Dea I Love You

Dea I Love You
Datang Bulan


__ADS_3

Dea I Love You


Bagian 24


Oleh Sept


Rate 18 +


Hujan yang semula sangat deras kini kembali reda. Sesekali suara angin berbisik, menerpa ranting dan dedaunan kering. Di dalam apartemen, setelah meletakkan kain seprai ke dalam mesin cuci, Daniel beranjak ke kamarnya untuk menyusul Dea. Matanya memindai seluruh ruangan, tidak ada Dea di sana. Tapi telinganya mendengar percikan air dari dalam kamar mandi.


Dea pasti sedang membersihkan diri, pikir Daniel sembari menatap pintu kamar kamar mandi.


Klek


Kepala Dea menyembul dari balik pintu. Gadis itu mengayunkan tangan. Menyuruh Daniel mendekat.


Ish, Daniel langsung menelan ludah. "Apa dia mau lagi?" batin Daniel bersorak. Dengan percaya diri, pria itu berjalan mendekati Dea.


"Tolong ambilin pembalut di laci kamarku!" pinta Dea.


"Hah?"


"Ambilin!"


Daniel menutup mata sesaat menahan kecewa, ia kira Dea minta nambah. Taunya malah lagi datang bulan. Ya ampun, kepalanya langsung pusing. Daniel harus menelan pil pahit.


Beberapa saat kemudian, Daniel mengetuk pintu kamar mandi. "Dea."


Dea lantas membuka pintu, tanpa mengucapkan kata terima kasih. Ia langsung mengambil pembalut dari tangan suaminya dan menutup pintu kembali.


***


"Kamu nggak pura-pura, kan?" tuduh Daniel.


Dea langsung melotot, baru keluar kamar mandi, Daniel sudah ngajak ribut. Pura-pura apanya? Dasar pria mesum. Dea merutuki pikiran Daniel berkali-kali di dalam hati.


Tidak peduli pada ocehan Daniel, ditambah lagi ia sedang datang bulan. Mood Dea kacau karena hormon pasca mendapat tamu bulanannya barusan. Tidak mau debat, apalagi rasa perih yang ditimbulkan Daniel masih sangat terasa. Ia pun langsung memilih berbaring dan menarik selimut. Sudah mirip kepompong, hanya kepalanya saja yang terlihat.


Sementara itu, sekarang Daniel merasa Dea tidak berbohong. Dea yang nampak gusar dan marah padanya. Membuat Daniel berpikir. Ia harus pasang strategy, Dea tidak boleh uring-uringan padanya. Bisa-bisa ia akan sakit kepala kalau tower kembali berulah.


Karena kamar mandi sudah kosong, ia pun ganti yang mandi. Diliriknya Dea sekilas, eh wanita itu malah melengos.


Lima belas menit kemudian, Daniel sudah selesai membersihkan diri. Ia berjalan dengan santai menuju lemari, tidak peduli pada Dea yang menatapnya dengan gusar.


"Dasar mesum! Mengapa berjalan ke sana ke mari hanya menggunakan handuk seperti itu?" gumam Dea. Tidak mau mengotori matanya lagi, Dea langsung berbalik.


Bukkk


Setelah memakai baju piyama tanpa motive, Daniel langsung menjatuhkan tubuhnya di samping Dea. Dilihatnya Dea yang masih belum tidur.


"Kenapa nggak tidur?"


Dea menggeleng.


"Tidurlah!"


Dea pun mencoba memejamkan mata. Begitu pula Daniel, karena kelelahan, pria itu pun langsung lelap.


Pukul 2 dini hari, Dea masih terjaga. Ia tidak bisa tidur. Perutnya seperti ditusuk-tusuk jarum. Perih yang ia rasa jadi dobel-dobel. Keram perut dan perih dibagian sensitive. Ah, gara-gara Daniel! Dea menatap penuh dendam pada suaminya tersebut.


Tidak bisa tidur, berkali-kali ia berganti posisi. Tetap saja perutnya terasa keram, tidak tahan lagi. Dea akhirnya membangunkan Daniel. Dengan kasar membangunkan pria tersebut.


Daniel yang masih merasa kantuk berat, mengucek mata kemudian duduk.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Biasanya Bibi mengosok dan memijat punggungku kalau aku lagi dapet," ucap Dea terus terang.


"Lalu?"


"Karena nggak ada Bibi, jadi ...."


"Hemm!" Daniel menatap jam dinding, masih sangat larut. Ia pun menyuruh Dea untuk berbalik.


"Apa sudah?"


"Belom?"


"Apa sudah?"


"Ya ampun baru juga beberapa menit!" ujar Dea gusar.


Bukannya apa-apa, Daniel benar-benar merasa sangat mengantuk saat ini. Ia ingin tidur, tapi Dea malah minta digosok punggungnya, dipijit-pijit segala. Sejak kapan CEO seperti dirinya jadi Kang urut? Dea benar-benar membuatnya melakukan hal-hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


"Sudah?" tanya Daniel dengan mata yang tinggal lima watt.


Tidak ada sahutan, ia pun langsung bersiap tidur kembali.


