Dea I Love You

Dea I Love You
I Wanna Kiss You


__ADS_3

Dea I Love You


Bagian 38


Oleh Sept


Rate 18 +


Rumah yang dulu selalu terlihat sepi, kini benar-benar terasa semakin sunyi. Sesekali terdengar suara isak tangis, kedua mata Dea sudah sembab. Lengkap sudah penderitaan wanita muda itu, sejak bayi tidak mengenal sosok Ibu. Sekarang, Ayah satu-satunya orang tua yang ia miliki, harus pergi pula menyusul ibunya.


Dea masih menangis, meninggalkan jejak pilu yang tak berujung. Baru ia seka, kemudian kembali basah. Pipinya tak pernah kering, bulir bening senantiasa mendesak keluar dari matanya yang sudah bengkak.


"Non Dea harus kuat!" Bibi mendekat, ia memeluk anak yang ia rawat dari kecil itu. Sebuah pelukan hangat untuk membuat Dea lebih kuat dan sabar. Kehilangan sosok Ayah, mungkin membuat wanita muda itu terguncang. Dengan penuh kasih, Bibi menepuk punggung Dea dengan lembut.


"Non, Non ... Non Dea?"


Bibi melepas pelukannya karena merasa tubuh itu melemas. Dea pingsan, Bibi tambah panik.


***


Esok harinya, di depan pagar rumah orang tua Dea nampak bendera kuning berkibar tersapu angin. Puluhan rangkaian bunga memenuhi halaman rumah itu. Kiriman dari orang-orang tanda ikut berduka cita.


Dea masih terduduk lemas, bersandar pada kepala ranjang. Sejak semalam ia hanya diam dan menangis kemudian pingsan. Entah sudah berapa kali ia kehilangan kesadarannya.


"Dea, makan ya? Mama suapin?" Mama Rosie membawa nampan berisi makanan. Hatinya ikut pilu menatap kondisi Dea yang seperti sekarang. Mama tahu, hati menantu kesayangannya itu pasti sedang hancur.


Ditambah tidak ada suami yang menemani, sejak tadi Mama melirik jam. Harusnya Daniel sudah sampai. Tapi anak itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya.


Mama Rosie kembali menatap Dea, mencoba membujuk. Mungkin kali ini Dea mau makan. Karena dari semalam Dea tidak makan apapun. Tadi malam, setelah dihubungi Bibi, Mama langsung segera ke rumah orang tuanya Dea. Ia juga shock, besannya harus pergi meninggalkan Dea seorang diri.


"Makan ya, sayang?" Mama hendak menyuapi Dea, tapi wanita muda itu terus saja menggeleng. Dea malah merosot, memilih untuk tidur dan menarik selimut.


Mama tahu, anak itu tidak tidur. Mama tahu karena suara tangisan yang menyayat hati itu kembali terdengar, sejak semalam Dea hanya menangis.


Apalagi pulang dari pemakaman, Dea seperti mayat hidup. Diajak bicara pun tidak merespon. Dea hanya menjawab pertanyaan dengan air matanya, mengangguk atau hanya menggeleng saja.


***

__ADS_1


"Kim! Bisa tidak kerja yang benar? Mengapa jadwal keberangkatan delay terlalu lama? Kamu tahu? Aku sedang buru-buru."


"Maaf, Tuan. Seluruh bandara sedang ditutup sementara. Menunggu badai salju reda. Pihak maskapai tidak ingin calon penumpang celaka. Sekali lagi maaf Tuan." Kim merasa bersalah, meskipun ini bukan salah Kim sepenuhnya. Hanya saja, ketika mendengar kabar kematian mertua sang atasan. Kim juga ikut merasa kehilangan. Ia bisa menduga bagaimana perasaan Dea, ketika kehilangan anggota keluarga, Daniel malah berada jauh darinya.


Sementara itu, Daniel yang mendengar penjelasan sekretarisnya, tetap tidak bisa menerima keadaan. Daniel masih nampak gusar, harusnya ia sudah pulang sejak semalam waktu mamanya menghubungi. Gara-gara badai salju dan cuaca ekstrim, ia kesulitan untuk pulang. Pria itu marah karena ketidakberdayaanya.


Ingin tahu kondisi Dea, tapi istrinya itu tidak mengangkat ponselnya. Daniel tidak tahu, ponsel Dea mati. Bukan karena sengaja tapi memang belum dicas dari semalam. Seperti cangkang kosong, Dea melamun, menangis tidak peduli pada hal lain.


***


Ini adalah piring ke sekian yang Dea tolak, Mama sampai menyerah. Wanita yang penuh kasih itu pun akhirnya memanggil dokter, dengan terpaksa Dea harus di infus. Bila tidak, tubuhnya akan lemah karena tidak ada asupan makanan sama sekali.


