
Dea I Love You
Bagian 41
Oleh Sept
Rate 18 +
POV Daniel
Di bawah umur, tolong mundur. Hehehe ....
Aku menyukainya, bukan karena rasa mint yang aku rasakan sekarang. Anak nakal ini benar-benar membuatku menelan ludahku sendiri. Dea Kanaya, pada gadis jorok yang sudah kuperawani ini, hatiku mulai terusik.
Apa bagusnya wanita muda yang kini jadi istriku? Bodinya tak seperti model, bantet dan ah, sudahlah. Dea bukan tipe ideal. Sikapnya yang tidak sopan padaku, membuat keningku selalu mengkerut. Ia bahkan hanya berlaku sopan saat ada orang tua kami. Selebihnya, sikapnya akan acuh dan tidak menaruh hormat padaku, istriku ini cenderung membantah. Selalu membalik tiap kata-kata yang aku ucapkan padanya.
Harusnya aku tidak menyukai gadis yang seperti itu, karena jelas sekali jauh dari standard. Dea sungguh bukan tipe idealku. Tapi sekarang, aku seperti terkena kutukan dari langit. Gadis urakan yang pernah aku hina, gadis yang aku wanti-wanti agar tidak jatuh cinta padaku, semua sekarang malah berbalik.
Aku jatuh cinta pada wanita ini, Dea sudah terlalu sering membuat darahku berdesir. Melihatnya, membuat aku ingin memilikinya seutuhnya.
"Dea ... I love you," Aku bisikan kata cinta pertamaku di telinga Dea setelah ku kecup bibir aroma mint yang lembut itu.
Kulihat raut wajahnya, pipinya berubah merona. Mata yang akhir-akhir ini tajam bila menatapku, kulihat juga sudah mulai berkaca-kaca. Ah Dea, ada apa denganmu? Tidak kah matamu perih? Dari kemarin kamu hanya menangis saja, pikirku.
Tiba-tiba saja Dea malah langsung memelukku. Tidak hanya memeluk, istri kecilku ini juga mengumpat dan marah-marah tidak jelas.
"Jahat! Kamu jahat!" teriaknya sambil menegelamkan wajah di dadaku yang bidang ini. Ya, aku memang dikarunia fisik di atas rata-rata. Wajah tampan dan tubuh yang tegap nan atletis. Siapa yang bisa menolak pesonaku? Aku rasa Dea pasti juga menyukainya, pikirku dengan rasa percaya diri yang tinggi.
Tidak ingin melihat gadis yang paling aku cintai larut dalam kesedihan, aku pun mencuri kesempatan. Ku pegang pundaknya dengan lembut. Dia masih saja menundukkan wajah.
"Dea, lihat mataku jika aku sedang bicara padamu!" ujarku sembari menatap Dea lekat-lekat.
Dari dulu Dea memang bandel, tidak suka mematuhi perintahku. Dengan sabar, kuraih dagu yang tidak ada tirus-tirusnya itu.
__ADS_1
"Mengapa menangis? Apa kamu terharu? Karena ada pria menyatakan perasaannya padamu?"
Sepertinya aku harus belajar merangkai kata cinta, lihatlah sekarang, Dea melotot gusar kepadaku. Haruskah aku menyatakan cinta dengan ekspresi yang mengebu? Atau haruskah aku mengatakan dengan bunga, coklat atau cincin bertahtakan berlian?
Ah, bukan seperti itu. Anak nakal ini, aku rasa tidak menyukai sesuatu yang berkilauan seperti itu. Mungkin Dea menyukai yang seperti ini? Atau jangan-jangan ini justru kesukaanku sendiri? Aku tersenyum jahil. Perlahan kuturunkan wajahku.
"I Love you!"
Setelah mengucap kata cinta itu lagi, ku kecup bibirnya yang lembut. Bagai candu, Dea sudah menghipnotis hatiku. Jantung ini pun kembali terpacu, apalagi saat Dea membuka mulutnya perlahan.
"Dia menerimaku, sepertinya dia menerima perasaanku," batinku.
Cukup lama kami menyelami sensasi rasa yang hangat ini, entah mengapa tangganku menjadi jahil dan agresif. Kulepas Dea sesaat, buru-buru berlari ke arah pintu. Aku tidak mau ada yang menganggu moment hangat ini. Mama kebiasaan, ia kadang jadi penganggu di antara kami. Dengan senyum licik, aku kunci pintu dari dalam.
"Kenapa pintunya dikunci?" Dea menatapku curiga.
"Sudah selesai, kan?"
Kulihat bola mata Dea memutar, "Pasti sudah," pikirku.
Dengan malu Dea mengangguk, aku jadi tambah bersemangat. Tanpa membuang-buang waktu, ku lempar tubuhku ke atas ranjang.
Ku peluk pinggang yang ramping itu, tanpa sadar bibirku tersenyum. Aku membayangkan bagaimana bila kubuat Dea perutnya membuncit? Ah bagaimana dengan kuliahnya?
"Lepaskan!" Dea meronta, mungkin ia engap karena aku memeluk pinggangnya erat.
"Sebentar saja!" pintaku tanpa beranjak. Hanya sebentar, aku ingin memeluk wanita yang sudah berhasil memporak-porandakan jantungku.
"Mama pasti sudah menunggu!"
"Biarkan!" cetusku.
"Ayolah, aku nggak enak sama Mama."
__ADS_1
"Mama pasti paham."
"Ya ampun, Mama nanti pikir kita macam-macam."
"Biarin Mama mikir apa saja, toh Kita juga memang mau macem-macem."
BUKKK
Sebuah bantal mendarat di punggunku. Aku terkekeh kemudian ku lepas lenganku yang semula melingkar di pinggangnya.
Ku atur posisi yang pas, sekali gerakan Dea sudah dalam kungkunganku. "Dea ... saat ini kamu milikku!" Aku bisikan kata itu ke telinganya dengan suara yang ku buat lembut sedemikian mungkin.
Tapi apa yang terjadi, dia malah tersenyum remeh. Aku rasa Dea jadi sombong dan jual mahal setelah aku ucapkan kata cinta padanya.
"Kamu tersenyum?"
Dea menggeleng.
"Kamu menertawakan aku, Dea?"
Dea masih saja tidak mengaku, bila dari kemarin kulihat kesenduhan memenuhi raut wajahnya, kini ia terlihat sangat manis ketika tersenyum padaku.
"Minggir, aku mau keluar!" Dea berusaha lepas dari kuasaku.
"Mau ke mana? Tidak ada yang boleh keluar sebelum urusan Kita selesai." Mana mungkin aku melepas kesempatan ini.
Dea berusaha mendorong tubuhnya, tapi tidak berhasil. Dea mungkin lupa, betapa kuatnya aku.
"Selesaikan dulu urusan kita!"bisikku.
Ku gigit gemas telinga Dea. Tanganku juga sudah tidak terkendali, menyusuri setiap apa saja yang ada di bawahku. Jantungku kian memburu ketika kudapati Dea mengeliat di bawah sana. Ah Dea, aku rasa kamu sudah membakar hasratku.
"Sekarang?" tanyaku.
__ADS_1
Dea tak merespon, tubuhnya masih mengeliat karena aksiku. Bersambung.