Dea I Love You

Dea I Love You
SANGAT KACAU


__ADS_3

Dea I Love You


Bagian 57


Oleh Sept


Rate 18 +


Daniel dilanda kepanikan, begitu matanya terbuka ia mengengam tangan Dea. Bulir bening memenuhi dahi pria tersebut. Mimpi buruk barusan, membuat ia cemas. Rasanya tidak mau jika Dea benar-benar pergi dari hidupnya. Kehilangan calon anak sudah membuatnya terpukul. Daniel tidak mau Dea juga direngut dari sisinya.


"Bangun, Dea! Kamu nggak bisa begini." Daniel yakin, pasti Dea bisa mendengarnya.


"Kamu nggak pernah dengar apa yang aku katakan, kamu nggak boleh kabur seperti ini. Kamu pikir dengan begini aku akan memaafkanmu? Bangun Dea!"


Ada nada ancaman di tengah keputusasaan pria tersebut. Dadanya sesak, melihat Dea yang tidak mau membuka mata, membuat ia marah di tengah kesedihan yang mendalam.


***


Hari ke 2


Masih di rumah sakit yang sama, Daniel sedang bicara pada pengacara. Di sampingnya juga ada sekretaris Kim yang menyimak. Sedangkan di atas ranjang, Dea masih tak kunjung membuka mata.


"Saya mau anak itu dikasuskan!"


Daniel terlihat tidak main-main, ia ingin laki-laki yang bersama Dea mendapat hukuman.


Pengacara terlihat berpikir, "Tapi Tuan, ini murni kecelakaan. Bukan kelalaian, akan sulit membawa kasus ini ke ranah hukum."


"Saya membayar anda bukan untuk mengatakan hal ini! ... Kim, ganti pengacara!"


Kim hanya bisa menghela napas panjang, ia mengangguk pada si pengacara. Seolah mengatakan pada pengacara itu untuk keluar. Bosnya sedang tidak bisa diajak diskusi santai. Pria itu dari kemarin bicara pakai urat. Petaka buruk yang menimpa keluarganya, membuat Daniel menjadi tambah emosional.


"Tidak bisakah kamu bekerja dengan benar?" cetusnya pada sang sekretaris.


"Maaf, Tuan. Akan saya ganti dengan pengacara yang baru."


"Kamu pikir aku bodoh? Kau tidak dengar pengacara itu bilang apa?" sentak Daniel.


Sekretaris Kim jadi serba salah. Daniel tahu itu murni kecelakaan. Tapi hatinya tidak terima, ia harus memiliki seseorang untuk disalahkan. Mau menyalahkan sang istri? Tidak mungkin. Bahkan Dea saja belum bangun.


Sekarang Kim jadi bingung, harus bagaimana menghadapi sang atasan yang pikirannya tidak jernih tersebut.


"Lalu ... apa yang harus saya lakukan, Tuan?"

__ADS_1


"Pergilah, Kim. Tinggalkan ruangan ini!"


Ruangan sekarang menjadi sangat sepi, baik pengacara ataupun sekretaris Kim, mereka sama-sama keluar. Yang ada hanya Daniel dan Dea yang masih enggan membuka mata.


Beberapa saat kemudian, seorang dokter datang bersama perawat. Pria berjas putih itu memeriksa kondisi Dea, belum juga selesai. Daniel langsung memberondong banyak pertanyaan pada sang dokter.


"Kenapa istri saya belum bangun?"


"Apa ini karena operasi kemarin?"


"Kalau sampai istri saya kenapa-kenapa, dokter akan saya tuntut."


Dokter yang mengerti akan kesedihan keluarga pasien, bisa menyadari sikap Daniel. Ia hanya menepuk pundak Daniel. Mencoba memberikan support, bahwa semua akan baik-baik saja. Banyak-banyak berdoa, semoga pasien cepat pulih.


Daniel yang tidak menyukai dokter yang menangani Dea, menepis tangan dokter tersebut. Pria itu marah, karena dokter tidak bisa membuat istrinya segera bangun. Begitulah Daniel, terus saja menyalakan siapa saja yang bisa ia salahkan.


