sebuah papan bertuliskan "Hutan Terlarang" mulai terlihat, ketika angin meniup dahan yang menutupi papan bercat merah itu.


"Cukup lama saya mencari Tuan, tadi."


"Maksudnya?"


"Tempat ini angker."


"Kamu percaya yang begituan?" cibir Daniel.


Tidak mau mendebat atasannya, Kim memilih diam. Ia juga sudah merinding dari tadi. Tanpa mereka sadari, barusan mereka melewati sosok putih dengan rambut panjang yang menutupi seluruh wajahnya.


"Kim, tolong AC-nya matiin," seru Daniel yang mendadak merasa merinding disko.

__ADS_1


"Sudah dari tadi, Tuan!"


Daniel langsung diam seribu bahasa, sepertinya ia menyadari. Tempat di sekitar sana memang angker.


Mobil terus melaju, sesuai arahan GPS. Akhirnya yang dicari ketemu juga. Sekretaris Kim langsung merasa lega, ketika dari jauh nampak api unggun yang menyala dengan terang.


"Sepertinya kita sudah sampai, Tuan."


Daniel tidak menyahut, matanya sibuk memindai dari jauh. "Awas kamu, Dea!" batinnya sembari terus mengamati dari dalam mobil.


"Stop! Stop!"


Mobil langsung berhenti.


Daniel bergegas keluar ketika melihat sosok Dea. Pria itu berjalan mendekati istrinya yang pergi tanpa permisi.


Dea sedang menatap langit yang penuh bintang di atas sebuah jembatan kecil dengan air yang mengalir di bawahnya.


Ia terlihat sendirian menikmati malam yang indah itu.


"Bisa-bisanya anak bandel itu, ugh." gerutu Daniel masih sambil melangkah menuju jembatan. Tapi, beberapa langkah kemudian, ia langsung mematung seketika.


Di atas sebuah jembatan.


Dea masih menatap langit, wajahnya terlihat damai. Pemandangan malam di atas bukit membuat Dea terlena.


"Dea!"


Gadis itu menoleh.


"Vino."


"Ayo ke sana, anak-anak sedang menikmati musik di depan api unggun."


"Nggak, Vin. Gue pengen di sini aja!" Dea mendongak, menatap langit yang kelap-kelip sangat menakjubakan. Pemandangan yang jarang ia dapati selama tinggal di kota.


"Nanti lo masuk angin, mending di sana. Anget dekat api unggun."


Dea mengeleng.


Karena Dea nggak bisa dibujuk, dengan perhatian, Vino malah melepas jaket yang ia kenakan. Ia memakaikan jaket denim itu ke tubuh Dea. Berharap Dea merasa lebih hangat.

__ADS_1


"DEA!" teriak Daniel dengan murka. Bersambung.


__ADS_2