
Dea I Love You
Bagian 22
Oleh Sept
Rate 18 +
Suasana dalam kamar mandi menjadi beku sesaat setelah ucapan Daniel. Dea mematung, ia bergidik ngeri. Untuk apa Daniel memintanya tidur di kamar pria tersebut? Apa Daniel salah makan obat? Sejak kapan pria itu ingin dekat-dekat dengannya? Bukankah ia bukan tipe Daniel? Apa pria itu lagi putus cinta dengan kekasihnya yang cantik dan aduhai itu? Enak saja, masa mau jadi pelarian. Dea jelas tidak terima. Gadis itu berjibaku dengan pikirannya sendiri.
Begitu banyak pertanyaan mengelayut di benak Dea, gadis muda itu masih tak habis pikir bagaimana bisa Daniel memintanya tidur bersama? Mungkin Daniel lagi kerasukan hantu piktor.
Dea memejamkan mata sejenak, kemudian kembali membuka pintu. Ia anggap ucapan Daniel bagai angin, hanya numpang lewat.
KLEK
Melihat Dea seperti tidak mengindahkan kata-katanya, Danil kembali bercuap.
"Aku serius!" ucapnya memecah keheningan.
Dea menoleh, "Ini tidak lucu!"
Gadis itu kemudian menuju kamarnya sendiri. Sampai di dalam kamar, Dea buru-buru mengunci pintu. Kemudian mencari ganti baju, tanpa sengaja mata Dea menatap cermin di depannya.
"Dasar piktor!" maki Dea yang ia tujukan pada Daniel. "Pasti gara-gara ini!" Dea ngedumel, wajahnya berubah masam. Buru-buru ia ganti baju. Ia menduga Daniel berpikiran kotor setelah melihat baju dalamnya yang terpampang jelas karena basah kuyub.
Setelah memakai pakaian, Dea lalu mengambil jaket tebal. Hawa dingin karena hujan deras yang berganti gerimis, membuat Dea kedinginan. Apalagi setelah accident kejebur bathtub, alhasil ia memakai baju yang berlapis-lapis.
Beberapa saat kemudian, terdengar pintu kamarnya diketuk. Tidak mau Daniel mengusik malamnya, Dea pura-pura tidak mendengar. Mau sampai jamuran atau lumutan, ia tidak akan membuka pintu.
Di depan pintu, Daniel sudah berdiri menunggu Dea membuka pintu untuknya.
"Dea."
Di dalam kamarnya, Dea malah sengaja menyembunyikan diri di dalam selimut.
"Dea!"
Tok tok tok
"Aku masuk ya ..." ucap Daniel dengan suara yang sedikit keras.
"Eh!" Dea langsung bangkit, ia baru sadar bahwa Daniel pasti punya kunci cadangan. Dengan tergesa-gesa ia turun dari ranjang. Gadis itu berlari ke arah pintu untuk menahan pintu, agar Daniel tidak bisa masuk.
Klek klek klek
Daniel terlihat kesusahan membuka papan kayu besar tersebut.
"Dea!"
Pria itu terus saja memanggil Dea, sedangkan yang dipanggil, ia sedang sekuat tenaga menahan pintu agar Daniel tak masuk. Sayang, tenaga Dea jelas kalah jauh dengan pria berbadan tegap dan atletis tersebut.
BUKKK
__ADS_1
Pintu berhasil terbuka, dan Daniel langsung masuk. Betapa herannya pria tersebut ketika melihat Dea jatuh terjungkal ke belakang.
"Kamu sedang apa?"
Dea mendesis kesal sambil mengusap dahinya. Ada sedikit warna kemerahan di sana, mungkin sebentar lagi akan benjol karena terbentur pintu barusan.
"Kenapa dahimu?" Daniel membantu Dea berdiri lalu menyingkirkan tangan Dea yang memegangi dahinya. "Ya ampun ... kamu bahkan bukan anak-anak lagi, Dea. Waspadalah sedikit saja!"
Gadis itu lantas memperlihatkan wajah tidak sukanya, batin Dea merutuki sikap Daniel. Ia sampai jatuh terjungkal juga gara-gara saking waspadanya pada pria tersebut. Hingga dahinya jadi korban.
"Lain kali lebih hati-hati." Kini nada bicara Daniel sudah melemah. Bahka tangannya malah sudah mengusap bekas dahi yang kebentur tadi. Sembari meniupnya dengan lembut.
"Sudah! Tidak apa-apa." Dea melangkah mundur, terlalu dekat dengan Daniel sangat berbahaya.
