Dea I Love You

Dea I Love You
Made In China


__ADS_3

Dea I Love You


Bagian 42


Oleh Sept


Rate 18 +


Ini bukan malam yang panas, ini bahkan terlalu dini untuk memulai hal semacam itu. Dan ini masih sangat pagi, tapi mau bagaimana lagi? Daniel sudah menahan terlalu lama.


"Kalau hamil bagaimana?" Dea menatap Daniel di saat-saat genting.


"Lah, kan ada bapaknya?" Daniel yang semula di ubun-ubun langsung melempem mendengar pertanyaan dari istrinya.


"Kuliahku kurang dua tahun lagi, aku belum siap hamil!"


BUKKK


Dea mendorong kuat tubuh Daniel yang masih di atasnya.


"Ya ampun!" Daniel mengusap wajahnya kesal, masa sudah pemanasan tapi nggak jadi? Dea keterlaluan.


"Pakai pengaman kalau mau anu!" Dea sudah turun dari ranjang, ia belum siap hamil. Jiwanya masih jiwa muda, masih ingin main-main. Dea belum siap menjadi seorang Ibu.


"Besok! Aku belikan sekarung!" cetus Daniel ikut turun dari ranjang. Dengan gusar ia merapikan pakaiannya yang kusut.


Dea menatap heran, di mana Daniel yang tadi mesra dan mengatakan kata cinta padanya?


Klek


Kesal tidak dapat jatah, Daniel keluar kamar dengan muka masam.


"Eh ... sudah keluar? Kalian terusin aja, Mama juga mau pulang."


Daniel tak menangapi candaan sang Mama. Mukanya masih kusut seperti kanebo kering.


Sesaat kemudian, Dea muncul dan bergabung bersama mereka di ruang tamu.


"Gimana sayang? Badannya udah mendingan?" tanya Mama Rosie.


"Alhamdulillah, Ma." Dea tersenyum pada mertuannya yang perhatian itu. Pandangan matanya kemudian beralih ke Daniel yang duduk di sebelah mamanya. Sejak tadi, mukanya ditekuk sembari menatap ponsel.


"Niel! Jangan main HP mulu!" sindir Mama Rosie yang melihat Daniel sibuk dengan smartphone miliknya.


Mendengar sindiran mama mertuannya, Dea hanya tersenyum tipis, ia tahu bahwa Daniel sedang kesal padanya. Tapi wanita muda itu tidak peduli, karena tadi Daniel tidak memiliki pengaman. Dea masih belum siap untuk hamil, titik.


Drettt drettt drettt


Ponsel yang semula dipegang Daniel bergetar, ada panggilan masuk dari sekretarisnya. Daniel beranjak meninggalkan Dea dan mamanya.


"Bagaimana?" Daniel bicara di telpon. Jadi sekretaris Kim masih ada di Cina, Daniel pulang terlebih dulu karena khawatir dengan Dea.


"Tuan, sepertinya Tuan harus datang ke sini lagi. Sebagai perwakilan Tuan, dasar kekuatan hukum saya masih kurang. Sepertinya Mr. Bond sengaja mempersulit kita."


"Apa tidak bisa kamu tangani sendiri?" Daniel menoleh, dilihatnya Dea sedang bicara dengan mamanya. Mana mau Daniel meninggalkan Dea lama-lama, Dea masih punya hutang padanya. Entah hutang apa itu.


"Tidak bisa, Tuan!"


"Mengurus itu saja tidak becus."


"Tapi, Tuan ... Masalahnya ..."


"Sudah ... sudah! Alasan!"


Tut tut tut


Daniel memutus telpon sepihak.


"Ada apa, Niel?" Mama menatap penasaran, sepertinya ada hal yang serius.


"Masalah kerjaan, Ma."


"Ada apa?"


Danile melirik Dea yang juga sedang menanti jawaban darinya.


"Sepertinya Daniel harus balik ke Cina besok, Ma."


Dahi Dea pun mengerut, entah mengapa ia menjadi melow mendengar kabar Daniel yang akan balik, padahal baru datang masa pergi lagi.


"Apa tidak bisa ditunda?" sela Mama.


Daniel menggeleng.


"Kamu tega tinggalin Dea sendirian?"


"Siapa bilang? Dea bakalan aku bawa, Ma."


Dea yang tadi hanya diam sebagai pendengar setia pun mulai bereaksi.


"Aku ikut?" tanya Dea memastikan kalau tidak salah dengar.


Mama tersenyum, bisa aja putranya itu. Sepertinya Daniel sudah mulai kesemsem dengan menantu kesayangannya itu. Mama rasa ia tidak salah pilih lagi, wanita paruh baya itu juga merasa lega. Kalau hubungan rumah tangga putranya hangat seperti sekarang, ia merasa damai. Dan tidak akan khawatir lagi.


"Dea, ayo ... Mama bantu berkemas," ajak Mama.