Perasaan baru memejamkan mata, tapi hari malah sudah pagi.


"Tidak kerja? Hari ini aku mau ke kampus," ucap Dea.


Srekkk


Dea membuka korden kamar lebar-lebar, membiarkan sinar matahari yang hangat masuk ke dalam kamar.


Sedangkan Daniel, pria itu masih mengerjapkan mata, dilihatnya Dea sudah rapi. "Sejak kapan Dea jadi suka dandan?" batin Daniel mengamati Dea yang memakai baju feminin.


Dea menoleh, "Lah ... ke kampus. Kan tadi dah bilang."


"Kenapa pakai baju itu?" Daniel mengeryitkan keningnya. Menatap aneh pada pakaian yang dikenakan Dea.


"Mama sudah mengambil semua baju-bajuku, kemarin!" gerutu Dea dengan muka ditekuk. Mama Rosie sudah mengeliminasi semua baju-baju gaul dan kekinian miliknya.


"Mama?" Tanpa sadar Daniel tersenyum, sebenarnya ia suka Dea yang sekarang. Celanan jeans robek di bagian lutut, kaos oblong, jaket buluk. Semua itu sudah tidak menjadi ciri khas Dea.


Apalagi alis Dea, ia baru memperhatikan. Sejak kapan Dea jadi pintar mengambar alis yang simetris? Daniel tak tahu, Dea kemarin habis sulam alis berjam-jam ditemani mamanya.


Tapi tunggu, kalau Dea semakin menarik. Itu artinya ia juga harus lebih waspada. Jangan-jangan di kampus nanti banyak yang naksir istrinya. Bisa berabe!


"Tunggu, aku antar." Daniel langsung turun dari ranjang. Pria itu bergegas mandi.


Sementara Dea, ia keluar kamar dan pergi ke dapur. Menyiapkan sarapan sederhana. Roti bakar selai kacang dengan jus.


***


"Nanti jangan pulang sendiri, ketika selesai, langsung telpon."


Dea bergidik ngeri mendapati sikap Daniel yang berubah 180 derajat. Pasti ada udang di balik rempeyek. Sejak kapan pria sombong itu menjadi perhatian? Ish, pasti ada maunya.


"Sepertinya aku nanti main ke rumah Metty."


"Tidak boleh."


Dea melotot, bola matanya seakan mau keluar. "Lah? Kenapa?"


"Sebab, nanti sore Kita akan menemui beberapa tamu penting."

__ADS_1


"Siapa?"


"Rekan bisnis."


"Ngapain ngajak-ngajak?" Dea jelas menolak, itu pasti pertemuan yang membosankan.


"Beberapa hari lagi, perusahaan akan mengadakan acara besar-besaran. Beberapa tamu penting sudah tiba. Mereka sudah datang kemarin, nanti kamu menemaniku menjamu mereka."


"Ngapain? Pokoknya nggak mau!"


"Selain tamu penting dari luar, ada juga artis ambassador Astro dari Korea. Persis seperti poster di pintu kamarmu yang dulu."


Mata Dea langsung berbinar-binar. "Ada Lisa juga? Jangan bercanda!" Dea tidak percaya. Ia tidak tahu, seberapa hebat pria di depannya. Bahkan penyanyi Oscar pasti ia undang bila ia suka.


"BteS juga," tambah Daniel.


"BteS? Ah yang bener?" Dea makin tidak percaya.


"Makanya, pulang kuliah aku jemput."


Dea langsung mengangguk, lupa pada rencana semula yang mau curhat pada Metty.


***


Kampus biru.


"Beneran ya yang tadi?"


Daniel mengangguk.


Dea tersenyum senang, mau ketemu artis idola membuat ia jadi bersemangat. Dan ketika akan melepaskan seatbelt, tangan Daniel malah sudah terlebih dahulu.


Wajah Daniel terlalu dekat tepat di depan dandan. Membuat Dea tidak nyaman.


"Jangan bergerak, aku sedang melepas pengaitnya," seru Daniel.


Biasanya juga gampang, tapi ini kok lama bener. Tinggal klek, sudah lepas. Sepertinya Daniel kembali modus.


"Sudah!"


Dea menelan ludah, kemudian membuka pintu. Tanpa pamit, ia langsung saja turun.


"Dea!" panggil Daniel.


Dea langsung clingak-clinguk, kemudian kembali ke mobil.


"Ada apa?" tanya Dea dengan suara bisik-bisik.


"Ke mari!"


"Apa sih?"


Cup


"Masuklah!" Setelah mengecup bibir Dea, Daniel langsung menutup jendela mobil. Jantungnya hampir meledak, padahal hanya kecupan singkat. Tapi membuat Daniel berdebar.


Sedangkan Dea, ia diam terpaku. Dea butuh waktu untuk mencerna apa yang terjadi barusan.


***


Di sebuah bandara international. Seorang wanita cantik berjalan dengan elegant. Dandanannya nampak fashionable, semua yang melekat padanya serba branded. Dengan senyum manis, ia menyapa orang yang ia hubungi lewat smartphone.


"Sayang ...!" Bersambung

__ADS_1


__ADS_2