
Dea I Love You
Bagian 31
Oleh Sept
Rate 18 +
"Gila nih Mittii, mau taruh di mana muka gue kalau gue cerita udah anu-anu sama Daniel. Aghrrr ... dasar pria menyebalkan!" batin Dea sembari menatap kosong pada tembok. Lagi-lagi ia menyesal, mengapa mau saja tidur sam Daniel. Padahal pria itu tidak menyatakan cinta pada dirinya, padahal di hati suaminya masih ada wanita lain. Dea pun berjibaku dengan pikirannya sendiri.
"Eh malah benggong, kata elo ... kalian nikah karena perjodohan kan? Tidur di kamar terpisah juga. Pasti kalian belum sempat ngapa-ngapain."
Mendadak Metty tertawa lepas, ia geli sendiri. Tidak mungkin Dea udah nggak perawan. Metty yakin mereka belum ngapa-ngapain. Membayangkan saja gadis itu geli sendiri.
"Sialan lo Mit! Ngetawain apa lo?" Dea merasa terhina. Cara tertawa Metty terlihat sangat merendahkan. Ia langsung memukul lengan Metty dengan keras. Membuat Metty tambah lebar tertawanya.
"Hahaha ... lucu aja, masa iya kalian uda begitu? Lo juga bilang tidur terpisah. Sorry ya ... gue nggak bakal tanya hal konyol kayak gini lagi. Lagian gue yakin, lo gak akan mau bobo satu ranjang sama orang yang nggak cinta sama lo. Lo kan pinter, nggak bodoh-bodoh amat," ucap Metty dengan yakin. Metty nggak tahu aja, fakta yang sesungguhnya.
Jleb, nyessss. Hati Dea rasanya meleleh seperti keju kena panas. Bukan rasa haru atau tersentuh. Dea hanya sedang tengelam dalam rasa duka cita yang dalam. Mittii benar, ia gadis bodoh. Mau-maunya tidur sama pria padahal tidak ada cinta? batin Dea meronta. Hatinya ingin menjerit. "Bodoh sekali kamu, Dea!" ratapnya di dalam hati. Nasi sudah jadi bubur, mau apalagi. Mau menuntut Daniel? Minta balikin keperawanan dia? Jelas itu mustahil.
"Miiitt ...!" suara Dea lirih, Metty yang mendengar sampai bergidik ngeri.
"Apa? Udah ... gak usah mikir aneh-aneh. Nginep di sini dulu. Tenangin tuh pikiran, dan cari cara buat ngajar laki lo."
Dea tersenyum miris, melihat sikap Metty yang kaya jagoan Neon.
"Mitt!"
"Apa sih?" Kali ini Metty menatap dengan wajah serius.
"Emm ... kalau gue udah tidur sama dia gimana?"
Mata Metty langsung mau keluarga.
"Hehehe ... lo mau ngibulin gue kan?" tanya Metty tidak percaya.
"Elo inget pas camping dulu?"
Metty ngangguk.
"Itu dia ... nyusul ke camp, dan tidur di tenda bareng gue."
__ADS_1
Mulut Metty terbuka, gadis itu terlihat shock.
"Dan kami udah ngelakuin itu," sambung Dea. Biar saja dicap bodoh sama Metty. Dea hanya ingin curhat, masalahnya ia tidak bisa memendam semuanya. Dea capek, capek hati capek pikiran. Bila ia cerita sama Metty, Dea merasa beban di pundaknya terasa lebih ringan.
"Elo bohong, kan?" Metty mencoba tidak percaya dengan pengakuaan Dea.
"Gue serius!"
"Elo masih waras? Apa dia maksa elo? Ya ampun, kenapa ngelakuin itu sama pria yang nggak cinta sama elo? Dea ... kok bisa?"
Suasana menjadi dingin dan hening. Baik Dea dan Metty sama-sama terdiam.
"Kalau lo hamil bagaimana?" tanya Metty memecah hening.
"Gue M, habis ngelakuin sekali ... gue M!"
"Syukurlah," ucap Metty spontan. Ia kasihan kalau sampai Dea hamil anak pria yang tidak mencintai sahabatnya itu.
Jadi Metty masih salah paham, ia kira Daniel main-main sama Dea, gara-gara Dea curhat, kalau Daniel selingkuh sama pacarnya. Ia merasa Daniel cuma butuh tubuh sahabatnya. Hanya buat muasin nafsunya saja. "Pria sialan!" rutuk Metty dalam hati. Rasanya ia ingin menghajar Daniel langsung.
Ketika keduanya asik curhat, tiba-tiba Vino menghubungi ponsel Metty.
"Mitt, Dea si sana?" suara Vino di balik telpon.
Metty lantas melirik ke arah Dea, gadis itu menggeleng keras.
"Nggak tuh. Kenapa?"
"Ke mana ya Dea? Gue cari ke rumahnya katanya nggak di rumah."
"Kurang tau, Vin. Emang ada urusan apa lo cari-cari si Dea?"
"Gue cuma khawatir, Dea lagi dicari-cari orang di kampus. Dan orang itu mencurigakan banget. Dia juga sempet samperin dan ngejar Dea waktu di camp."
Deg
Metty langsung menebak, itu pasti suaminya Dea.
"Emm ... coba gue hubungi Dea sekarang."
"Oke, nanti kabari ya!"
__ADS_1
"Hemm!"
Setelah selesai bicara dengan Vino, Metty langsung menghampiri Dea.
"Laki lo nyari ke kampus."
"MITTT ... gue nginep yaaa!"
"Tenang, biar gue hajar tuh orang. Gak ada yang bisa ganggu lo selama di sini."
Malam hari.
Malam ini langit terlihat cerah, bulan mengantung indah di atas sana.
"Lebih cepat, Kim!"
"Baik, Tuan."
Sekretaris Kim mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh. Beberapa saat yang lalu, melalui banyak kamera CCTV yang diperiksa di setiap titik, akhirnya mereka mengendus keberadaan Dea.
Kini, mobil sport warna merah itu melaju bagai angin menuju kediaman Metty. Wajah Daniel terlihat dingin, mungkin ia kesal karena Dea pakai acara kabur segala. Membuat ia kerepotkan.
Chitttt
Terdengar suara decitan mobil di depan pagar rumah Metty.
Ting tung ...
Ting tung ...
Daniel berdiri tegap di depan pintu, menunggu pintu itu terbuka. Rasanya ia ingin menyuruh Kim mendobraknya saja. Karena lama sekali tidak dibuka.
Tok, tok, tok.
Tidak tahan, Daniel mengetuk pintu dengan kasar.
"Iya sebentar," teriak Metty. Ia baru dari kamar mandi. Sedangkan Dea sudah tidur. Orang tua Metty lagi pulang kampung. Jadi cuma sama Bibi, sepertinya Bibi juga sudah ngorok. Terpaksa, Metty yang lagi BAB memotong panggilan alamnya. Gedoran pintu di luar, sangat menganggu konsentrasi gadis itu.
KLEK
Suara pintu terbuka.
__ADS_1
"Ca ... cari siapa?" Metty menelan ludah. Mimpi apa ia semalam, ada dua pria tampan berpakaian rapi berdiri di depannya. Bersambung.
Merry terpesona, katanya mau menghajar... mau bejek-bejek. Pretttttt wkwkwkwk