
Dea I Love You
Bagian 33
Oleh Sept
Rate 18 +
"Mau ke mana?" suara Daniel membuat Dea langsung berhenti melangkah.
Sudah sejak pagi pria itu menunggu Dea keluar dari kamar. Persis seperti dugaannya, pasti Dea keluar apartment dengan mengendap-ngendap. Berusaha menghindar dari dirinya. Sampai detik ini, Daniel tidak tahu penyebab Dea terus menghindar.
"Kampus lah," Dea sudah menenteng tas, dengan membusungkan dada ia melewati Daniel. Ia masih sebal dengan pria tak punya hati tersebut.
"Aku antar!"
"Nggak usah! Udah ada yang jemput!" Tanpa pamit, Dea langsung menuju lantai bawah. Ia buru-buru pergi agar Daniel tidak mengejarnya.
"Hey!" pekik Daniel, namun tidak ada yang mengubris. "Anak itu!" gumam Daniel menahan kesal. Dengan langkah cepat, Daniel pun mengejar Dea. "Cepat sekali anak itu!" Daniel terus saja ngedumel sembari berjalan.
Ketika sudah sampai depan apartment, ia menoleh ke kanan dan kiri mencari keberadaan Dea. Tapi tidak ada, sejenak kemudian malah terdengar suara klakson yang nyaring tidak jauh dari sana.
Bremm ... Bremm ... Bremm
Wush ...
Dea hilang bersama angin, istrinya itu pergi dibawa pria lain naik motor.
"DEAAA!" Tangan Daniel mengepal menahan jengkel pada istri kecilnya itu. Mengapa bandel sekali, membuat kepalanya pusing. Tidak bisahkah Dea nurut dan nggak macam-macam?
Egois sekali, dia sendiri macam-macam dengan Dara. Tapi melihat Dea dibonceng pria lain kok kebakaran jengot. Ini yang namanya hukum alam, adil, karma. Sukur!
***
Perusahaan Astro Group, di sebuah gedung yang menjulang tinggi, di dalam sebuah ruang meeting, tatapan Daniel terlihat kosong. Bahkan saat rapat usai ia masih saja diam, membuat beberapa peserta rapat heran dan tidak ada yang berani meninggalkan ruangan, meski rapat telah usai.
"Sekretaris Kim, ada apa dengan bos?" tanya rekan kerja Kim sambil bisik-bisik.
__ADS_1
Pasti urusan wanita lagi, Kim pun maju sedikit. Pria itu berbisik, membuat Daniel terhenyak kaget. Beberapa staff hampir kelepasan untuk menahan tawa.
Sadar, beberapa orang menertawakan dirinya. Daniel langsung melongarkan dasinya.
"Ehem ...! Rapat ditunda!" Daniel berdiri dan meninggalkan ruangan.
Sekretaris Kim memejamkan mata, duh. Rapat sudah selesai, apanya yang ditunda? Bos Daniel benar-benar sudah oleng.
Semua orang tidak berani bersuara, begitu pintu tertutup. Para staff malah cekikikan menahan tawa. Ada apa dengan CEO mereka? Berbeda sekali seperti biasanya yang tegas dan dingin.
Ruang kerja Daniel.
"Ada masalah, Tuan?" Sekretaris Kim menatap ragu ketika hendak bertanya. Namun, ia juga pemasaran. Apa yang membuat Daniel tidak konsentrasi.
"Kim ...!"
"Ya Tuan."
"Selidik siapa saja yang dekat dengan Dea, kali ini kerjakan dengan benar!" titah Daniel dengan wajah dingin. Ia tidak mau Kim menyembunyikan hasil penyelidikan seperti sebelumnya.
Kim hanya mengangguk, ia tersenyum kecut.
***
"Mau ke mana?" teriak Vino.
"Ish ... lo di sini aja, urusan cewek!" jawab Metty sembari terus berjalan sambil mengandeng tangan Dea.
Di sebuah bangku taman di bawah pohon rindang dengan ditemani angin sepoi-sepoi yang bertiup, terliha Dea sedang diintrogasi oleh Metty.
"Lo baik-baik aja kan?" tanya Metty. Matanya memindai sekujur tubuh Dea.
Dea mengangguk.
"Syukulah, sorry semalem gue mau cegah laki lo. Tapi ... gue gak bisa apa-apa."
"Gak apa-apa."
__ADS_1
"Terus gimana hubungan kalian? Semalem tidur sama siapa?" Metty mulai menjurus.
Alis Dea menungkik tajam ke bawah, apa-apaan sih Metty. Pertanyaan mendekati area pribadi.
"Tidur sendiri lah!" jawab Dea sebal.
"Ya ampun ... mubazir Deaaaa, cowok cakep kaya gitu lo angurin!"
BUKKKK
Metty mendapat pukulan keras dari Dea. Katanya kemarin mau bikin pembalasan, mau bejek-bejek. Ini kok seolah ada di pihak Daniel, Dea jadi sangsi. Metty ini di kubu siapa?
"Lo masih temen gue kan, Mit?"
"Hehehe ... gue cinta damai, kalau gue pikir-pikir. Sepertinya gue kemari terlalu emosi, tekanan darah gue pas lagi naik parah," kelit Metty.
"Mitiiii!" sentak Dea kesal.
Sahabat Dea tersebut malah melempar senyum tak jelas. Ada udang di balik bakwan. Ini sepertinya akal-akalan Metty saja dukung Daniel. Gadis itu sepertinya memiliki rencana terselubung.
Karena kelas mau mulai, keduanya pun meninggalkan taman. Berjalan sambil bercanda seperti biasanya.
Sore hari, langit sudah berwarna jingga merata. Sebenarnya sudah tidak ada kelas sejak beberapa waktu lalu. Hanya saja Dea malas pulang. Malas bertemu dengan Daniel, jika ingat Daniel, Dea juga ingat wanita yang bersama Daniel saat itu. Hanya membuat ia geram saja. Apa Dea mulai cemburu? Entahlah.
"Mau sampai kapan di sini?"
Dea mendongak, menatap pemilik suara yang tidak asing tersebut.
"Ngapain di sini?" tanyanya ketus pada Daniel yang berdiri di sampingnya.
"Dea ... cukup bersikap kekanak-kanakan. Ada apa denganmu?" sentak Daniel yang tidak tahan dengan sikap Dea yang terlihat masih uring-uringan dan tidak menurut.
"Kekanak-kanakan?" Dea menatap benci.
"Lalu apa namanya? Kabur nggak jelas, marah nggak jelas. Kalau ada masalah ngomong. Jangan kaya anak kecil, lari dari masalah."
Kesal dikatakan anak kecil, apalagi oleh pria yang sudah membuatnya tidak perawan lagi. Dea lantas pergi meninggalkan Daniel. Sambil berjalan bibirnya komat-kamit merutuki pria tersebut. Pria yang kini menyusulnya di belakang.
__ADS_1
"Mau kabur ke mana lagi? Mau ketemu sama pria lain? Ingat Dea! KAMU WANITA YANG SUDAH MENIKAH," teriak Daniel.
Suasana menjadi dingin, apalagi banyak pasang mata yang memperhatikan keduanya. Dea memejamkan mata sejenak kemudian berbalik. Bersambung.