
Dea I Love You
Bagian 35
Oleh Sept
Rate 18 +
Sebenarnya siapa yang ada di hati Daniel saat ini? Bila itu adalah Dara, Mengapa saat bersama Dea, ia mulai lupa pada kekasihnya itu? Dan bila itu adalah Dea, mengapa ia masih saja peduli dengan Dara? Daniel ragu pada hatinya yang kini menjadi abu-abu. Dea apa Dara? Istri atau pacar?
Drettt drettt drettt
Smartphone milik Daniel kembali bergetar, dan Dea menebak itu pasti dari pacar suaminya. Kecewa tapi nggak bisa kabur karena pintu dikunci, akhirnya Dea masuk kamar lagi. Tentunya dengan hati yang bergemuru, mau meledek tapi tertahan.
Sementara itu, Daniel meremas ponsel di tangannya, kemudian menjawab panggilan masuk yang sudah bolak-balik memanggil.
"Tuan, Nona Dara memanggil nama Tuan terus. Sekarang Nona sedang diberi obat penenang oleh dokter. Nona terus saja mencari Tuan, bagaimana ini Tuan?" suara Bibi terdengar panik. Mungkin karena tidak ada keluarga Dara di sana.
Daniel tambah galau. Pria itu terlihat berpikir, langka apa yang akan ia ambil. Kalau pergi ke Dara, bisa-bisa ia akan kehilangan Dea selamanya. Istri kecilnya itu, sudah menunjukkan kemarahan yang belum Daniel lihat selama ini.
"Hallo ... Tuan, hallo?"
"Ya!"
"Tuan bisa ke sini sekarang? Saya bingung Tuan."
Daniel menghela napas panjang.
Setelah sambungan telpon putus, Bibi menatap ke atas ranjang. Dilihatnya Nona mudanya. Dara adalah wanita yang mandiri, selama ini semua keputusan ia ambil sendiri. Sanak saudara dan kerabat ada di pulau Sulawesi.
Bibi bingung, Dara meminta hanya menghubungi Daniel saja. Tidak boleh orang-orang tahu. Pokoknya ia ingin Daniel.
"Bagaimana, Bik? Apa dia mau ke sini? tanya Dara. Wanita itu terlihat segar bugar. Ia sedang pura-pura sakit agar Daniel segera menemui dirinya.
Bibi mengangguk pelan.
"Makasih, Bik. Nanti aku kasih bonus ke Bibi."
Yakin Daniel akan segera datang, buru-buru Dara mengambil bedak. Ia mencoret-coret wajahnya agar terlihat agak pucat.
"Udah, Bibi boleh pulang."
"Tapi Non?"
"Pulang aja, bentar lagi Daniel datang. Bibi nggak usah khawatir."
Bibi yang setia itu pun akhirnya undur diri.
***
Apartment Daniel.
KLEK
Dea langsung membuka pintu kamar ketika terdengar pintu dibuka. Wanita muda itu langsung berlari ke kamar sebelah, kosong. Hati Dea seperti ditusuk-tusuk, sakit tak berdarah.
Kakinya perlahan lemas, ia merosot di depan kamar Daniel.
Beberapa menit Dea duduk di lantai, terdiam dengan pipi yang basah. Dea kecewa, hatinya sudah patah. Daniel benar-benar tidak memikirkan perasaannya.
Tidak bisa keluar karena pintu dikunci dari luar, Dea kini hanya bisa merenungi nasib di dalam penjara berbentuk apartment tersebut.
Ingin mengeluarkan segala kekecewaan di dalam hati, Dea menghubungi sahabat baiknya.
__ADS_1
"Mitiii ...!"
Srotttt
Terdengar Dea menyusut hidung, dan Metty paham bahwa temannya sedang menangis.
"Dea ... De ... lo nggak apa-apa, kan?"
"Gue nggak kuat Mittt!" isak Dea.
"Oh my God, Dea ... nyebut Dea ... nyebut!" Metty panik.
"Nyesek banget Mitt, kenapa gue bodoh banget Mitt?" masih dengan terisak.
"Tenang, tenang! Kirim alamat elo, gue ke sana sekarang."
"Percuma! Pintu dikunci dari luar, gue gak bisa buka pintu. Pria itu sekarang ketemuan sama pacarnya. Mitiii ... ati gue sakit Mitt!"
"Sialan tuh orang!" maki Metty. "Gue hubungi pemadam kebakaran ya! Biar dobrak pintu rumah loh!"
"Jangan gila lo Mitt!" Bibir Dea sedikit ketarik ke atas, menahan senyum. Di saat pilu kayak begini, ada aja ide gila Metty.
"Terus gue harus gimana? Kabur lewat jendela?"
"Tinggi Mitt, gue masih pingin idup."
"Ish, sudah ... sudah. Kirim alamatnya sekarang. Masalah buka pintu pikir nanti."
"Makasi ya Mit, lo emang best friend gue."
"Hem ...!"
Kediaman Metty, ketika Metty mau keluar, Bibi di rumahnya bertanya. "Mau ke mana Non, malam malam begini?"
