
Dea I Love You
Bagian 44
Oleh Sept
Rate 18 +
Bergadang Dua
Daniel sedang mengaduk kopi, sesekali ia menoleh ke belakang. Gayanya sudah mirip maling ayam. Dilihatnya Dea sedang duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponsel.
"Lagi WA sama siapa?" tanya Daniel yang sudah muncul dengan secangkir kopi di tangan. Sebuah kopi yang menggandung sesuatu. Tapi bukan sanida, hanya sebutir obat yang akan membuat Dea mabuk kepayang.
"Metty," jawab Dea tanpa melihat suaminya. Ia masih khusuk membalas chat dari Metty.
"Serius banget, ngobrolin apa?"
Penasaran, Daniel mencoba melihat layar ponsel Dea. Pria dewasa itu mencoba untuk mengintip ponsel istrinya. Sayang, sang istri sangat pelit. Belum melihat apa-apa, Dea sudah memasukkan ponsel ke dalam sakunya.
"Mencurigakan!" Daniel memincingkan mata. Menatap curiga pada Dea, jangan-jangan teman cowok yang dulu itu. Yang suka ngejar-ngejar istrinya. Pria tersebut malah sibuk menduga-duga.
"Apa, sih! Katanya bikinin kopi, sini!" Dea mencoba mengalihkan perhatian. Malu kalau Daniel tahu apa yang barusan ia bicarakan dengan Metty.
Metty jahil banget, kepo bin usil, niatnya mau menghibur Dea di masa berkabung. Ketika tahu kalau Dea dibawa Daniel ke China. Gadis itu malah antusias mewawancarai Dea. Apa mereka sudah baikan? Apa mereka sudah tidur satu ranjang lagi? Ish, Metty jadi merinding. Membayangkan yang bukan-bukan.
Saat Dea sedang menyesap kopinya, bibir Daniel perlahan mengembang. Ia terlihat amat senang. Sebentar lagi Dea akan ia buat kelimpungan.
Dengan pura-pura Daniel mengambil tas laptop. Menyalakan benda kotak tipis ajaib tersebut, sesekali ia melirik. Memperhatikan Dea, apa reaksi obat sudah berjalan.
"Ngerjain apa sih?"
Dea sudah mulai gerah, wajahnya juga nampak gelisah. Sepertinya obatnya merasuk.
"Bentar, ada beberapa file yang harus aku periksa. Biar besok kita free tanpa ada gangguan."
"AC-nya nyalain dong."
"Apa terasa panas?" Pancing Daniel, padahal Dea mulai kepanasan karena ulahnya. Dasar pria mesum, kurang kerjaan banget. Setelah pulang kerja bersama Kim, sempat-sempatnya mampir ke swalayan. Bukan beli balon, tapi membeli sesuatu biar Dea sedikit terbakar. Kebanyakan nonton film yang bukan-bukan, membuat otak pria itu traveling ke mana-mana.
__ADS_1
"Coba buka jendela itu, sumpah gerah banget." Dea lama-lama kaya cacing kepanasan. Dasar suami gak ada ahlak.
"Nanti masuk angin, jangan dibuka! Pakai baju tipis aja." Daniel langsung meletakkan laptop yang semula ia pangku. Ia berjalan ke arah lemari. Sepertinya Mama kemarin memasukkan baju zirah ke koper. Baju tempur untuk pengantin baru.
"Pakai ini!" Daniel meletakkan sebuah baju tidur kurang bahan dan transparan ke pangkuan Dea.
"Apa ini? Astaga ... jangan ngaco. Pakai sendiri!" Dea melempar baju tempur itu ke atas kursi. Ia geli sendiri menatap model dan bentuknya. Hanya menutupi inti bumi, sisanya bisa terekspose sempurna. Baju yang meresahkan kaum Adam.
Daniel terkekeh, ia juga merasa lucu sendiri. Bagaimana kalau Dea memakai itu? Ah sudahlah, otaknya sepertinya sudah geser sedikit.
