
Dea I Love You
Bagian 60
Oleh Sept
Rate 18 +
Dea mencoba menarik tangannya, tetapi Daniel malah memeganginya dengan erat. Alhasil, Dea nonton sambil tangannya terus dipegang suaminya.
"Bagaimana? Suka fimnya?"
"Lumayan," jawab Dea sambil mengangguk pelan.
"Karena udah sore, kita pulang ya? Atau kamu mau ke mana?"
"Nggak, pulang aja. Capek."
Mereka memutuskan untuk pulang, tidak mampir-mampir lagi. Lumayan, hitung-hitung mereka sudah bisa kencan seharian ini. Paska Dea keguguran, Daniel memang menjadi pribadi yang lebih lembut dan perhatian. Ia manja-manja si Dea. Diajak jalan-jalan, pokoknya dibaik-baikin. Beda sekali dengan yang dulu.
Daniel tidak mau menyia-nyiakan waktu mereka. Ditinggal Dea koma beberapa hari, ia seperti kehilangan gairah hidup. Makanya, ketika Dea sudah berada di sisinya lagi, ia curahkan kasih sayangnya pada istrinya tersebut.
***
Hari demi hari pun mereka lalui dengan saling menghibur diri, makan bareng di luar. Nonton film di bioskop, jalan-jalan di dalam kota. Dan olah raga pagi bila weekend, mereka akan jogging bersama. Itu berlangsung berminggu-minggu.
Daniel pun mengurangi pekerjaannya di kantor, biasanya ia akan menyuruh Kim. Ia selalu mengandalkan sekretarisnya tersebut. Hingga Kim sampai tidak punya waktu untuk bermain-main.
Dua bulan kemudian.
Suatu pagi, Kim datang. Pria itu ingin bicara langsung pada Daniel. Untuk kali ini harus Daniel yang menangani urusan perusahaan. Tidak bisa ia wakili seperti biasanya.
"Berapa hari, Kim?" Daniel memasang muka tidak suka. Ia merasa Kim tidak bisa diandalkan lagi.
"Mungkin seminggu, Tuan."
"Apa kamu tidak bisa tangani sendiri?" Daniel enggan meninggalkan Dea lama-lama. Apalagi istrinya itu masih cuti kuliah. Dea pasti bosan bila ia tidak ada di apartemen.
"Para kolega juga ingin bertemu Tuan secara langsung."
"Ish!" Daniel mendesis kesal.
__ADS_1
"Kamu tahu kan, Kim? Aku tidak bisa meninggalkan istriku sendiri."
Sekretaris Kim mengeryitkan dahi. "Dulu Tuan mengajak Non Dea ke Cina, saya rasa sekarang diajak juga tidak apa-apa."
Daniel nampak berpikir, kemudian berbicara lagi setelah mendengar saran dari sekretarisnya.
"Pesankan tiket untuk Dea," titah Daniel dengan yakin.
"Baik, Tuan."
***
"Mengapa aku harus ikut?" Dea mengeryitkan dahi ketika Daniel memberi tahu bahwa ia akan mengajak Dea dalam perjalanan bisnis kali ini.
"Itu sih Kim, dia tidak bisa menangani ini sendiri. Aku harus turun langsung, dan aku nggak mau kamu sendirian di sini."
"Nginep di rumah Mama, atau mama di sini kan bisa?" Alis Dea hampir menyatu. Masalahnya ia malas ke mana-mana.
"Aku yang nggak bisa, Nggak bisa kalau jauh-jauh dari kamu."
Dea memalingkan wajah, menahan senyum.
"Serius!" Tangan Danile langsung merengkuh pinggang istrinya. Mendudukkan Dea di atas nakas dekat ranjang.
"Turunin," pinta Dea, tentunya sembari tersenyum manja.
"Kiss dulu!"
Dea menggeleng.
"NO!"
"Ya udah, gini aja sampek nanti."
Dea terkekeh, kemudian mengalungkan lengannya di leher Daniel. Wajah mereka pun mulai berdekatan. Bahkan hembusan napas masing-masing begitu sangat terasa.
Cup
Sebuah kecupan singkat sudah diberikan Dea, setelah itu Dea menarik wajahnya.
"Dah ... turunin!" pinta Dea lagi.
__ADS_1
Bukannya nurunin Dea, Daniel malah merapatkan tubuhnya.
"Sekali lagi!" bisik Daniel.
Dea tersenyum manis dan terus menggeleng. Membuat Daniel jadi tambah gemas. Tanpa ba bi bu, Daniel langsung merampas bibir ranum rasa cherry tersebut. Sepertinya Dea habis pakai lipgloss rasa cherry.
Rasa yang manis membuat Daniel enggan melepaskan istrinya itu.
***
Hari keberangkatan ke Jepang.
Tok, tok, tok.
"Itu pasti sekretaris Kim, nanti ketingglan pesawat." Dea mendorong kuat dada suaminya, padahal mereka harus siap-siap ke Bandara. Mau berangkat sempat-sempatnya Daniel melakukan hal yang bukan-bukan. Hanya karena melihatnya memakai handuk kimono, Daniel langsung menyerang. Mungkin karena effect puasa berminggu-minggi yang lalu. Daniel jadi garang dan liar. Seperti singa yang nggak pernah dikasih makan.
"Dasar, Kim. Udah, biarin aja. Kita naik penerbangan berikutnya."
"Ish ...!"
"Udah ... tanggung nih!" Daniel langsung menarik selimut. Dua orang itu bukannya membuka pintu untuk Kim, malah bergerak-gerak di balik selimut.
Di depan pintu, Kim terus saja berdiri menanti. Sembari terus menatap jam tangan. Kalau lama begini, mereka bisa ketinggalan pesawat.
Kim tidak tahu, bosny lagi apa. Takut telat, Kim mencoba menghubungi ponsel Daniel.
Kring kring kring
"Astaga, Kim!" Daniel langsung mematikan ponselnya. Ia sedang fokus.
"Angkat aja, kasian tuh sekretaris Kim."
"Biarin, ada yang lebih penting!"
Daniel kembali beraksi, menciumi leher Dea. Memberikan banyak cap badak di sana. Membuat Dea mengeliat karena sensasi geli yang ia rasa.
"Geli!" Dea masih mencoba mendorong dada kotak-kotak tersebut. Tapi percuma, Dea sudah tak bisa berkutik dalam kungkungan suaminya itu. Daniel sudah memenjara Dea dalam kuasanya.
"Pelan-pelan," bisik Dea di telinga Daniel saat merasakan sentakan yang sedikit kuat.
"Ini udah ..." Suara Daniel terputus. Bersambung.
__ADS_1