Dea I Love You

Dea I Love You
Kabut Sendu


__ADS_3

Dea I Love You


Bagian 56


Oleh Sept


Rate 18 +


Astro Group, sekretaris Kim terlihat ragu saat akan membuka pintu. Rasanya kabar yang akan ia sampaikan bisa membuat bosnya shock.


Tok tok tok


"Masuk!"


Kim terlihat maju mundur saat akan mulai bicara.


"Ada apa, Kim? Katakan!" ucap Daniel, tapi matanya masih menatap layar laptop.


"Non Dea ..." Kim tidak bisa melanjutkan kata-katanya.


"Ada apa dengan istriku?" Daniel pun melipat laptponya. Kini ia menatap Kim yang dirasa aneh.


"Nona Dea kecelakaan."


Wajah Daniel terangkat, ia mengamati Kim dengan seksama. Tidak mungkin sekretarisnya itu bercanda.


"Di mana dia sekarang!"


***


Rumah sakit Abdi Husada


Sepanjang jalan tadi, Daniel tidak berkata apa-apa. Ia hanya bertanya keberadaan Dea sekarang. Ia bahkan tidak bertanya bagaimana istrinya bisa kecelakaan. Daniel kini terdiam, ia duduk di depan ruang operasi.


Pria itu tidak bisa berpikir lagi, Daniel kelewat takut pada kenyataan. Takut bila apa yang ia miliki diambil darinya.


Klek


Pintu ruang operasi terbuka.


Seorang pria dengan balutan seragam operasi serta masker yang menutupi mulut, keluar dengan wajah tidak bahagia. Sepertinya ia akan memberikan kabar buruk.


"Bagaimana istri dan janin dalam kandungannya, Dok? Apa mereka baik-baik saja?" raut wajah Daniel sudah terlihat panik. Ia tidak mau hal buruk menimpa keduanya.


Dokter menepuk pundak Daniel dengan pelan. Seolah berusaha membuat keluarga pasien sedikit lebih tenang.


"Kondisi sang ibu masih kritis, sedangkan janin dalam kandungan ...!"


"Selamatkan mereka berdua, Dok!" sela Daniel. Ia ingin dua-duanya selamat.


"Bila Pak Daniel menginginkan keduanya, maka keselamatan sang ibu sangat beresiko."


"Maksud Dokter? Dokter mau mengambil anak yang bahkan belum lahir itu?" Ia malah menuduh dokter akan mengambil anaknya.


"Tenang, Tuan!" Sekretaris Kim mendekat, membantu agar Daniel lebih tenang.


"Jangan ikut campur kamu, Kim!" Daniel yang kalut malah menyalahkan Kim dan dokter.


"Waktu kita tidak banyak, bila tidak segera diambil keputusan. Mungkin keduanya dalam bahaya," Dokter kembali menjelaskan.


"Siapa anda! Anda bukan Tuhan. Mengapa mudah memutuskan garis hidup manusia! Anda terlalu Arrogant! Hanya karena sebagai dokter, membuat seenaknya mengambil nyawa pasien!" maki Daniel. Ia malah marah-marah pada dokter Dea.

__ADS_1


Beberapa suster datang, ia juga membantu menenangkan Daniel yang terlanjur emosional. Pria itu sedang kacau sekacaunya.


"Kalian semua bukan Tuhan! Tidak berhak memutuskan siapa yang hidup dan mati!" teriak Daniel. Tapi, detik berikutnya. Pria itu malah merosot.


"Pak Daniel, Kita tidak memiliki banyak waktu. Pilihan ada di tangan Bapak. Bila Bapak memaksa mempertahankan keduanya, kami tidak bisa jamin bahwa sang ibu bisa bertahan."


Seperti ada pedang yang menancap tepat di jantungnya. Daniel merasakan sakit yang luar biasa.


"Istri saya, selamatkan istri saya!" Pria itu tersadar, dia tidak punya banyak waktu untuk berpikir. Waktu Dea sangat terbatas, tidak mau kehilangan mereka berdua. Daniel memilih sang ibu, dan membiarkan calon anaknya pergi.


Dokter dan para tim langsung masuk ruang operasi. Meninggalkan Daniel yang terpuruk. Pria itu menutup wajahnya dengan tangan, menyembunyikan tangis yang tiba-tiba datang. Kali pertama ia menangis setelah sekian lama.