Malam hari, Dea sudah lelap. Mama yang juga terlihat kelelahan, akhirnya memilih tidur di sana dan menginap.


Tengah malam, bel rumah terus saja berbunyi. Para penghuni sudah terlelap. Dea yang memang mengalami insomnia semenjak ayahnya tiada, mulai terusik dengan suara bel rumahnya.


Pukul satu dini hari, siapa yang datang? Tidak mungkin arwah sang Ayah memencet bel rumahnya. Dengan langkah gontai, Dea berjalan ke depan, tentunya sambil menyeret tiang infus.


KLEK


"Maafkan aku!" ucap Daniel yang bisa merasakan tubuh Dea bergetar karena isak tangis.


Mama yang mendengar ada suara di luar, ingin melihat ada apa. Saat matanya menangkap pemandangan itu, Mama kembali masuk kamar. Biar Daniel yang menenangkan hati istrinya. Barangkali Daniel satu-satunya yang bisa menghibur kesedihan menantunya itu.


Setelah Dea sudah lebih tenang, Daniel mengambil alih membawa tiang infus. Ia sedikit mengomel, mengapa istrinya itu sampai harus di infus.


"Makan yang banyak, kamu butuh tenaga, kamu masih muda ... Ayah pasti sedih menatapmu seperti ini."


Mendengar kata-kata Daniel, Dea memalingkan wajah. Karena Daniel sudah pulang, ia sepertinya ingin tidur. Rasa kantuk tiba-tiba menyeruak. Mungkin wanita muda itu sedikit tenang karena ada Daniel di sisinya. Apalagi tangan Daniel terus saja mengengam tangannya. Pria yang biasanya menyebalkan itu kini bersikap lembut padanya. Membuat Dea tenang dan beberapa saat kemudian sudah terlelap.


Daniel pun sama, karena merasa lelah setelah perjalanan. Pria itu pun menyusul Dea ke alam mimpi.


***


Matahari muncul dengan malu-malu, tertutup awan disertai kabut. Pagi yang dingin, membuat Daniel merapatkan pelukannya pada guling yang bisa kentut.


Dua orang itu asik tidur, tanpa sadar jadi perhatian sang Mama. Bibir Mama mengumbar senyum penuh kelegaan, ketika melihat kehangatan anak dan menantunya. Mama pikir akan sulit menyatukan Daniel yang memiliki karakter buruk itu dengan Dea. Tapi pilihan Mama seperti tidak salah. Tidak mau menganggu, Mama kembali keluar dari kamar yang tidak terkunci itu.

__ADS_1


Klek


Suara pintu tertutup, mendengar suara pintu Daniel pun mengerjap. Pria itu perlahan membuka mata. Dilihatnya Dea masih lelap. Anak nakal dan suka membantahnya itu terlihat manis ketika diam seperti ini.


Daniel terus saja mengamati wajah istrinya, memperhatikan bulu mata yang mulai lentik itu. Tanpa sadar ia malah tersenyum tipis. Wanita yang ia katai di bawah standard SNI itu, mengapa sangat menarik?


Alisnya yang tebal dan rapi, hidungnya yang minimalist, bibirnya yang mungil, Daniel tambah menelan ludah. Ya, ketika matanya menatap wajah Dea, fokusnya malah hanya terpusat pada bibir kecil itu.


Nalurinya sebagai lelaki, menyuruh ia segera mencium putri tidur tersebut. Dea pasti tidak akan bangun dengan satu kecupan, anak itu kan ngebo banget pikir Daniel. Dengan hati berdebar karena takut ketahuan, ia mendekatkan wajahnya perlahan.


Daniel kurang perhitungan, ketika wajahnya semakin dekat. Dea justru membuka matanya lebar-lebar. Hembusan napas yang menerpa wajah Dea terasa hangat, membuat wanita itu langsung terbangun.


Spontan Dea langsung membekap mulutnya dengan tangan, dari kemarin belum gosok gigi. Dea nggak mau dicium saat ini.


Daniel bersikap biasa, ia malah meneruskan aksinya. Tetap memajukan bibirnya. Mencium punggung tangan Dea yang menutupi bibirnya.


"Cepat gosok gigi! Ada yang ingin aku lakukan!" bisik Daniel.


Seketika itu juga, Dea menendang Daniel dengan sebelah kakinya.


Daniel langsung tumbang, pria itu meringis dalam kesakitan, "Dea!!! Bisa pecah telurnya!" Daniel meringkuk menahan sakit. Bersambung.


Sambil nunggu up, baca juga :


Istri Gelap Presdir - Tamat


Rahim Bayaran - Tamat


Kesetiaan Cinta - Tamat


Jerat Cinta Tuan Muda - on going


Instagram : Sept_September2020


Fb : Sept September


Terima kasih, lope lope.

__ADS_1


__ADS_2