Dea I Love You

Dea I Love You
HURT


__ADS_3

Dea I Love You


Bagian 58


Oleh Sept


Rate 18 +


Ruang perawatan harusnya dijaga agar tetap tenang, mengingat di sana adalah tempatnya orang yang sakit. Tapi tidak dengan ruang VIP di mana Dea dirawat. Hari ini di sana justru terjadi sebuah huru-hara. Vino dan mamanya memancing emosi Daniel, membuat pria itu menghajar Vino dengan membabi buta. Tidak terima anaknya dipukuli, mama Vino balik menyerang Daniel. Sehingga kegaduhan pun tak bisa terhindarkan.


Sebagian perawat datang, mencoba melerai dan memisahkan Daniel dari Vino. Meski meringis kesakitan karena rasa nyeri di punggung, Daniel tetap ngotot. Ia mau menghajar Vino sampai habis. Ia mau mematahkan tulang-tulang Vino. Pria itu sudah gelap mata sekarang.


"Dea!" ucap Mama Rosie. Wanita itu tidak sengaja menoleh, dilihatnya Dea sudah membuka mata.


Daniel yang semula ingin menghajar Vino, langsung mengalihkan perhatian. Pria itu berbalik dan mendekati istrinya.


"Dea."


Seluruh penghuni ruangan menatap Dea, terutama Daniel. Ia mengengam tangan Dea, mengengam erat seakan tidak mau Dea pergi darinya. Sesaat kemudian dokter datang, pria berjas putih dengan stetoskop yang menggantung di lehernya itu mulai memeriksa kondisi Dea.


Daniel terus saja memperhatikan, dilihatnya wajah sang istri yang pucat dan nampak sendu. Daniel mulai resah, nanti kalau Dea tanya calon bayi mereka, ia harus jawab apa?


Setelah bicara sebentar dengan dokter, Daniel kembali lagi mendekati Dea yang masih terbaring lemah. Sedangkan Vino dan mamanya, sudah diusir jauh-jauh oleh Mama Rosie. Tindakan mamanya Vino yang memukul Daniel, membuat Mama Rosie ikut geram. Orang tua mana yang betah melihat anaknya dipukuli? Kedua orang tua itu pun membela anak mereka masing-masing.


"Sayang," Daniel mencoba berkomunikasi dengan istrinya.


"Terima kasih sudah bangun ...," Tidak bisa berkata-kata, Daniel hanya mengengam tangan Dea. Menciumnya berkali-kali, ia bersyukur Dea sudah mau membuka matanya.


Dea sendiri tidak membuka suara, sesekali matanya kembali terpejam, dan bulir bening keluar dari sudut matanya. Dengan lembut, Daniel mengusap dengan ujung jarinya.


"It's oke, gak apa-apa."


Tangis Dea pecah, rasa sakit di tubuhnya membuat ia menduga-duga. Ia memiliki firasat yang buruk, tapi lidahnya keluh untuk bertanya. Suara wanita muda itu seakan tertahan di dalam kerongkongan.


Melihat Dea terisak, Daniel memeluk tubuh istrinya. Masih membisikan kata-kata yang sama, bahwa tidak apa-apa. Mencoba menghibur, meski hatinya juga merasakan luka yang sama.


Melihat itu, Mama Rosie memilih pergi. Memberikan waktu bagi keduanya. Mama rasa, dua orang itu butuh ruang untuk melepas luka pasca kehilangan.

__ADS_1


***


Dea sudah sedikit tenang. Namun, masih belum mau bicara. Wanita tersebut memilih membisu, menutup mulutnya rapat-rapat.


Daniel pun sama, sejak tadi hanya membelai punggung tangan istrinya. Larut dalam rasa yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.


"Apa mau minun?" tawar Daniel, ia mencoba mengusir sepi yang hadir di tengah mereka berdua.


Dea menggeleng pelan.


"Mau makan sesuatu?"


Masih sama, Dea hanya menggeleng tanpa berucap.


"Jangan diam saja, bicaralah Dea."


"Aku lelah."


Hanya itu yang Dea ucapkan, lalu memilih menutup matanya lagi.