Kim hanya bisa menatap kesedihan di wajah atasannya. Bos yang biasanya tegas, tidak ada lembut-lembutnya, kini terjebak dalam riak kesedihan yang mendalam. Pria itu menangis dalam keheningan.


"Kim!"


"Iya, Tuan."


Sekretaris Kim langsung mendekati Daniel yang sudah tenang.


"Ceritakan padaku, semuanya!"


Kim menelan luda, ia sudah merasa hawa panas di sekitarnya.


***


"Apa yang anda lakukan? Mengapa menerobos masuk dan merusak semua isi kamar?"


Mama Vino terlihat marah tapi juga ketakutan, pasalnya ada pria asing merusak semua barang-barang di kamar rawat inap putranya.


Daniel melempar dan merusak apa saja yang dilihatnya.


"Istri? Maksud anda apa? Vino tidak mungkin menganggu istri orang. Mungkin anda salah orang, anak saya bukan pebinor!"


"Tanyakan pada putra Anda kalau sadar!"


"Tunggu, Saya yakin anda salah orang."


"Anda yang tidak tahu apa-apa!"


"Siapa nama istri Anda?" Mama Vino ingin tahu, wanita mana yang dimaksud. Vino selama ini sibuk kuliah dan main basket. Mana sempat ganggu istri orang.


"Wanita yang kecelakaan bersama putra anda, itu istri saya!" sentak Daniel yang sudah emosi.


Mama Vino langsung ternganga.


"Dea? Dea teman Vino?"


Jengkel, Daniel memilih meninggalkan ruang rawat Vino. Sebelum pergi, ia sempatkan menendang ranjang rumah sakit tersebut. Membuat wanita paruh baya itu langsung menjerit.


***


Di depan ruang operasi Dea. Operasi masih berlangsung, Daniel nampak marah. Ia kembali memanggil Kim.


"Kim!"


"Iya, Tuan!"


"Hubungi pengacara."


Kim tertegun sejenak, "Pengacara?" ulang Kim.

__ADS_1


"Lakukan!"


"Baik, Tuan."


Sekretaris Kim menjauh sebentar, ia akan menghubungi pengacara. Persis seperti apa yang diperintahkan padanya. Saat Kim sedang sibuk bicara di telpon, pintu ruang operasi terbuka.


Operasi sudah selesai, dan Dea segera dipindah ke ruang pemulihan. Daniel langsung mengikuti ke mana istrinya dibawa.


***


Beberapa jam kemudian. Harusnya pengaruh obat sudah hilang, tapi Dea tak kunjung membuka mata. Sampai Daniel harus kembali memaki semua tenaga medis di sana.


Mama juga sudah tiba beberapa jam yang lalu, ia nampak sedih. Sesekali mengusap pipinya yang basah. Memikirkan nasib Dea, bagaimana kalau anak itu tahu bahwa janinnya sudah pergi?


Mama juga kasihan pada putranya, padahal, putranya itu begitu bahagia dan sangat senang ketika mengabari bahwa Dea hamil. Kini kebahagiaan itu sudah direngut dari mereka. Bahkan Dea masih belum juga siuman.


Malam hari, Mama Rosie memaksa tidur di rumah sakit. Padahal Daniel sudah melarang.


"Mama mau di sini."


"Mama juga harus jaga kondisi Mama."


"Mama nggak apa-apa, Niel!"


Uhuk uhuk uhuk


Mama mendadak terbatuk-batuk, Mama memang kesehatannya agak buruk akhir-akhir ini, mungkin karena faktor U.


"Kim, antar Mama pulang."


Kim mengangguk.


Karena memang kelelahan, Mama pun mau diantar Kim.


Pukul sembilan malam, Daniel tidak beranjak dari duduknya. Ia mengengam tangan Dea. Istrinya itu terlalu bandel hingga tidak mau membuka mata.


Malam itu terasa panjang dan lama bagi Daniel, apalagi bunyi alat-alat di dalam sana. Benar-benar tidak membuatnya nyaman.


***


"Dea," panggil Daniel.


Wanita itu menoleh dan tersenyum tanpa suara.


"Dea .... DEAAA!" teriak Daniel saat melihat istrinya hilang di ujung lorong tak terbatas. Bersambung.


Baca juga novel Sept yang lain


Rahim Bayaran


Istri Gelap Presdir


Kesetiaan Cinta


Jerat Cinta Tuan Muda


Pernikahan Tak sempurna


Suamiku Pria Tajir


Instagram : Sept_September2020

__ADS_1


__ADS_2