
Dea I Love You
Bagian 26
Oleh Sept
Rate 18 +
Saat ini Dara merasakan sesuatu yang janggal terhadap kekasihnya tersebut, Daniel tidak merespon saat ia menciumnya. Terasa dingin dan sangat hambar. Ia seperti mencium boneka manekin. Ini bukan Daniel, ini sosok yang berbeda. Lalu ke mana Danielnya? Apa waktu telah merubah segalanya? Hati wanita itu berkecamuk.
Dara menatap nanar pada pria yang hanya diam saja. Mana Daniel yang begitu aggressive ketika bersamanya? Mana Daniel dengan sentuhan hangatnya ketika mereka melepas rindu karena lama berpisah?
Suasana mendadak menjadi dingin dan beku.
"Katakan! Siapa wanita itu?" Dara menutup matanya. Wanita itu memejamkan mata sejenak. Mencoba berpikir dan mencerna, apa yang membuat sikap Daniel berubah? Bahkan pertemuan terakhir mereka berakhir dengan hangat dan panas.
"Tenanglah!" Daniel mencoba menenangkan Dara, ia merasa Dara akan meluapkan emosinya.
"Bagaimana aku bisa tenang? Kamu sudah menghianatiku!" teriak Dara lantang. Wanita yang selalu menjaga sikapnya itu mendadak jadi lebih emosional. Insting sebagai seorang wanita sangatlah tajam, Dara yakin sekali bahwa Daniel sudah menduakan cintanya.
"Dengarkan aku dulu!"
"Siapa wanita itu? Katakan!" Dara masih menuntut, siapa gerangan yang berani membuat Daniel berubah.
"Ra!"
"Kamu jahat!" Dara yang semula mengebu, kini merosot. Wanita itu malah menangis, ia tidak menyangka Daniel tidak setia.
"Maaf, Ra!" Daniel ingin menenangkan Dara dengan menyentuh wanita tersebut. Tapi dengan gerakan cepat, Dara menepis tangan Daniel.
"Don't touch me!" Dara mengusap wajahnya, menghapus pipinya yang basah. Ia marah, benci dan kecewa. Hanya tatapan penuh benci yang kini tersisa.
Sedangkan Daniel, pria itu memilih menarik diri, sepertinya Dara sudah menyadarinya. Bahwa perasaannya telah memudar untuk Dara.
__ADS_1
Benci karena Daniel malah tidak mengatakan yang sebenarnya, Dara pun langsung berdiri. Wanita itu memilih pergi meninggalkan Daniel yang tertegun sendirian di ruang tamu. Wanita tersebut kini mengurung diri di dalam kamar.
Beberapa saat kemudian.
Tok tok tok
"Dara ... aku pulang!" ucap Daniel ragu.
PRANGGG
Terdengar suara benda pecah dari dalam kamar. Daniel tahu, kekasihnya itu pasti sedang marah padanya.
"Ra ... buka pintunya!" bujuk Daniel.
"Pergi!" teriak Dara dari dalam kamar. Kamar yang semula rapi dan mewah kini seperti kapal pecah. Semua barang-barang tumpang tindih berserakan. Sedangkan Daniel tetap menunggu di depan kamar, ia cemas pada wanita tersebut. Daniel baru bisa tenang kalau sudah melihat kondisi Dara sekarang. Ia tidak mau, Dara nekad. Seperti beberapa tahun silam.
Dara yang terlihat bersinar, percaya diri, sosok mandiri, cerdas dan inspiring. Nyatanya pernah berada pada titik paling rendah dan terpuruk. Wanita itu pernah mencoba memotong urat nadinya karena sesuatu hal. Daniel tidak mau, karena dirinya Dara mengulang kejadian di masa lalu.
"Bi ... tolong buka pintu kamar Dara pakai kunci cadangan. Saya takut, sesuatu yang buruk terjadi."
KLEK
"Dara!"
Daniel terbelalak, menatap kamar Dara yang bagai habis terkena gempa tectonic berskala besar, hancur berantakan.
"Maafkan aku, Dara. Aku terpaksa ... aku bentar-bentar harus melakukannya!" terang Daniel dengan berat hati, ia mau mengatakan kalau sudah menikah, tapi urung. Nanti malah Dara lepas kendali.
Dara menatap benci, ia kembali menengak minuman haram itu langsung dari botol. Kesal, benci dan kecewa, membuat Dara ingin mabuk saja. Barangkali semua sakit hatinya langsung hilang dan tidak bersisa.
"Buang ini!" Daniel merebut botol itu dari tangan Dara. Melempar benda itu jauh-jauh dari pacarnya itu.
"Pergi! ... Pergi! ... Kamu jahat, Kamu jahat Nielll!" isak Dara. Seperti memiliki kepribadian ganda, Dara mungkin penderita bipolar yang belum terdeteksi. Habis marah-marah, membanting semua barang, kini ia malah menangis terisak dalam pelukan Daniel.
__ADS_1
***
Tiga jam kemudian.
Dara sudah terlelap karena pengaruh obat penenang yang diberikan Daniel, wanita itu tertidur di atas ranjang. Sedangkan Daniel, ia sesekali menatap wajah Dara dan jam tangan secara bergantian. Beberapa menit yang lalu Dea sudah mengirimkan pesan singkat. Sesuai janji, harusnya ia menjemput istrinya.
Drettt, drettt, drettt.
Ponsel Daniel bergetar, pasti dari Dea. Ingin menjawab panggilan masuk, Daniel pun menjauh. Ia memilih menjawab telpon di luar kamar. Takut mengusik tidur Dara.
"Iya."
"Sebentar lagi selesai nih. Aku nggak mau jamuran karena nunggu lama. Perut aku juga masih sakit. Dan itu juga .... Cepat ke sini. Pokoknya aku nggak mau nunggu lama-lama!"
Daniel menoleh, ia menatap pintu kamar Dara. Bimbang, antara pergi atau tidak?
***
Kampus Biru
"Belum dijemput, Non?" tanya penjaga gerbang yang memperhatikan Dea. Dari tadi dilihatnya mahasisi tersebut clingak-clinguk menanti jemputan.
Dea hanya tersenyum tipis, tapi mulutnya sudah komat-kamit. Ia merutuki Daniel yang membuatnya menunggu lama. Sudah hampir satu jam, pria itu tak kunjung tiba.
"Apa macet, ya?" batin Dea mencoba berpikir positive.
Tidak berselang lama, sebuah mobil hitam berhenti tepat di samping Dea. Wajah Dea langsung masam ketika melihat siapa yang datang.
"Awas kamu!" Bersambung.
Siapa yang jemput Dea? Kok Dea jadi masam begitu?
Kenalan sama penulis ya, yang udah kenal... ya udin. Hihihihi
__ADS_1
Instagram : Sept_September2020