
Dea I Love You
Bagian 50
Oleh Sept
Rate 18 +
Kawasan rawan gempa, area 18+ dimohon anak-anak dan remaja mundur teratur. Untuk yang memiliki pasangan halal, diharap merapat. Hehehe ... Maaf ya otor Sept yang gabut mau lewat. Terima kasih, matur suwun.
***
"Jangan mendekat!" sentak Dea, degup jantungnya memburu. Melihat aksi Daniel membuat hatinya gemetar.
"Pria mesum!" rutuk wanita muda itu dalam hati ketika Daniel tak memakai apa-apa dan melangkah semakin dekat ke arahnya. Dea sudah ketar-ketir, malam ini sepertinya ia akan masuk ke dalam kandang buaya. Lihat sorot matanya, belum disentuh Dea sudah ngeri duluan.
Daniel menyeringai, ia paham betul. Dea sedang merasa takut dan panik. Terlihat dari raut wajahnya yang berubah pucat. Mana anak nakal nan bandel yang tadi menyalak terus pada dirinya? Daniel tersenyum penuh kemenangan dalam hati.
"Kenapa? Apa kamu takut? Lain kali jangan terlalu berani! Aku mengalah bukan karena aku salah, tapi karena aku sayang!" ucap Daniel sembari merengkuh pinggang ramping wanita muda yang mulai nampak cemas tersebut.
"Bohong!"
"Pegang ini! Iramanya memburu ketika aku sedang bersamamu." Daniel meraih sebelah tangan Dea, meletakkan telapak tangan itu tepat ke arah jantungnya. Ada degup jantung yang berdebar tak biasa. Cepat dan keras.
Dea menelan ludah, tidak hanya jantung Daniel yang meletup-letup. Jantungnya pun sama, ia marah bukan karena benci. Ia marah karena Daniel bermain hati. Wanita mana yang tahan melihat bekas lipstick di kera baju suami? Pasti semua wanita akan curiga, bodoh bila diam saja.
"Bagaimana bisa aku percaya? Orang bodoh pun pasti curiga!"
"Tatap aku, kamu bisa lihat. Adakah aku bohong padamu? Harusnya lewat mata kamu paham, orang itu berkata bohong atau tidak."
"Dan aku lebih percaya pada bukti!" Dea masih mempermasalahkan kemeja dengan bekas lipstick warna merah.
Daniel tersenyum tipis, ia menurunkan wajahnya sedikit. Membisikkan sesuatu ke telinga Dea.
"Aku suka cemburumu, teruslah cemburu! Itu artinya kamu benar-benar sudah jatuh hati padaku."
Sebal, Dea mendorong dada Daniel kuat-kuat. Sayang, Daniel sudah memprediksi reaksi sang istri. Tubuhnya tak gentar, sekuat apapun Dea mendorong. Ia tetap bertahan. Berdiri kuat tak terkalahkan. Tetap kokoh bagaikan semen lima roda.
"Lepasin!"
__ADS_1
Gagal mendorong tubuh suaminya, Dea meronta. Ia ingin lepas dari dekapan Daniel yang memeluknya dengan erat.
"Nanti, nanti akan aku lepaskan, segera setelah urusan kita selesai," ujar Daniel dengan penuh arti.
Daniel pun langsung membopong tubuh istrinya. Ia dengan sengaja mendudukkan Dea di atas meja terdekat.
"Nggak mau!" Dea melotot, tangannya menutupi tubuhnya. Ia memeluk tubuhnya sendiri. Dari sorot mata sang suami, Dea yakin. Suaminya menginginkan itu sekarang.
"Bagaimana kalau aku memaksa?" seringai Daniel dengan jiwa yang sudah berkobar.
Tangannya menyentuh lembut wajah Dea, merapikan anak rambut yang menutupi mata wanita muda tersebut. Perlahan ia membelai pipi mulus itu dan turun ke bibir. Tangannya sempat terhenti sejenak, kemudian kembali turun. Menyusuri inci demi inci mahluk yang paling anu tersebut.
Cekkk
Dea menangkap tangan Daniel, wanita itu menggeleng pelan. Seolah meminta Daniel menghentikan aksinya.
Terlambat, Daniel terlanjur on fire. Tubuhnya sudah bergejolak. Dea sudah sangat terlambat bila memintanya berhenti sekarang.
Dengan gerakan semakin menjadi-jadi, Daniel membuat Dea mengeliat seperti cacing.
"Stop, please!"
"I want you, only you ...!" tambah Daniel.
Pria itu merapatkan tubuhnya, hingga tiada jarak yang tersisa. Dan tanpa disuruh, tangannya melepas pengait kacamata yang masih dipakai Dea.
"Dea ...!"
"Hemm!" Bila semula ia meletup-letup dan marah-marah, kini Dea tidak berkutik. Sentuhan lembut, sikap Daniel yang membuatnya melayang saat ini. Membuat ia tidak bisa berpikir lagi. Daniel jahat, membuatnya tidak berdaya. Pria itu benar-benar tahu di mana titik lemahnya.
Wanita muda seperti Dea, darahnya masih mudah terbakar. Hal kecil dapat langsung menyulut emosinya, dan hal kecil juga bisa membakar hasratnya yang masih anget-angetnya.
"Mau di sini, apa si sana?" Daniel melirik ranjang.
Dea menelan ludah, sejenak kemudian otaknya kembali lancar. "Pengamannya!"
"Ish!" Daniel mendesis kesal, masih sempat-sempatnya Dea ingat memakai pengaman. Kalau hamil, ya biarkan saja, pikir Daniel.
"Kita sudah tidak pakai beberapa kali, aku takut."
__ADS_1
"Apa yang kamu takuti? Suamimu ini bertanggung jawab, aku bahkan sangat menyukaimu."
CUP
Daniel mengecup bibir Dea dengan singkat. Dea tidak bisa berkata-kata lagi, ucapan Daniel terlihat sungguh-sungguh. Bila ia ditipu lagi, ya sudahlah. Tubuhnya terlanjur menginginkan Daniel juga malam ini.
Takut jatuh dan tidak nyaman, akhirnya mereka pindah tempat. Dengan wajah yang sudah terasa panas karena menahan hasratnya. Daniel kembali membopong tubuh Dea.
Bukan di atas ranjang, tapi di sofa. Ini akan jadi pengalaman yang berbeda. Akan ada sofa yang bergoyang karena gempa susulan.
"Apa sakit?" tanya Daniel sembari melihat Dea yang meringis. Matanya terpejam sembari mengigit bibir.
Perlahan Dea membuka mata, ditatapnya wajah Daniel yang kini tepat di atasnya. Mengungkung tubuhnya, Dea lantas menggeleng. Mengatakan ia masih baik-baik saja. Meski aksi Daniel menyisahkan rasa perih pada satu titik di tubuhnya.
"Nggak apa-apa."
"Kalau sakit bilang, aku mungkin terlalu bersemangat."
Dea malu, ia pun memalingkan wajah ke samping.
"Lihat! Pipimu memerah seperti buah tomat saja."
"Kalau sudah, tolong pindah. Tubuhku sudah terasa kaku semua," ucap Dea membalas candaan suaminya.
"Tahan ya, ini kan baru ronde pertama."
Mata Dea terbelalak, bahkan rasa perih barusan saja masih belum hilang. Namanya juga pengantin baru, semalam bisa lebih dari satu ronde. Bersambung.
Baca juga novel Sept yang lain :
Rahim Bayaran
Istri Gelap Presdir
Kesetiaan Cinta
Terjerat Cinta Tuan Muda
Terima kasih
__ADS_1