Dea I Love You

Dea I Love You
Detak Jantung Yang Memburu


__ADS_3

Dea I Love You


Bab 14 Oleh Sept


Rate 18 +


Mahluk Di Balik Selimut


Dea mengamati tubuh di balik selimut dengan seksama. Ia perhatikan dengan dalam dan lama. Metty temannya itu memiliki kaki yang pendek, temannya memiliki tinggi di bawah rata-rata. Lalu siapa gerangan yang ada di dalam tenda bersamanya kini? Mengapa jadi lebih panjang? Pikir gadis tersebut. Dea hanya menebak-nebak. Akan tetapi, tangannya tetap menyentuh sosok yang tersembunyi tersebut.


"Mit ... Mittii! Bangun dong! Geser dikit!"


Karena dilanda rasa penasaran yang membuncah, dengan gerakan slow motion Dea menarik selimut yang menutupi sosok tersebut. Dengan hati-hati Dea membuka kain itu dan feeling Dea sudah mulai tidak enak.


Ketika kain selimut baru tersibak sedikit saja, Dea langsung beregas berdiri. Gadis itu dengan spontan ingin lari saat itu juga. Sayang, sebuah tangan malah mencengkram pergelangan kaki Dea. Membuat gadis itu tidak bisa lagi kabur ke mana-mana karena sebelah kakinya tertahan.


"Mati aku!" batin Dea tidak berani berbalik. Tubuhnya langsung terasa dingin seketika.


"Mau ke mana lagi?" Suara itu terdengar berat dan penuh aura mistis.


Sebenarnya, pertanyaan tersebut sangat biasa saja, tapi untuk kali ini terdengar sangat horor ketika kata itu meluncur dari bibir Daniel.


"Tolong lepasin!" mohon Dea dengan suara lirih. Ia hanya melirik sedikit ke arah kakinya yang masih dipegang suaminya itu.


"Siapa pria yang lari bersamamu tadi?"


"Itu ... itu ...!"


"Sialan kamu Kim!" maki Daniel dalam hati, ia merasa sudah ditipu mentah-mentah oleh sekretarisnya tersebut.


"Pacarmu?" tebak Daniel kemudian.


"Pacar?" Dea mengulang kata Daniel namun hanya dalam hati, bola matanya berputar, seakan sedang berpikir. Sebaiknya bilang iya apa tidak? Kapan lagi bisa membalas Daniel, mumpung ada kesempatan.


"Kalau pacar aku, memangnya kenapa?" Dea menatap ke bawah. Di sana ada Daniel yang masih berbaring, namun tangannya tetap mencengkram kakinya.


Srekkk


Dengan gerakan cepat, Daniel langsung berdiri. "Siapa yang mengijinkan kamu pacaran?" Pria itu sudah berdiri tegap di depan Dea, memberi tatapan tajam yang menghujam.

__ADS_1


Dea menelan ludah, ia beringsut. Kakinya mundur beberapa langkah hingga tersandung ketika mengenai ransel dan ia jatuh dengan posisi terduduk. Sedangkan Daniel, pria itu semakin mendekat ke arahnya.


"Bukan ... bukan ... kami nggak pacaran. Sumpah!" Dea langsung jujur saat Daniel sudah sangat dekat.


"Bukan pacar, lalu mengapa gandengan tangan? Kamu pikir aku buta?"


Dea mulai terlihat panik. "Cuma gandengan tangan aja, kamu pas cium-cium wanita lain saja aku nggak apa-apa!" Dea mencoba membela diri.


Daniel kesal, Dea sudah terpojok tapi masih saja ngeles. Bikin dara tinggi Daniel kambuh. Apalagi yang dikatakan Dea adalah 100 persen benar, tapi ia sama sekali tidak terima. Pokoknya Dea yang salah.


"Dea ... Dea!"


Terdengar suara Vino di luar tenda memanggil-manggil nama gadis tersebut. Vino sengaja menghampiri tenda warna oren milik Dea karena ia sempat melihat Metty di luar bersama teman-teman lainnya. Itu artinya Dea hanya sendiri di dalam tenda. Kesempatan emas, cowo kece itu mau PDKT.