"Tunggu sebentar, aku ambil salep! Sepertinya ada di laci. Coba ambil!" titahnya pada Dea.
"Nggak apa-apa!"
Karena Dea tidak beranjak, Daniel akhirnya berjalan sendiri. Membuka laci meja dekat ranjang.
"Duduk sini!" Daniel menepuk tepi ranjang di sebelahnya. "Kemari!" tambahnya Karena Dea diam saja, pria itu pun menarik lengan Dea. Memaksa Dea duduk di sampingnya. Daniel mengoles salep tipis-tipis di dahi gadis tersebut. Padahal benjol biasa, sepertinya Daniel cuma modus. Agar tidak diusir dari kamar Dea, ia mengalihkan perhatian gadis itu.
Sesaat kemudian, Dea berdiri setelah Daniel selesai mengolesi salep di dahinya.
"Mau ke mana?" cegah Daniel sembari memegangi lengan Dea.
"Mau minum," jawab Dea spontan agar segera bisa keluarga dari kamar.
Seketika itu juga Daniel melepaskan Dea. Sementara di dapur, Dea sudah ketar-ketir. Ia merasa terancam, sejak tadi sorot mata Daniel nampak tidak biasa, dan membuatnya resah. Dea yakin ada yang salah dengan suaminya itu. Gadis itu jadi takut, takut pada suaminya sendiri. Takut bila diapa-apain sama Daniel. Padahal mereka sudah menikah, tapi tetap saja. Dea merasa Daniel tidak menyukai dirinya, begitu juga sebaliknya. Jadi hal seperti itu pasti tak akan terjadi pada keduanya.
"Ambilkan juga untukku!"
Saat sedang minum, tiba-tiba terdengar suara yang membuat Dea hampir tersedak, ia terhenyak mendengar suara serak Daniel yang ada di belakangnya. Sejak kapan pria itu ada di sana? Perasaan tadi tidak ada orang, pikir Dea. Karena Daniel masih berdiri menunggu, Dea pun mengambil sebotol lagi. Mengulurkan pada Daniel, dilihatnya pria itu langsung menengak dari botol.
"Biasanya pakai gelas?" batin Dea mengamati. Tidak sengaja mata keduanya malah bertemu, ketika Dea memperhatikan pria yang berdiri di depannya itu. Hanya saling menatap, tanpa bicara, dan larut dalam heningnya suasana.
Dari kemarin Daniel sudah mewanti-wanti dirinya sendiri, untuk tidak menyentuh Dea. Ia mencoba menahan diri berkali-kali. Tapi, sepertinya tidak untuk malam ini. Dia adalah pria dewasa yang normal, punya nafsu dan juga hasrat layaknya pria pada umumnya. Tinggal satu atap dengan seorang gadis yang kini berstatus istrinya, pasti lambat laun menimbulkan getaran.
"Jangan menatapku seperti itu!" cetus Dea sambil menutupi rasa takutnya. Tatapan Daniel sangat berbeda, itu adalah tatapan orang mesum, setidaknya itu yang Dea pikirkan.
"Sudah malam, ayo tidur!"
Tidak seperti biasanya, kali ini Tom and Jerry terlihat tidak ribut. Daniel memilih berjalan mendahului Dea.
"Loh ... loh ...!" Dea terlihat panik karena Daniel malah masuk ke kamarnya. Bukannya masuk ke kamar Daniel sendiri.
"Kenapa tidur di kamarku?"
Daniel melirik sekilas kemudian berbicara, "Malam ini aku akan tidur di sini."
"Jadi ... aku tidur di sebelah?"
"Jangan pura-pura tidak mengerti, aku tahu kamu sudah paham, Dea. Apa kamu memang sengaja jual mahal?" tuduh Daniel.
__ADS_1
Apa yang Dea takutkan sepertinya akan jadi nyata, Dea rasa Daniel mau menodainya malam ini.
"Jangan katakan kita akan melakukan itu?"
"Kalau iya, kenapa?" Daniel sudah mulai jujur, tidak lagi ada yang ia tutup-tutupi. "Bukankah kita sudah menikah?" tambahnya dengan nada santai. Namun, ia sebenarnya juga grogi. Karena ini akan jadi yang pertama, sebab dengan dara paling mentok cuma cium-cium sambil raba-raba.
"Mana bisa begitu! Tidak bisa!" tolak Dea sambil menutupi dadanya. Gadis itu tidak terima bila harus melakukan itu tanpa dasar cinta. Daniel sudah merebut ciuman pertamanya, kali ini ia tak akan membiarkan pria itu mengambil keuntungan darinya lagi. Tapi apa bisa? Karena pria itu adalah suaminya yang sah. Bagaimana pun juga mereka adalah suami istri di mata hukum dan agama, menikah karena terpaksa atau tidak tetap saja apa-apa pada keduanya terhitung halal.