Hari ke 3


Putri tidur itu nyatanya tidak mau bangun, sudah hari ke 3. Tapi Dea tak kunjung membuka mata. Pagi ini, Mama Rosie yang menjaga Dea. Sudah tiga hari Daniel tidak pulang, kalau bukan karena paksaan Mama, Daniel mungkin tidak mau pulang.


Ketika mama yang jaga, tiba-tiba ada yang membesuk.


"Maaf, kalau boleh tahu kalian siapa?"


"Maafkan putra saya, dia benar-benar menyesal."


Mama Rosie tidak bisa berkata-kata, rasanya ia ingin memarahi anak itu. Apalagi karena anak itu, ia kehilangan cucu pertamanya.


"Maafkan saya, Tante." Vino tak mampu menatap wajah Mama Rosie. Pemuda itu merasa begitu bersalah.


KLEK


Mereka semua langsung menatap siapa yang datang.


"Berani kamu ke sini?"


Bugh


Daniel meninju tanpa aba-aba, matanya melotot menatap Vino. Berani sekali anak itu datang ke ruang rawat Dea.


"Daniel!" Mama memegangi putranya.


Mama Vino memeriksa wajah putranya, "Jangan main pukul, ini murni kecelakaan. Bahkan polisi sudah mengatakan anak saya tidak bersalah. Saya meminta maaf karena hati nurani saya terusik."

__ADS_1


"Pergi kalian dari sini!" usir Daniel.


"Daniel!" pekik Mama Rosie. Ia tidak suka melihat emosi Daniel yang meluap-luap tak terkendali.


"Sebaiknya kalian tinggalkan tempat ini," titah Mama sediki lembut.


"Sebelum saya pergi, bolehkan saya melihat Dea ... sekali saja?" dari tadi Vino melihat dari jauh, ia sangat ingin melihat kondisi Dea dari dekat.


Permintaan Vino seperti tiket cari mati, tangan Daniel seketika mengepal dan ...


BUGH


"DANIEL!" teriak Mama Rosie.


Vino tumbang hingga kursi rodanya terguling.


"Saya nggak terima, saya akan tuntut perlakuan tidak menyenangkan ini!" Mama Vino berbalik marah, ia tidak terima anaknya dipukuli. Sambil membantu Vino duduk, ia menatap tajam pada Daniel.


Napas Daniel masih memburu, ia masih ingin melampiaskan kemarahannya.


"Jangan pernah menginjakkan kaki di sini!" hardik Daniel yang darahnya terasa mendidih.


Mamanya Vino melengos, rasanya ia juga tidak sudi berurusan dengan orang yang temperamen seperti Daniel. Sekarang ia malah menyesal karena merendahkan diri untuk minta maaf.


"Ayo Vino, kita pergi! Jangan sampai kamu berurusan dengan laki-laki temperamen ini," sindir mamanya Vino. Ia terlanjur sakit hati karena anaknya dipukuli berkali-kali.


"Tapi Ma ... Vino mau lihat Dea dulu, ini semua karena Vino."


Bagai menyiram bensin di atas api, Vino semakin menyulut emosi Daniel. Suami dea tersebut mengertakkan gigi, rahangnya mengeras. Sepertinya ia bakal membuat Vino babak belur kali ini. Tidak menunggu lama, Daniel langsung menyerang Vino kembali.


"Astaga! Hentikan!" Mama Rosie panik, melihat Daniel dengan brutal menghajar Vino.


Mamanya Vino tak kalah panik, ia langsung mencari sesuatu, dan dilihatnya sebuah kursi. Diangkatnya kursi itu, ingin melindungi sang putra, kursi itu ia hempaskan ke punggung Daniel.


Seketika Daniel meringis, suasana jadi sangat kacau balau. Dan keributan itu membuat perawat yang lewat di sekitar sana langsung masuk untuk melerai. Di tengah suara bising orang ribut, makian dan teriakan, perlahan pelupuk mata Dea bergerak-gerak. Bersambung.


Sambil nunggu up, baca novel Sept yang lain ya ...


Rahim Bayaran, Istri Gelap Presdir, kesetiaan Cinta, Jerat Cinta Tuan Muda. Terima kasih.


Untuk info lebih lanjut mengenai dunia halu Sept, ikuti Instagram Sept ya ..


IG : Sept_September2020

__ADS_1


__ADS_2