Sementara itu, di dalam tenda, Dea hanya bisa mengigit bibir bawahnya. Benar-benar nyawanya sudah di ujung tanduk. "Vinooo ... elo kenapa juga ke tenda gue?" jerit Dea dalam hati.


"Dea ... lo di dalam, kan?" tanya Vino sekali lagi.


Dea mematung, ia takut sekali pada sorot mata Daniel yang melihat ke arahnya dengan tajam.


"Gue mau tidur, Vin. Ngantuk, elo pergi aja," teriak Dea dari dalam.


"Nggak, badan gue capek semua!" masih sambil berteriak.


"Elo nggak sakit kan, Dea?" tanya Vino cemas.


Daniel langsung tersenyum getir, mendengar dua kurcaci saling bicara bersautan, membuat telinga langsung memanas panas. Otaknya ikut mendidih.


"Nggak, gue nggak apa-apa. Dah ... sana, gue ngantuk!" usir Dea. Jujur dia takut juga kalau Daniel keluar taringnya.


"Ya dah, gue pergi nih. Met istirahat ya ... Have nice dream."


"Hem!"


Ketika suasana sudah sepi, dan tidak ada suara di luar lagi. Daniel langsung menyindir istrinya.


"Manis sekali pacarmu!" cibir Daniel.


Dea menelan ludah.

__ADS_1


"Aku mau tidur, tolong keluar!" pinta Dea dengan sedikit takut.


"Sejak kapan kamu mulai berani seperti ini? Hem?"


"Terus gimana? Kan aku kemarin sudah ijin. Tapi nggak dikasih. Pergi tanpa ijin juga sangat terpaksa." Awalnya ia mendongak, tapi ketika melihat betapa masamnya wajah Daniel, gadis itu langsung menegelamkan wajah dalam-dalam, takut!


"Ngomong aja kalau kamu mau kencan di sini!" tuduh Daniel dengan gusar.


"Bukannya kalau begini ceritanya jadi impas?" Dea memberanikan diri menatap suaminya lagi. Ia kemudian mengingat bagaimana Daniel mencium dengan mesra seorang wanita di lobby hotel beberapa hari lalu.


"DEA!" Daniel seolah tidak terima, Dea terus saja mengungkit saat ia bersama Dara.


"Kenapa? Kamu boleh berhubungan dengan wanita lain, terus kenapa aku nggak? Jangan bilang kamu sudah ada rasa sama Aku?" Dea balik menuduh suaminya.


"Aku? Ada rasa samu kamu? Jangan mimpi!" bantah Daniel, gengsi pria itu rupanya masih setinggi langit.


"Baguslah!" Dea menepis tubuh Daniel, ia mau keluar dari tenda.


"Mau ke mana? Tetap di dalam!" sentak Daniel.


Dea menoleh, "Katanya nggak suka sama aku. Udah, nggak usah peduli aku mau ngapain ... aku mau ke mana!"


"Berani sekali anak ini!" batin Daniel.


"Aku suamimu!"


Saat Dea akan membuka resleting tenda dan mendengar kata Daniel, ia pun tertegun sejenak. Sementara Daniel, pria itu langsung menarik tubuh Dea.


"Diam di tempat, aku lelah hari ini. Tidak ada waktu untuk mendebatmu!" Daniel memaksa Dea untuk berbaring. Agar gadis itu tidak lari, ia melingkarkan lengannya dengan erat ke pinggang Dea.


Deg deg deg


Terdengar degup jantung yang memburu.


"Kenapa detak jantungnya kenceng banget ... apa dia sakit jantung?" batin Dea ketika merasakan dentuman jantung Daniel yang begitu terasa di balik pungungnya. Bersambung.


Instagram : Sept_September2020


Kenalan sama penulis Dea I Love You yaaaa...

__ADS_1


__ADS_2