"Apa karena laki-laki itu?" Daniel mengira Dea masih ingin main-main, ia teringat dengan cowok yang selalu mendekati istrinya, teman kuliah Dea, si Vino.
Dea mengeryitkan dahi, apa maksud Daniel? Ia tidak mau, karena hanya ingin melakukannya atas dasar suka sama suka. Bagi Dea, hal intim semacam itu tidak mau ia lakukan dengan sembarang.
"Kenapa bawa-bawa Vino? Nggak sekalian sangkutin sama wanita tempo hari yang kamu cium di hotel?" balas Dea.
"Kenapa selalu membahas itu?" Daniel yang semula pikirannya menjurus, kini jadi bad mood.
"Harus dibahas lah, mana bisa kayak begitu? Bahkan saat itu kita baru menikah, tapi kamu malah menjamah perempuan lain. Dan perlu kamu ketahui, aku ngomong ini bukan karena aku merasa cemburu. Ini hanya tidak pantas, bagaimana kalau sampai kalian tertangkap media? Bagaimana kalau Mama Rosie dan Ayah tahu? Kamu nggak mikir perasaan mereka. Dan lagian kalau kamu mencintai perempuan itu, kenapa nggak nikahi saja dia?" cerocos Dea panjang lebar.
"Dia tidak mau menikah."
Mendengar jawaban Daniel, Dea marah plus kecewa. Ia bilang tidak cemburu, tapi sebagai istri Daniel, tetap saja ia tidak bisa menerima, melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain. Dari jawaban Daniel juga Dea menyimpulkan, sepertinya suaminya masih menyimpan rasa pada kekasihnya tersebut.
"Ya sudah, jangan mengangguku!"
"Jangan keterlaluan, apa maksudnya dengan menganggumu?"
"Jangan meminta tidur bersama!" jawab Dea lantang. Ketika mengingat Daniel yang sepertinya masih memikirkan pacarnya, membuat Dea ingin marah.
Daniel tersenyum tipis. "Kamu marah karena jealous?"
"Aku? Yang benar saja?"
"Ya, kamu cemburu."
Tidak mau mendengar kata-kata Daniel lagi, Dea memutuskan untuk tidur di luar saja. Belum sampai pintu, Daniel Langsung menyusulnya. Menghalangi Dea untuk keluar.
Spontan Dea panik, wajah mesum itu membuat Dea merasa gelisah.
"Jangan macam-macam!" Dea mundur perlahan. Tapi Daniel terus saja berjalan mendekat. Ditambah lagi pria itu malah melepas baju atasannya.
"Astaga! Bagaimana ini!" batin Dea, ia langsung memejamkan mata. Tapi mengintip sedikit barisan roti sobek di depannya. Dada bidang nan atletis itu terekspose begitu jelas.
"Tolong pakai baju lagi!" masih dengan mata tertutup.
Dea tidak menyadari, kini jarak keduanya bener-bener sudah sangat dekat. Daniel terus mendesak Dea hingga gadis itu terkunci ruang geraknya.
"Apa sudah pakai bajunya?" tanya Dea sambil mengintip lagi. Betapa paniknya Dea, ketika Daniel sudah berdiri tegap di depannya. Sangat dekat, hampir tidak ada cela.
Merasa terpojok, reflect Dea meletakan tangannya ke dada Daniel. Berniat mendorong tubuh suaminya. Sayang, bukannya mendorong Daniel, gadis itu malah tertegun dengan degup jantung Daniel yang berdetak sangat cepat.
Ia bahkan bisa merasakan napas Daniel yang memburu. "Ya Tuhan, apa yang pria ini pikirkan?" gumam Dea, masih dengan tangan yang menyentuh dada bidang tersebut.
Perlahan tapi pasti, Daniel nampak menurunkan wajahnya.
__ADS_1
"Jangan tutup mata! Jangan!" teriak Dea dalam hati. Tapi matanya malah langsung tertutup ketika bibirnya merasakan sesuatu yang dingin. Sesuatu yang membuat wajahnya terasa panas ketika Daniel mulai menciumnya dengan hangat dan dalam.
Dea mulanya ingin menolak dan meronta. Namun, kakinya kini justru terasa lemas. Tubuhnya meremang, Daniel membuatnya tak berkutik ketika tangan pria itu menjamah dan menyusuri lekut tubuhnya. Bersambung.