Dea I Love You

Dea I Love You
Mobil Bergoyang


__ADS_3

Dea I Love You


Bagian 62


Oleh Sept


Rate 18 +


"Sayang ... bangun, laper nih!" Dea mengoyang-goyangkan tubuh suaminya yang sudah terlelap.


"Capek banget! Makan roti aja, itu ada dibawain Kim tadi." Suara Daniel terdengar serak, matanya pun setengah terpejam. Pria itu sepertinya kehabisan energy, sudah lowbat karena gempa beberapa saat lalu.


"Bosen, mau yang lain. Sekalian jalan, bangun dong." Dea terus saja mengerakkan tubuh Daniel, memaksa pria itu lekas bangun.


"Bentar lagi ya sayang .... Capek banget."


"Hem ... ya udah, aku keluar dan minta temenin sekretaris Kim ya?"


Srekkk


Daniel langsung menyibak selimut


"Jangan!"


"Astaga!" Dea meraih selimut dan menutupi tubuh Daniel. Tinggal bersama Daniel, mata Dea semakin keruh. Terlalu banyak hal yang bukan-bukan yang ia saksikan. Daniel kelewat santuy! Dea sampai kehabisan kata-kata.


"Apa sih!" Daniel malah menyibak kain tebal itu sekali lagi. Tanpa malu, ia langsung turun dan menuju kamar mandi.


Dea jelas menutup matanya dengan kedua tangan dan sesekali mengintip tentunya, Daniel itu keterlaluan. Bisa-bisanya pria itu berjalan dengan santai di depannya tanpa apa-apa.


"Ya ampun!" batin Dea.


Daniel benar-benar tidak tahu malu, Dea sampai kehabisan kata-kata melihat suaminya itu.


"Sayang! Handuk." Daniel teriak-teriak dari dalam kamar mandi. Mau mandi tidak membawa handuk, sepertinya Daniel memang sengaja tidak membawanya.


"Tadi sebelum mandi, mengapa nggak ambil sendiri?" Dea ngomel-ngomel, tapi ia mencarikan handuk juga untuk suaminya itu.


"Ini handuknya!" Dea menunggu di depan pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Masuk!" titah Daniel. Spontan Dea mengeryitkan dahi.


"Nggak!"


"Nggak dikunci, masuk saja." Di dalam sana, Daniel sudah menyeringai, siap menangkap mangsa. Sudah seperti garangan yang bersembunyi di semak menunggu mangsa. Ya, garangan! Ambassador luwak black coffee.


"Nggak, habis mandi." Dea terus saja menolak karena ia sudah mencium gelagat sang suami. Paling juga itu dan itu.


KLEK


Dengan jahil, Daniel langsung menarik tangan Dea masuk ke dalam kamar mandi.


"Mandi lagi ya!" Daniel pun menyalakan kran. Dan perlahan air pun terjun dengan deras dari shower yang mengantung di atas kepala keduanya.


"Aku habis mandi!" protes Dea. Sambil menutupi kepalanya dengan tangan. Tapi percuma, derasnya air tidak bisa ia tahan hanya menggunakan jari.


Sedangkan Daniel, pria itu tidak peduli, pokoknya membelah diri tetap jalan terus. Di mana saja, asal tempatnya tertutup.


"Kan sudah mandi!" Dea terus saja mengerutu. Ingin melangkah keluar, tapi tidak bisa. Bagaimana mau keluar, lah Daniel mengunci tubuhnya saat ini.


"Apa nggak capek?" sindir Dea.


"Kalau gampang capek, kamu yang nyesel!" cetusnya.


Muaah, muachh, muachh.


Suara kecupan singkat di pucuk kepala Dea. Daniel sedang menghujani Dea banyak kecupan. Setelah itu, tangannya menyingkirkan rambut yang menghalangi pandangan Dea. Ia menyingkirkan poni yang menutupi mata Dea. Lalu menempelkan bibirnya ke pelupuk mata sang istri, mengigit gemas pucuk hidung Dea dan mencubit pipi Dea yang cubby.


"Mulai deh, mulai!" sindir Dea yang merasakan jari-jari Daniel kelayapan. Pria itu malah dengan mudahnya melepas pengait kacamata kuda.


Bisa dipastikan, detik selanjutnya gempa pun tidak bisa terhindarkan. Daniel mengempur Dea sampai wanita muda itu tak berkutik. Hanya menyisahkan rasa perih dan enak di waktu bersamaan.


***


"Tuan kelihatan segar sekali?" sindir Kim saat Daniel memintanya datang ke lobby.


Mereka bertiga akan bersenang-senang malam ini. Rasanya Daniel tidak ingin meninggalkan Kim berdiam saja di dalam kamar hotel. Ia pun mengajak sekretarisnya itu menyusuri kota bersama-sama. Atau jangan-jangan Kim hanya diminta jadi sopir. Atau malah disuruh jadi obat nyamuk saja.


Betul firasat Kim, tau begini ia mendingan di kamar saja. Lihat! Dea dan Daniel begitu mesra. Gandengan, pelukan, rangkulan, dan sesekali memberikan kecupan di pipi atau kening. Kim kan jadi baper sendiri.

__ADS_1


"Kita mau ke mana lagi?" Dea yang duduk di kursi belakang, menatap ke jendela mobil. Meskipun sedang bertanya pada suaminya, tapi pandangan mata masih ke arah jalanan kota di kala malam. Lampu kelap-kelip sangat indah. Membuat Dea tak bosan menatapnya. Benar-benar Kota kekinian. Peradapan terdepan dibanding kota yang lainnya.


"Terserah kamu mau ke mana?" Melihat Dea takjub, Daniel pun memutuskan apa saja yang istrinya mau. Ke mana saja ayo, Kim pasti akan mengantar mereka.


Beberapa kilo kemudian, eh Dea malah ketiduran.


"Kim, berhenti sebentar."


"Kenapa, Tuan?"


"Tidak apa, cari tempat parkir dekat sini."


Mobil pun berhenti di sebuah tempat, sekretaris Kim menghentikan mobilnya karena perintah sang atasan.


"Kalau mau jalan lagi, Tuan panggil saya," Kim pamit, ia akan mencari udara segar di luar sana. Membiarkan Daniel dan Dea di dalam mobil berduaan.


Tidak jauh dari sana, Kim terlihat menikmati pemandangan malam di Kota sejuta lampu. Indah, harusnya ia memiliki seorang di sebelahnya. Pasti lebih uwu.


Setengah jam kemudian, Kim sudah mulai kedinginan. Ia juga sudah merasa lama di luar, ia pun ingin kembali ke mobil.


"Sial!" umpat Kim melihat dari kejauhan.


Nampak dari jauh, mobil yang semula ia kendarai malah goyang-goyang. Kim merutuk sejadi-jadinya. Pria itu lantas berbalik dengan muka kusut seperti kanebo kering. Bersambung.


Eh, baca juga novel Sept yang lain ya:


Istri Gelap Presdir


Rahim Bayaran


Terjerat Cinta Tuan Muda


Kesetiaan Cinta


Menikah karena Dijebak


Suamiku Pria Tajir


Terima kasih ya..

__ADS_1


Yuk temenan juga sama penulisnya.


Instagram : Sept_September2020


__ADS_2