Yang mau pergi adalah Dea, tapi Mama yang nampak begitu bersemangat.


"Tapi, Ma ... Kuliah Dea gimana?"


"Bisa aku atur!" sahut Daniel.


Daniel yang semula terlihat gusar dan uring-uringan tiba-tiba mengeluarkan sebuah senyum penuh misteri. Entah apa yang ada di kepala pria tersebut. Yang pasti, Daniel sudah memiliki sebuah rencana khusus. Tidak hanya mengurus pekerjaan, sepertinya di sana nanti ia juga akan mengurus masalah yang lain.


***

__ADS_1


Di sebuah Bandara, Mama terlihat berat melepas Dea. Ia memeluk lama menantunya itu. Kemudian ganti memeluk Daniel.


"Dea masih kuliah, jangan buru-buru memiliki anak!" bisik Mama di telinga putranya.


Seketika Daniel langsung masam, Dea dan mamanya sama saja. Padahal tujuan menikah kan untuk punya keturunan.


"Lihat nanti, Ma!" ketus Daniel.


Mama malah tersenyum mendengar jawaban Daniel, Dea dibikin hamil nggak masalah juga sih. Mama malah seneng.


"Kalian bisik-bisik apa tadi?" tanya Dea saat Mama sudah meninggalkan keduanya.


"Bukan apa-apa, ayo ... nanti kita terlambat."


***


Burung baja itu dengan gagah membela angkasa raya, terbang dari negara satu ke negara yang lainnya.


Cina Airport. Sekretaris Kim langsung menghampiri Daniel dan Dea begitu melihat keduanya sudah tiba.


"Selamat datang, Tuan," sapa Kim ramah.


Daniel hanya mengangguk, kemudian mengandeng tangan Dea. Ia membiarkan Kim membawa tas koper miliknya.


Mata Kim tidak sengaja menangkap pemandangan itu, "Sepertinya mereka lagi hangat-hangatnya," pikir Kim yang melihat bosnya bergandengan. Sudah mirip orang mau nyebrang saja.


***


"Kim, berhenti di sana sebentar."


Daniel menyuruh sekretarisnya menghentikan mobil saat melihat ada swalayan di depannya.


"Tuan butuh apa? Biar saya carikan," tawar Kim.


Daniel langsung menggeleng. "Tidak! Aku beli sendiri."


Daniel kemudian berbisik ke telinga Dea, "Ikut denganku!"


Dea menatap heran, masa ke swalayan minta ditemani?


"Sama sekretaris Kim aja."


"Nggak bisa, harus kamu sendiri."


"Lah?" Dea makin tidak mengerti.


Karena Daniel langsung meraih tangannya, Dea akhirnya ikut begitu saja. Meninggalkan sekretaris Kim di dalam mobil sendirian.


"Kalian mencurigakan!" gumam Kim.


Di dalam swalayan suasana terlihat sangat ramai, Daniel terlihat ragu saat akan mengambil sebuah barang.


"Kamu suka rasa apa?"


Melihat Dea hanya diam saja, Daniel lantas mundur. Pria itu mengambil keranjang belanjaan. Memasukkan alat pengaman berbagai rasa. Pisang, grape, strawberry dan lainnya. Semua ia masukkan dalam keranjang yang ia bawa.


"Jangan ngawur! Balikin!" Dea merebut berkotak-kotak balon mainan tersebut. Menyusunnya kembali di atas rak.


"Apa yang kamu lakukan? Kita butuh benda ini malam ini."


Dea speechless, tidak bisa berkata-kata.


"Tapi jangan diborong semua!"


"Gpp, buat persediaan," jawab Daniel dengan enteng.


"Astaga, mesum sekali."


"Mesum? Yang benar saja? Aku hanya mau melakukannya dengan istriku sendiri. Mana letak mesumnya?"


"Memborong semua ini, sudah dapat menjelaskan semuanya."


Daniel mendesis kesal, "Ya udah. Satu aja, rasa pisang ya!"


"Terserah!" Dea memilih keluar lebih dulu.


Rasanya malu menemani Daniel membeli alat pengaman tersebut.


"Mana Tuan, Non?"


"Ada, tuh lagi bayar."


"Maaf Non, memangnya Tuan Daniel membeli apa?"


"Nanti tanyakan sendiri ya."


Sekretaris Kim langsung cemberut.


Sesaat kemudian Daniel muncul dan langsung membuka pintu belakang.


"Sudah dapat, Tuan?" tanya Kim penasaran.


"Hemm."


Sekretaris Kim yang penasaran, ia mencoba mengintip lewat spion dalam. Dilihatnya sebuah kantong bening yang di pegang Daniel.


"Ish!" Ia mendesi dalam hati.


Dari pada perjalan bisnis, ini seperti bulan madu untuk pengantin baru tersebut. Kalau begini, mendadak Kim juga ingin menikah. Tapi dengan siapa, sampai detik itu belum ada yang membuat jantungnya berdesir.


