
Dea I Love You
Bagian 16
Oleh Sept
Rate 18 +
"Maaf ... permisi," ucap Sekretaris Kim pada senior Dea. Pria tersebut langsung pergi ke tenda begitu ponselnya berdering. Daniel mengirimkan pesan untuk membereskan masalahnya, saat itu juga.
"Eh ... " Wanita muda itu terlihat terkejut dan malah terkesima pada sosok Kim. Tampan, bening meski dalam pantulan cahaya yang terbatas. Pokoknya posture pria itu nampak laki banget, gadis tersebut seolah terhipnotis dengan pesona sekretaris Kim. Senior Dea langsung membetulkan poni dan anak rambutnya. Gadis bernama Nana itu seolah sedang caper pada Kim.
Kata penyelengara sih, ada tamu di camp mereka. Dan Nana sempat mencuri pandang sejak semalam. Katanya sih ada dua orang, tetapi Nana baru melihat satu orang saja, yaitu si ganteng Kim. Sedangkan yang satunya masih belum nampak batang hidungnya.
"Bisa bicara sebentar?" Kim sedang berusaha menjauhkan gadis itu dari tenda. Ia masih ingat ancaman Daniel, tidak lebih dari 5 menit. Tenda harus steril, kalau tidak, Kim bisa membayangkannya sendiri akibatnya.
"Maaf, mengenai apa Mas?" tanya Nana dengan nada selembut tahu sutera.
"Mari ke sana!" Kim langsung berjalan mendahului Nana. Ia mengajak gadis itu segera menjauh secepat mungkin.
Nana langsung mengekor pada Kim, senang bisa dekat-dekat cowo kece. Kapan lagi bisa seperti ini?
***
Di sekitar api unggun. Semua sudah berkumpul kecuali Dea.
"Metty! Dea mana?" Vino mendekati gadis yang sedang membetulkan jaketnya itu.
"Tau tuh."
Vino mengerutkan dahi, tidak mengerti maksud Metty.
"Kok gak tau? Kan tidur sama elo?"
__ADS_1
"Dah lah ... rombongan mau berangkat tuh. Gue duluan ya." Metty berlalu, ia meninggalkan Vino yang masih penasaran. Karena Dea tidak kelihatan di mana-mana.
Dari belakang, Nana menepuk pundak Vino. "Ayo, jangan benggong aja. Nanti ketinggalan!" seru senior Vino tersebut.
Entah apa yang dikatakan oleh Kim pada gadis itu, yang jelas setelah bicara dengan Kim. Wajah Nana terlihat sumringah.
***
Tenda Oren, di dalam sana masih ada dua orang yang terbaring. Dea yang dari dahulu ngebo kalau tidur, masih tertidur pulas dalam pelukan suaminya. Sedangkan Daniel, meski sempat iklan sejenak. Kini pria itu sudah on kembali.
Harusnya ia mengucapkan beribu rasa terima kasih pada sekretarisnya itu. Tanpa campur tangan sekretaris Kim, Daniel tidak akan mendapatkan kedamaian seperti ini.
Suasana tenang dan sepi, tanpa penganggu tentunya, karena semua sedang naik ke puncak untuk menikmati sun rise.
"Gadis ini ... ada gempa bumi mungkin tidak akan bangun!" batin Daniel sembari menyibak wajah Dea yang tertutup rambut.
"Nggak cantik-cantik amat!" gumam Daniel.
Ingin memperhatikan wajah istrinya dengan seksama, Daniel lantas merubah posisi tidurnya. Kini keduanya saling menatap, namun Dea masih memejamkan mata. Gadis itu bahkan mendengkur.
Bukannya ilfeel, Daniel malah terus memperhatikan Dea semakin intense. Menikmati dengkuran halus tersebut.
Tiba-tiba, setan jahil kembali berbisik di telinga Daniel yang sedang panas dingin itu. Sembari menutup sebelah matanya, sedangkan yang satunya dibiarkan sedikit terbuka untuk mengintip. Tangan Daniel berusaha pelan-pelan menyentuh ujung selimut, dengan perasaan deg-degan pastinya, pria itu mencoba menarik selimut yang menutupi bagian depan tubuh Dea.
Srekkk
"Alamak!" Danil langsung menutup kedua matanya. Pria itu kemudian berbalik, memilih berbaring membelakangi Dea.
"Ya ampun, setan apa ini? kenapa jorok sekali! Daniel ... inget Daniel, jangan aneh-aneh. Dia cuma Dea, Dea ... only Dea, nothing. Nggak ada apa-apanya. Jangan konyol dengan menyentuhnya sedikit saja!" Daniel memarahi dirinya sendiri.
Jiwanya meronta, tubuhnya ingin tapi otaknya melarang. Apalagi setelah melihat gunung Himalaya dibalut kain sutra dengan hiasan renda. Kepala Daniel benar-benar sudah nyut-nyutan sekarang.
Uhuk uhuk
__ADS_1
Daniel langsung pura-pura tidur ketika mendengar Dea terbatuk-batuk. Gawat, sepertinya gadis itu sudah bangun.
Dea yang merasa kedinginan karena tidak memakai pakaian lengkap dan selimut yang hanya menutupi sebagian tubuhnya, membuat ia terbangun karena hawa dingin yang menyerang.
Gadis itu mengerjap, mengosok kedua matanya. Dea ingat, harusnya mereka ada jadwal mendaki ke puncak untuk melihat sun rise. Begitu ia bangun sepenuhnya, Dea menatap tubuhnya. Bertapa terkejut Dea, ia sampai seperti kehabisan oksigen.
Plak plak plak
Dea memukuli punggung Daniel bertubi-tubi tanpa ampun.
"Apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Dea dengan nada tinggi karena marah. Dea merasa sudah ternoda. Padahal ia masih memakai segi tiga biru. Bahkan tidak terasa sakit atau perih, artinya area rawan masih aman. Masih perawan ting ting. Dasar Dea aja yang mudah panik.
"Cukup! Hentikan!" Karena dipukuli terus menerus, Daniel akhirnya berbalik. Pria itu kini memegang tangan Dea, agar gadis itu berhenti memukulnya.
"Dasar ...!"
"Dasar? ... Dasar apa?" Daniel tidak terima Dea melotot pada dirinya. Lagian Dea juga belum diapa-apain, pikir pria tersebut.
"Mesum! Piktor!" cetus Dea lantang.
"Jangan keterlaluan Dea!" Daniel terlihat masih tidak terima.
"Siapa yang melepas bajuku? Dan kenapa kamu tak pakai baju? Apa yang sudah kamu lakukan saat aku tidur? Dasar pria mesum!"
"Hey! Jaga mulut itu baik-baik, kamu semalam kedinginan. Mengigil sembari mengertakkan gigi-gigimu. Harusnya malah berterima kasih, bukannya menuduh yang bukan-bukan!"
"Konyol! Apa aku akan percaya begitu saja?"
"Dea ... Dea, jangan terlalu percaya diri. Bukankah aku sudah bilang, kamu nggak pakai apa-apa pun, aku tidak terpengaruh."
Panas telinga Dea mendengarkan kalimat Daniel. Gadis itu langsung melempar selimut, kemudian mendekat Daniel.
"Hey! Apa yang kamu lakukan! Sana!"
__ADS_1
Daniel panik, karena Dea bisa melihat ada sebuah tower yang tiba-tiba muncul. Wkwkwk ... Bersambung.