Tidak bisa begini, Dea tidak boleh begini. Daniel pun terlihat marah.


Daniel marah, ia merasa Dea sengaja mengacuhkannya.


"Jangan tidur, kita belum selesai!"


Meski matanya tertutup, Dea tidak tidur. Ia bahkan tidak mengantuk, Dea hanya ingin tidur, agar bila ia bangun. Ia berharap bisa bangun dari mimpi buruk ini. Tidak tahu mengapa, ia merasa janinya sudah hilang. Dea ingin tahu, tapi mulutnya tidak berani bertanya. Ia takut akan jawabannya, ia takut bila janinnya benar-benar hilang seperti dugaannya.


"Dea ... buka matamu."


Daniel mengoyang-goyangkan pundak istrinya.


"Aku mau tidur, sepertinya anak ini lelah, Aku mau tidur sebentar lagi. Tolong jangan ganggu kami." Mulut Dea bergetar saat berbicara pada suaminya, Dea bahkan bisa melihat gurat kesedihan di mata Daniel.


Pria itu langsung memalingkan muka, mengusap wajahnya. Matanya sudah mengembun, Daniel tak bisa berbohong pada perasaannya lagi. Ia pun mendekati Dea, dan memeluknya dengan erat.


"Tidak apa-apa!" bisik Daniel bersama dengan air yang menetes dari matanya.

__ADS_1


"Jangan katakan apapun," isak Dea. Ia tidak mau mendengar penjelasan apapun dari suaminya.


"Mungkin ini yang terbaik, mungkin belum saatnya kita memilikinya," suara Daniel terdengar serak dan berat.


Semakin menjadilah tangis Dea, ia menegelamkan wajahnya dalam pelukan Daniel. Harusnya tidak begini, mungkin ia pernah belum siap untuk hamil. Tapi, ia juga tak siap, bila apa yang terlanjur menjadi miliknya diambil dengan tiba-tiba.


***


Hari kepulangan Dea, sekretaris Kim sudah mengurus semua administrasi rumah sakit. Kini Dea bisa pulang, sama seperti kemarin. Wanita muda itu nampak murung, tidak banyak bicara. Begitu juga dengan Daniel. Mungkin mereka butuh waktu, karena waktu adalah obat terbaik untuk semua luka.


Sampai di rumah, Dea hanya di kamar. Daniel sudah mengajukan cuti kuliah untuk istrinya itu. Entah mau masuk kapan, terserah setelah Dea sudah kembali normal. Karena ia terlihat masih belum mau berdamai dengan kesedihannya. Setiap hari murung dan tidak mau keluar.


Satu minggu kemudian.


"Dea," panggil Daniel yang baru pulang kerja.


Dilihatnya sang istri duduk melamun, matanya kosong. Meskipun TV menyala, tapi sepertinya Dea tidak melihatnya. Bahkan saat ia pulang, Dea tidak menyadarinya.


Daniel menghela napas panjang, "Dea."


Ketika Daniel duduk di sebelahnya, baru Dea menoleh. Hanya menoleh, tanpa sepatah katapun.


"Sudah makan?"


Dea menggeleng.


"Ya sudah, aku mandi dulu. Nanti kita pesan makanan."


Daniel beranjak, langkahnya terasa berat, mengapa hidupnya jadi terasa muram begini?


Sesaat kemudian, Daniel sudah selesai mandi. Memakai kaos santai dan menghampiri Dea yang masih di ruang tamu.


"Nonton apa?"


Dea monoleh tapi tidak menjawab. Daniel pun duduk di sebelahnya. Keduanya menatap ke depan. Tapi, tiba-tiba malah muncul iklan shampoo bayi. Dea tidak bisa membendung air matanya. Melihat bayi, membuat ia mengingat janinnya yang sudah hilang.


Spontan Daniel meraih remote. Ia langsung mematikan TV-nya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, jangan seperti ini Dea ... Jangan seperti ini." Daniel memeluk istrinya yang terisak. Dea sesengukan, meratapi nasib karena kehilangan. Bersambung.


__ADS_2