Tanpa sadar, mobil mereka sampai di depan sebuah hotel bintang lima di tengah kota.


"Kim, aku mau istirahat. Tolong jangan ganggu sampai ku hubungi."


Belum apa-apa, Daniel sudah mewanti-wanti sekretarisnya.

__ADS_1


Sekretaris Kim hanya bisa tersenyum kecut. Ia tahu, sangat tahu. Bosnya mau anu anu sama istrinya. "Oke bos, jangan khawatir!" batin Kim menjawab.


Presidential suit, di dalam kamar yang luas dan megah, Daniel langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang muat untuk lima orang, saking lebarnya.


Sedangkan Dea, wanita muda itu langsung ke kamar mandi untuk cuci muka.


"Dea ...!"


"Iya!" sahut Dea. Ia masih di dalam kamar mandi.


"Jangan lama-lama."


"Bentar!"


Beberapa menit kemudian, Dea yang sudah membasuh wajah, terlihat segar setelah perjalanan cukup lama.


Tanpa menaruh curiga, Dea mendekati Daniel.


"Ad ... a ... a ... pa ...?" Dea benggong, mendadak jadi gagap. Sudah mirip pelawak opera van Jawa.


"Ke sini!" Daniel menepuk tepi ranjang.


Dea menggeleng.


"Ayo ke sini! Jangan mengelak lagi, aku bahkan sudah membeli pengaman ini!" Daniel membuka tangannya yang sebelumnya mengepal. Ia menunjukkan alat pengaman rasa pisang pada Dea.


Dea hanya bisa menelan ludah, sepertinya ia akan dimakan Daniel sekarang.


"Dea! Jangan benggong. Mari manfaatkan waktu yang ada. Besok aku akan sibuk sekali, kau tahu sekretaris Kim? Ia sudah menjadwalkanku agenda yang sangat padat."


Dea mencoba mengatur napas, baru juga sampai. Daniel langsung ngajak perang. Ia kan belum ada persiapan.


"Bentar, aku gosok gigi dulu!" Dea mencoba berkelit, ia mau kabur.


Seolah tahu akal bulus istrinya, Daniel langsung bergegas turun. Secepat kilat ia merengkuh pinggang istrinya.


"Hayo ... mau kabur ke mana?" bisik Daniel dengan lembur. Pria itu tahu titik sensitive Dea. Menyerang Dea tepat pada intinya.


"Anu ... mau gosok gigi!"


"Alasan!"


Daniel langsung memutar tubuh Dea, kini keduanya saling menatap.


"Aku mau sekarang."


Perlahan Daniel mulai melepas kancing kemejannya. Setelah semua terlepas, ia membuangnya ke sembarang arah.


Sementara itu, jantung Dea rasanya berdegup kencang, berdebar-debar tak karuan. Melihat Daniel yang sudah menanggalkan pakaian, membuat konsentrasinya buyar.


Apalagi tangan Daniel sudah mulai meraba-raba. Kalau sudah begini, Dea sudah tidak bisa berpikir lagi.


***


Kamar yang semula rapi, kini terlihat seperti kapal pecah. Kain seprai sangat berantakan. Di lantai tercacar beberapa pakaian. Dari kemeja, celana, dress, segitiga biru dan kacamata. Semua berantakan di atas lantai kamar.


"Tadi kan sudah beli, kenapa nggak dipakai?"


"Nggak sempat."


"Nanti kalau hamil bagaimana?"


"Kan ada bapaknya?"


"Huuuft!" Dea terlihat kesal karena Daniel melakukan itu tanpa sempat memasang pengaman.


"Kamu marah?"


Dea langsung membelakangi Daniel. Menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang sudah polos.


"Hemm ... bagaimana ya? Habisan kamu hot banget."


BUKKK


Dea berbalik dan memukuli suaminya.


"Nanti lagi ya?" Tidak peduli mendapat pukulan, Daniel malah minta nambah.


Bukk bukk bukk


Dea semakin gencar memukul lengan suaminya.


"Dasar mesum!" cibir Dea.


"Hemm, katakan lagi!"


"MESUM!"


"Lagi!" goda Daniel.


"Mesum ... mesum ...mesum!" ulang Dea dengan mengebu.


CUP


Dea tak berkutik, tidak bisa meledek Daniel lagi.


"Katakan lagi!" bisik Daniel.


Dea menggeleng kepalanya keras.


Melihat Dea yang sudah jinak, Daniel tambah gemas.


Cup cup cup


Ia mengabsen seluruh wajah wanita itu, mengecup kening, mata hidup, pipi dan terakhir adalah bibir, paling lama dan dalam. Menyesapnya hingga meninggalkan rasa kebas. Seolah belum puas dengan apa yang mereka lakukan beberapa waktu lalu, apalagi menara sutet sudah mulai kembali memancarkan sinyalnya. Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2