Beberapa saat kemudian, Dea sudah kelimpungan di atas ranjang. Ia membolak-balik tubuhnya, geser ke sini dan ke sana. Daniel masih pura-pura acuh. Ia sedang menanti fase di mana Dea sudah tidak kuat, benar-benar jahil yang haqiqi.
"Ini kenapa sih? Gerah banget!" Dea tidak tahan, dilihatnya Daniel kembali memangku laptponya di atas sofa sambil meluruskan kedua kakinya.
"Kenapa, Dea?" Pria itu pura-pura bodoh.
"Kopi apa sih tadi?" Dea sudah merasa curiga.
"Kopi? Kopi luwak black coffee, kenapa?" Daniel ingin tertawa, tapi ia tahan.
"Aku mungkin allergi luwak, jadi gak enak banget setelah minum kopi tadi. Padahal sebelumnya nggak kenapa-kenapa. Apa jangan-jangan kopinya kadaluarsa? Coba lihat bungkusnya!" pinta Dea.
"Kamu masukin apa?"
Daniel menggeleng.
"Ngaku!"
Daniel mengaruk pelipisnya, dan tersenyum lebar.
"Astaga!" Dea sudah menduganya. Ia pun langsung memarahi Daniel.
"Jahat banget!" Dea menggelengkan kepala.
"Nggak jahat, lagian kita cuma berdua. Lihat itu!" Daniel menunjuk segelas kopi juga di meja, sudah kosong. Isinya sudah ditengak habis oleh Daniel. Jadi, sesaat yang lalu ia juga minum obat kuat. Biar sama-sama kuat, malam ini durasinya harus lama dan panjang.
Mau marah tapi jiwa terlanjur membara, ya sudah. Obat sudah meresap, mau apa lagi.
"Mode gelap ya? Aku matiin lampunya," tawar Daneil.
__ADS_1
Dea langsung menggeleng, ia memang tidak suka kegelapan.
"Ya sudah, pakai lampu tidur ya."
Klek
Ruangan yang semula terang benderang langsung menjadi temaram.
"Jangan lupa pengamannya!" Dea mencoba mengingatkan saat pria itu sibuk menyesap lehernya. Bagai drakula dadakan, Daniel suka sekali bermain-main di leher Dea yang pendek, benar-benar di bawah standard, tapi bagai candu.
"Iya, nanti bakal pakai. Sekarang pemanasan dulu."
Mendengar jawaban Daniel, wajah Dea terasa panas. Bukan hanya wajah, darah di sekujur tubuhnya berdesir tak karuan. Rasa gerah, membuat Dea tanpa sadar melepas pakaiannya tanpa diminta.
"Manjur banget obatnya," batin Daniel sembari tersenyum jahil.
Karena Dea minum terlebih dahulu, Dea pun lebih dulu bereaksi. Sedangkan ia sendiri masih slow. Anteng dan sedikit tenang.
"Berapa yang kamu masukkan?" tanya Dea. Tubuhnya terasa terbakar.
"Satu!" Daniel tersenyum penuh arti.
"Bohong!"
Dea mengerjap, menajamkan mata mencoba menahan tubuhnya yang bergejolak.
"Satu tambah satu," ucap Daniel tanpa rasa bersalah.
"Satu untukmu dan satu untukku!"
CUP
Kecupan mesra mendarat sempurna. Dan ketika Daniel akan menarik diri, Dea justru melingkarkan lengannya pada leher Daniel.
Pria itu tersenyum dan bersorak dalam hati, ternyata obat kuat itu manjur sekali manfaatnya. Dea jadi sangat agresif, dan Daniel menyukai sisi liar istri kecilnya tersebut.
Ditatapnya wajah Dea dengan intense. Tangan munggil itu gemetar, Dea melepas kancing baju Daniel dengan jantung yang berdebar. Mengapa ia jadi sangat berani? Dea juga tidak habis pikir. Ia lempar pakaian itu jauh-jauh, membiarkan dada bidang itu terekspose tanpa cela.
***
__ADS_1
Ranjang pun mulai bergoyang, bukan karena gempa. Daniel hanya sedang mencoba membelah diri agar menjadi banyak. Bersambung.