Bibi manggut-manggut, "Hati-hati, Non!"
"Iya, Bik!"
Mbremm
Metty langsung menyalakan mesin mobil, ia bergegas ke apartment tempat tinggal Dea sekarang.
"Gile bener, anak itu tinggal di apartemen mewah. Banyak tetangga artis sepertinya," gumam Metty sambil mengamati GPS di depannya.
***
Rumah sakit
Daniel terlihat berat saat akan membuka pintu kamar Dara, ada keraguan yang tergambar jelas.
KLEK
"Sayang!" panggil Dara dengan suara yang lirih dan dibuat lemah sedemikian rupa.
Daniel kemudian mendekat, "Apa kamu baik-baik saja?"
Dara menggeleng. Tidak mungkin baik-baik saja ketika kekasih yang selama ini saling mencintai mendadak berpaling ke yang lain. Dara tidak baik-baik saja, jiwanya terguncang dan hatinya kacau.
"Dara ...!"
"Iya sayang."
"Maafkan aku."
__ADS_1
"Jangan katakan apapun!" Dara langsung menutup telinga dengan tangan, kata maaf dari Daniel seperti pertanda minta putus. Tidak boleh, Daniel adalah miliknya.
Melihat reaksi Dara, Daniel mengusap wajahnya dengan kasar.
Drettt drettt drettt
Ketika bingung mau memutuskan Dara, pihak keamanan apartment malah menghubungi. Daniel langsung beranjak dari duduknya. Ia sedikit menjauh untuk bicara di telpon.
"Ada apa, Pak?"
"Maaf Tuan Daniel, sesuai perintah Tuan Daniel. Bila ada sesuatu di apartment, saya harus menghubungi Tuan."
"Iya, terus?"
"Ada wanita muda yang memaksa masuk ke apartment Tuan, katanya ada wanita yang terjebak di dalam sana."
"Tahan semuanya, Pak! Jangan biarkan mereka lolos!"
Setelah mematikan ponsel, Daniel kemudian berbalik dan mendekati Dara.
"Aku balik dulu!"
"Nggak!" Dara memeluk lengan Daniel dengan kuat.
"Dara! Tolong mengertilah."
"NO!"
Dengan paksa Daniel melepas jeratan tangan Dara. Ia sedang terburu-buru sebelum Dea lepas.
"Daniel ... DANIEL!" teriak Dara yang melihat Daniel hilang di balik pintu. Wanita itu menjerit, membuat beberapa suster datang ke kamarnya.
Di dalam mobil sport miliknya, Daniel mencengkram kemudinya dengan erat. Ada rasa kesal, cemas dan marah.
***
Pos keamanan.
Begitu Daniel muncul, Dea langsung menyerang pria itu. Ia memukul dada bidang tersebut. Bertubi-tubi tanpa henti, mendorong dan memukulnya secara bersamaan. Ada marah, cemburu, benci, sakit hati jadi satu.
Sedangkan Daniel, ia tidak menghindar. Pria itu membiarkan Dea melepaskan kemarahannya. Membiarkan Dara mengeluarkan semua emosinya.
Metty dan petugas keamanan, hanya menatap pasutri yang bertengar itu. Pertengkaran yang entahlah. Karena detik berikutnya, mereka meninggalkan pos keamanan. Memberikan ruang dan waktu bagi Daniel dan Dea menyelesaikan masalah rumah tangga mereka.
"Kalau pilih dia, tolong jangan tahan aku. Biarkan aku pergi, kamu bisa bahagia bersamanya." Dea sudah tidak memukuli dada kotak-kotak itu. Ia sudah lelah, hati Dea sudah kehabisan energy untuk membenci suaminya.
Melihat Dea yang biasanya menyalak padanya, Dea yang bandel selalu membantah. Sangat berbading terbalik dengan Dea yang sekarang. Wanita muda itu kini tertunduk lesu setelah puas memukuli tubuhnya.
"Kenapa berhenti? Pukul sampai kamu puas."
Dea mendongak, ditatapnya sorot mata yang terlihat berbeda. Kemudian ia mendorong tubuh Daniel. Dea tidak mau terlena dengan sorot mata yang penuh tipu-tipu tersebut.
Tidak mau terjebak dan merasakan sakit sendiri, Dea memilih mundur teratur. Ia menyerah pada perjodohan ini.
"Mitt, gue ikut pulang!" ucap Dea saat keluar dari pos keamanan.
"Kamu pulang saja, saya harap hal ini tidak terulang. Kamu bisa saya tuntut!" potong Daniel yang muncul dari balik tubuh Dea.
Baik Metty dan Dea langsung melotot ke arah Daniel. Pria menyebalkan! rutuk dua orang tersebut bersamaan.
"Dan untuk Bapak, terima kasih kerja samanya." Daniel mengucapkan terima kasih pada petugas keamanan.
"Mitt ... gue ikut!"
__ADS_1
Metty melirik ke arah Daniel, "Gue nggak mau dipenjara!" ucap Metty yang tak lagi setia kawan. Bersambung.