
Dea I Love You
Bagian 43
Oleh Sept
Rate 18 +
Sekretaris Kim terlihat mondar-mandir di depan pintu kamar hotel tempat Daniel menginap. Mau mengetuk pintu, tapi ragu. Takut jika bosnya keluar asap. Pasalnya, Daniel sudah memberikan peringatan untuk tidak mengusik pria itu sampai Daniel sendiri yang menghubungi.
Akan tetapi, sekretaris Kim rasa ini lebih dari cukup. Ia sudah tidak mengusik sejak kemarin. Dan pagi ini saatnya mengurus masalah pekerjaan, yang menjadi tujuan mereka datang ke sini.
Dengan menghela napas dalam-dalam, Kim mulai mengetuk pintu kamar itu.
Tok tok tok
"Tuan."
Tidak ada sahutan, Kim mengulang ketukan lagi. Kali ini sedikit lebih kencang.
"Tuan Daniel."
Ketika sekretaris Kim berdiri sampai lumutan di depan pintu. Di dalam kamar sana, mata Daniel masih terpejam. Lelah karena semalam bergadang, membuat ia bangun kesiangan.
Tok tok tok
Tidur Daniel mulai terusik, mendengar Kim yang berisik mengetuk pintu berkali-kali.
"Mau ke mana? Biarkan saja!" Daniel menarik lengan Dea. Dilihatnya dengan mata yang masih samar, Dea mau turun membuka pintu kamarnya.
"Itu pasti sekretaris Kim."
"Iya ... biarkan saja!" Daniel malah memeluk tubuh Dea yang munggil.
"Kasian, dia pasti menunggu."
Dengan jahil Daniel malah tersenyum, "Aku sudah memperingatinya. Biarkan dia karatan di luar sana." Daniel pun terkekeh, pagi-pagi bibirnya sudah merekah tersenyum sumringah. Batinnya pasti puas, karena dapat jatah banyak dari Dea.
"Sadis banget!"
"Biar aja!"
"Ish!"
Daniel tidak peduli, pokoknya ia hanya mau dekat-dekat dengan Dea.
Satu jam kemudian.
Daniel sudah rapi, memakai kemeja putih dan jas warna navi. Rambutnya tertata rapi, maskulin dan wangi. Saat akan memasang dasi, ia melirik ke arah Dea yang sedang menyisir rambutnya di depan meja rias.
"Dea, tolong bantu aku."
__ADS_1
Wanita muda dengan rambut pendek itu pun menoleh, bantuan apa gerangan yang diminta sang suami? Dea lantas bangkit, mendekati suaminya.
"Bantu apa?"
Daniel mengulurkan dasi ke tangan Dea.
Dea langsung berwajah muram, dulu saat masih tinggal sama ayahnya, ia sering sekali membetulkan dan memakaikan dasi untuk ayahnya. Sekarang, hal ini membuat ia teringat dengan almarhum ayahnya.
"Hey! Ada apa dengan wajahmu?" Daniel tertegun, mengapa Dea terlihat tidak bahagia?
"Ada apa? Katakan!" sambung Daniel.
Dea menggeleng, "Hanya ingat Ayah. Aku sering membantu ayah memakai benda ini."
Daniel langsung merengkuh tubuh istrinya. Ia menghela napas panjang. "Maafkan aku, membuatmu sedih pagi-pagi begini. Aku janji, akan membuatmu banyak tersenyum dari pada menangis."
Dea merapat, mempererat pelukannya.
Drettt drettt drettt
Daniel mendengus kesal, "Itu pasti Kim!"
"Angkat saja."
"Hemmm ... dia selalu menganggu saja."
"Sudah, angkat saja." Dea mundur, ia berjalan ke meja rias lagi. Melanjutkan merapikan rambutnya yang belum disisir rapi. Masih separuh basah, sepertinya Daniel akan membuatnya kramas sampai hari-hari yang akan datang.
***
Sedangkan sekretaris Kim, pria yang sama berpakaian rapi itu pun menatap heran. Tumben sekali atasannya itu sangat tenang? Padahal perusahaan sudah dirugikan dengan angka yang cukup besar.
Biasanya Daniel tidak mau nego, ia langsung menjebloskan siapa yang sudah menyalahi aturan. Tidak peduli sedikit atau banyak, Daniel akan langsung berpegang pada hukum. Tapi sekarang, lihat wajah tenangnya. Kim sampai merinding, mengapa sikap Daniel berubah drastis, apa pria itu akan mati? Karena biasanya orang yang sikapnya mendadak aneh kan mau mati, pikir Kim.
Selesai pertemuan pertama, kini mereka menuju tempat yang lain. Sebuah kawasan industri yang berada di tepi Kota.
"Ini lokasinya, Kim?" tanya Daniel ketika mereka berdua turun dari mobil.
"Benar, Tuan."
Wajah Daniel terlihat datar tanpa ekspresi.
"Kim."
"Ya, Tuan."
"Sampai di sini, kau bisa urus sisanya, kan?"
Kim menelan ludah.
"Kita masih ada satu pertemuan lagi, Tuan."
__ADS_1
"Ya ampun, Kimmm!" Daniel terlihat begitu kecewa, sudah jam tiga sore. Urusan masih saja belom kelar. Padahal ia ingin banget kembali ke hotel. Ah, Dea. Bayangan wajah istrinya itu sudah menari-nari di pelupuk mata.
***
Pukul tujuh malam, Daniel dengan masam keluar dari mobil. Ia menatap sebal pada Kim. Padahal Kim hanya menjalankan tugasnya.
"Kim, jangan hubungi aku. Jangan ketuk pintu kamarku. Kamu boleh datang kalau aku suruh," ujar Daniel saat mereka sampai di lobby hotel.
"Baik, Tuan!" jawab sekretaris Kim dengan senyum di bibir tapi merutuk di dalam hati. Sepertinya ia juga butuh istri.
Presidential suit, kamar yang akan jadi saksi bisu dalam rangka pelestarian populasi manusia.
"Dea ...!" panggil Daniel saat membuka pintu.
Dilihatnya Dea sudah ngorok, suara dengkuran halus Dea membuat bibir Daniel seketika mengembang.
Pria itu pun melepas sepatu dan jas yang semula ia pakai. Mandi sejenak kemudian ganti pakaian. Sudah tampan, sudah wangi pokoknya sudah oke punya.
Saatnya mengerjai Dea.
"Dea," bisiknya tepat di telinga Dea.
Merasa geli karena Daniel mengusik tidurnya, Dea pun akhirnya terbangun.
"Sudah pulang?" Dea mengosok matanya.
"Ngapain aja seharian ini?"
"Ngapain? Cuma nonton YouTubee."
"Hanya itu? Nggak bosen?"
Dea mengangguk, sangat bosan.
"Maaf ya, besok aku ajakin kamu jalan-jalan."
Bibir Dea langsung tersenyum manis, membuat Daniel jadi diabetes.
"Ngantuk banget, ya?" tanya Daniel yang melihat mata Dea tinggal 5 watt.
Dea kembali mengangguk.
"Aku buatin kopi ya?"
Dea langsung mendelik, bola matanya mau copot. Orang ngantuk dan kondisi sudah malam kok malah ditawarin kopi? Harusnya tinggal tidur aja.
"Nggak, mau tidur."
"Jangan tidur dulu! Aku buatin kopi ya!"
Daniel langsung berbalik, bersiap membuat kopi untuk membuat Dea terjaga semalaman. Ya, dia akan membuat Dea bergadang bersamanya. Mau ngapain? Bersambung.
__ADS_1